
Di dalam mobil, di jok belakang yang tertutup sekat, Johan menarik tubuh Karunia mendekat padanya.
"Apa sakit?" tangan Johan terulur mengusap pipi Niah yang merah bekas tamparan Dewi.
Karunia menggeleng, merasa nyaman pipinya diusap Johan.
"Ini merah, kamu bilang tidak sakit. Apa kamu sudah biasa ditampar jadi sudah kebal." Johan nada sinis.
Karunia kembali menggeleng. "Mau nangis, nangis aja. Jangan ditahan, bukankah aku ini ayahmu." ujar Johan.
Mata Karunia membulat besar. "Apa Tuan mengakui nya?" tanya nya.
"Hm, bagiamana lagi sampel test membuktikan nya." jawab Johan.
"Tapi tadi Tuan bilang...Itu cd bisa saja salah." lanjut Karunia dalam hati.
"Kenapa kamu berpikiran aku ayahmu, sampai sampai melakukan test DNA." tanya Johan.
"Mendiang ayah dan ibu selalu bertengkar menyebut nama Tuan. Karena aku golongan darah AB sementara ayah A ibu O. Jadi ayah bilang aku bukan darah dagingnya, memangnya Tuan golongan darah apa?" tanya Karunia.
Gleg, Johan menelan ludah.
Jangan jangan benar lagi Niah putriku, aku juga kan AB. Tapi aku gak ingat pernah melakukan hubungan dengan ibu Niah, wanita pertama yang aku gauli kalau tidak salah teman kuliah waktu di London. Ah, bagaimana bisa...
Dalam hati Johan seketika gelisah, "Tuan." panggil Karunia.
"Sebentar Niah." Johan membuka sekat.
"Devan, aku ingin bicara dengan mu. Pinggirkan mobil!" titah Johan.
Devan bingung, namun begitu dia berhenti di sisi jalan yang lebar lalu mengikuti Johan keluar dari mobil sementara Karunia menunggu di dalam.
"Arghhh!" johan menendang ban mobilnya kesal.
"Ada apa Johan?" tanya Devan.
"Aku tidak tau, apa mungkin aku ini ayah biologis Niah yang sesungguhnya." desah Johan.
"Kenapa kamu berpikir Begitu?"
"Golongan darah Niah, sama denganku AB."
"Apa golongan darah ibunya?" tanya Devan.
"O." jawab Johan.
__ADS_1
"Tapi setahu ku, Orang tua golongan darah AB dan O, anak nya kalau bukan A ya B. Bukan AB." jelas Devan.
"Begitu?"
"Hm." Devan mengangguk.
"Untuk menghasilkan anak golongan darah AB, pasangan kamu setidaknya A atau B." jelas Devan lagi.
"Huh!" Johan menghembus nafas lega tapi belum sepenuhnya.
"Kenapa? Kamu gak berani test ulang DNA dengan darah, karena takut dengan kenyataan kalau ternyata Niah benar benar anak kamu?" sinis Devan.
"Hm." angguk Johan.
Cis, dengus Devan.
"Ayahnya A, ibunya O, bagaiman Niah bisa dapat AB?"
Tanya Johan, Devan mengangkat bahu. "Kemungkinan ada pria lain selain ayahnya dan kamu." jelas Devan.
Astaga, Johan menepuk jidat.
"Bagaimana kalau Dewi menyadari tentang golongan darah, ah! Aku yang memalsukan hasil test, takutnya Dewi menyalahkan Karunia." keluh Johan.
"Sudah pasti itu, apa kamu tidak lihat tadi Niah ditampar!" ketus Devan.
"Maksud kamu?" tanya Devan.
"Aku akan bertanya langsung padanya." ujar Johan masuk kembali ke mobil duduk di samping Niah. Devan masuk di bangku kemudi.
"Niah." panggil Johan.
"Iya, Tuan."
"Kamu yakin golongan darah ibu kamu O?" tanya Johan.
"Kenapa?" tanya Niah.
"Kalau merujuk pada hasil test, seharusnya ibu kamu yang A, ayah kamu O. Karana aku golongan darah AB, kita sama sama AB, apa kamu mengerti?" tanya johan.
Niah menggeleng.
"Niah sayang, orang Tua yang golongan darah sama dengan anaknya AB, salah satu harus A atau B, bukan O. Jadi karena aku ayah biologis kamu AB, jadi ibu kamu harusnya A, agar sesuai dengan test DNA."
Jelas Johan, Niah Semakin bingung.
__ADS_1
"Gini saja, siapa pun yang nanya golongan darah ibu, kamu harus jawab A. Kita akan buat test DNA ulang, dengan golongan darah agar Dewi tidak menuntut kamu memalsukan hasil test dengan rambut yang gak jelas itu." lanjut Johan.
"Tapi Tuan, ..."
"Niah, kalau kamu bukan anak ayah kamu yang sudah meninggal itu jadi kamu anak siapa? Test menunjukkan kamu putriku, bagaimana kamu menjelaskan pada orang kalau ibu kamu O sedangkan aku AB dan kamu AB?" tanya Johan.
Apa mungkin aku yang salah dengar, batin Niah.
"Kalau kamu mau jadi anakku, ibu kamu golongan darah nya harus A. Ngerti Niah, putri ayah sayang." Johan mengusap kepala Niah, Karunia mengangguk.
"Pintar! Ayo ke rumah sakit Devan, test ulang DNA." titah Johan.
Cis, Devan mendengus.
**
Dewi di rumah menunggu dengan gelisah.
"Apa memang benar Niah anak Johan." gumam nya.
"Mbok... mbok!" panggil Dewi.
"Iya, Nya." jawab mbok Senah menghampiri Dewi.
"Mbok kan sudah lama ikut keluarga Johan. Tolong, bisa jelaskan mengenai kejadian barusan. Kenapa Karunia mengira Johan adalah ayahnya?" tanya Dewi.
"Saya juga tidak tau Nya, dulu memang ibu Karunia bekerja di kediaman orang tua, Tuan." jawab mbok Senah tertunduk, tidak bisa menutupi lagi.
"Astaga!"
Dewi menutup mulutnya tanda terkejut.
"Kalau Nyonya mau tau wajah ibunya Niah, persis gak buang dengan wajah Niah sekarang." jelas mbok Senah.
"Apa ada kemungkinan Niah itu anak Johan?"
"Saya kurang tau, Nya. Dulu Nyonya Ambar marah pada ibu Niah lalu memecat nya. Waktu saya tanya ibunya Niah kenapa dia dipecat, katanya tidak dipecat namun mengundurkan diri mau menikah dan memang benar dia menikah dengan satpam yang bekerja di rumah Tuan juga, gak lama hanya 7 bulan Karunia lahir." jelas mbok Senah.
"Jadi maksudnya yang dua bulan, Mas Johan yang depe, gitu!"
"Maaf Nya." ucap mbok Senah kembali tertunduk.
Seketika air mata Dewi jatuh tak terbendung. "Selamat tinggal mas, Johan." gumam dalam hati Dewi.
******♥️ jumpa lagi.
__ADS_1
Jangan lupa like ya guys, vote juga hadiahnya, terima kasih, 👍