
Di pintu ruangan kantor Johan.
Karunia tersenyum pada Shopie, Shopie membalas sekedar tarikan di ujung bibirnya.
Siapa gadis ini? Jangan bilang istri kontrakan yang dipilihkan Dewi untuk Johan, makanya dia membuang ku. Karena sudan dapat ganti yang muda dan segar, hah!
Desah hati Shopie, memberi jalan masuk untuk Karunia sementara ia keluar dan menutup pintu ruangan kantor Johan dengan hati dongkol.
Jadi itu yang namanya Shopie, cantik sih. Pantas saja Nyonya cemburu.
Batin Karunia menghampiri Johan ke meja kerjanya.
"Ini Tuan, ponselnya. Nyonya juga mengirimi anda puding buah mangga." Karunia meletakkan kedua jenis barang bawaan nya ke atas meja kerja Johan.
"Permisi." ucap nya berbalik badan.
"Duduklah." titah Johan bangun dari kursi kebesarannya.
Hah! Karunia menoleh. "Di rumah masih banyak kerjaan, Tuan. Saya pulang saja ya, kalau ada yang mau disampikan melalui Nyonya saja." Karunia gak perduli berjalan ke pintu.
Johan terperangah, "aku bilang duduk, duduk!" Johan suara keras, Karunia sampai terlonjak kaget.
Cis, galak amat. Amit amit punya suami kayak, lu.
Gerutu dalam hati Karunia merengut, masih berdiri mematung. Dalam hati Johan tertawa melihat ekspresi terkejut Karunia, sangat lucu dan imut.
"Ayo duduk." ujar nya suara pelan di tekan, mengerling dengan mata yang melotot menunjuk ke sofa.
Dengan memutar mata bola mata malas, Karunia menghenyakkan bokongnya di sofa panjang, Johan mengambil tempat yang sama. Mereka duduk berdekatan hanya jarak satu pantat maka tubuh mereka akan menempel.
Karunia ingin mundur, apa daya duduknya udah mentok pada pegangan tangan sofa. Dari dekat wajah Johan yang tampan bertambah tampan, tercium wangi parfum yang bisa menghipnotis kaum hawa jadi pengen rebahan di dadanya yang bidang terbungkus kemeja putih bersih, sebersih kemeja iklan sabun cuci. Harum dan mewangi.
Hai jantung, jangan melompat keluar ya. Dia ini suami orang.
"Tuan, bisa tidak pindah duduk di situ." ujar Karunia menunjuk sofa lainnya lalu membuang muka, tak kuasa menutupi rasa gugupnya ditatap Johan.
"Kenapa, apa badanku bau?" Johan pura pura mencium keteknya.
Astaga, "Bukan bau tapi bukan muhrim." jawab Karunia cepat.
Johan mendelik. "Aku suamimu, kamu istriku. Apanya yang bukan muhrim!" sergah nya.
Karunia menggigit bibirnya, "Tapi kan, hanya untuk meminjamkan rahim." tegas Karunia. Bola matanya membesar, Johan semakin terpana dengan bulu mata lentik Karunia yang panjang alami.
Ck, "Kamu sudah pernah menikah, jadi sudah tau bagaimana seorang perempuan bisa hamil."
__ADS_1
Hais, apa maunya sih Tuan, jangan bilang anda mau buat anak secara tradisional.
"Tuan, Nyonya ada mengatakan bahwa saya tidak perlu melayani anda di ranjang." suara Karunia bergetar, wajahnya memerah menahan malu.
"Lalu bagaimana kamu bisa mengandung anakku kalau tidak ada adegan ranjang." sergah Johan.
"Itu saya gak ngerti dan bukan urusan saya, permisi!"
Ujar Karunia cepat berdiri namun dengan cepat juga Johan menarik tangannya.
Sehingga Karunia terduduk di pangkuan Johan, posisi seperti bayi yang lagi menyusu pada ibunya. Karunia mendongak, Johan menunduk tatapan mereka bertemu.
Deg
Dengan dada berdebar susah payah Karunia menelan ludah, sementara Johan keluar liur melihat puding mangga di pangkuannya. Itu karena gaun Karunia warna kuning seperti puding kesukaan Johan.
"Bukankah kamu sudah pernah berhubungan intim dengan lelaki, kenapa tubuhmu segemetar ini. Jangan bilang kamu mencintai ku, karena aku gak akan percaya." Johan suara berat di wajah Karunia.
Wajah mbak Karunia nya yang dulu memang cantik, tapi Karunia yang ini lebih cantik.
Iris matanya coklat muda, mengingatkan Johan tentang matanya sendiri.
Kapan aku pernah berhubungan badan dengan lelaki.
Karunia nada memohon, menggeliat ingin bangun dari pangkuan Johan. Johan semakin menekan tubuh Karunia dalam pangkuannya, menatap nya tajam.
Alih alih melepaskan Niah, Johan menyelipkan jemarinya ke dalam bawahan gaun Karunia, pahanya tersingkap tangan Johan di dalam mengusap usap.
"Kenapa kamu jadi pembantu di rumahku?" tanya nya dengan tatapan menghunjam, tidak perduli dengan kegelisahan Karunia.
Aku akan membuat perempuan ini basah dan mendamba sentuhan ku.
Dalam hati Johan tersenyum licik.
"Saya butuh pekerjaan Tuan, agar tidak kelaparan." jawab Karunia semakin gemetar menahan sensasi aneh yang baru pertama ia rasakan.
Johan terdiam memandang Karunia dalam, heran dengan janda di pangkuan nya seolah baru pertama disentuh lelaki. Ketakutan yang benar benar alami berbeda dengan mbak Karunia nya yang dulu bahkan terang terangan berani menggoda Johan duluan.
Apa karena itu Mama mengusir nya, hah!
"Aku akan memberi kamu uang lebih banyak dari yang diberikan mantan suamimu, menurutlah padaku."
"Maksudnya?" tanya Karunia menelan ludah, gak ngerti.
"Aku ingin punya anak darimu, anak kita." tegas Johan.
__ADS_1
What!
Karunia terperangah, "Tapi Tuan, bukan begitu perjanjiannya."
"Apa mbok Senah tidak menceritakan sesuatu mengenai ibumu?" Johan balik nanya.
Mengenai ibu yang pernah bekerja di rumah mamanya Tuan Johan.
"Tidak ada Tuan." jawab Karunia berbohong.
"Tolong turunkan saya." lanjut nya mohon sambil berusaha ingin bangun dari pangkuan Johan.
Namun pria gak tau malu ini masih memeluk tubuhnya mendekatkan wajahnya ingin meraih bibir Karunia, Karunia memejamkan matanya dan mengatup bibirnya erat.
Ya Tuhan, berikan pertolongan.
Do'a dalam hati nya.
Tok tok tok.
Pintu diketuk. "Johan."
Terdengar suara panggilan Devan, Johan menarik bibirnya yang baru akan menempel, ck! Johan menghela nafas, bahkan Karunia dapat mencium aroma yang segar keluar dari mulutnya.
Pria ini sangat menggoda iman.
Dalam hati Karunia bernafas lega.
Tok tok tok.
"Johan."
Panggil Devan lagi penasaran siapa gadis yang bersama Johan, semakin penasaran kenapa pintunya dikunci.
Apalagi barusan Dewi menelpon nya, menanyakan tentang pembantu dan suaminya. Kenapa dua duanya tidak mengangkat panggilannya.
Shopie yang ditanya juga mengangkat bahunya, wajahnya kecut.
Apa aku sudah tidak dianggap teman lagi oleh si Johan, kenapa sekarang ada rahasia diantara kita.
"Johan!" panggil Devan lagi.
******♥️
Jumpa lagi, jangan lupa like ya guys, 👍
__ADS_1