
Masih di mobil.
Niah coba menghubungi Johan lagi, ternyata bukan Johan yang memutus sambungan tapi ponselnya yang lowbat.
Astaga, mana gak bawa charger lagi. Oh, syukurlah.
Dalam hati Niah terlihat ada charger gantung di dashboard, segera nge-cas hapenya.
"Niah, kamu hubungi lagi Papa kamu dong. Katakan padanya, kalau dia gak datang menemani ku, aku akan batalkan program." Shopie merengut nada mengancam.
"Papa aku, siapa?" tanya Niah, heran merasa gak punya Papa.
"Lho, bukankan kamu darah daging, Johan. Kalian melakukan tes DNA, aku tau dari Dewi." jelas Shopie.
Oh, batin Niah melongo, "belum bisa hapeku lowbat, neh lagi di cas sabarlah," ujar Niah.
Huh, "Bagaimana sih kamu! Ini tuh untuk kepentingan keluarga kamu, agar kamu segera punya adik. Kamu telpon pake Ponselku!" Shopie mengeluarkan ponselnya dari tas menyodorkan nya pada Niah.
Niah, enggan menerima, "bentar ngapa. Johan pasti datang, percaya deh!" jawab nya terus mengemudi.
"Kamu kan bisa telpon sendiri, bukankah kamu sekretarisnya merangkap istrinya." lanjut Niah lagi alasan padahal ia malas.
Tidak usah kamu suruh juga dari tadi sudah bolak balik aku telpon bahkan sudah ngirim pesan, gak dianggap.
Batin Shopie, kesal. "Awas aja kalau gak datang, aku batal gak mau program!" ketus nya mengancam.
Saat ingat sesuatu. "Kamu kenapa gak ada sopan nya sih! Masa manggil Johan cuma nama, aku gak mau ya kamu harus panggil aku Mama gini gini aku istri Papamu, ngerti kamu!"
Ketus Shopie lagi menegur Niah di pundaknya, melotot padanya melalui spion. Hm, Niah balas menatap Shopie.
Gini nih kalau pelakor naik pangkat jadi Nyonya, ngelunjak.
Batinnya, "Iya Ma..iya," jawab Niah.
Masih ada 2 kilo perjalanan menuju rumah sakit Bagus, Niah tancap gas.
__ADS_1
*
Di kediamannya, Johan menahan geram tiba tiba panggilan dengan Niah terputus.
"Awas aja, kalau ketemu aku akan pukul pantat mu Niah!" Johan menggerutu.
"Devan kita ke rumah sakit, sekarang!" titah nya keluar dari ruang kerja bergegas menuju kamarnya mau mengambil jaketnya yang panjang.
Oh, Devan melongo, menyusul Johan. "Ada apa ke rumah sakit, apa Niah dan Dewi nabrak!" gumam Devan nada khawatir.
Barusan nelpon Niah tiba tiba ngomong rumah sakit.
"Dasar, harusnya tadi aku minta dia ganti baju," lanjut Johan mengomel, sambil memilih milih di rak pakaiannya.
"Johan Niah gak kenapa napa kan?" tanya Devan menghampiri Johan, Johan gak menanggapi.
Setelah menemukan jaketnya yang kira kira nyaman dipakai Karunia. "Devan, ayo buruan!" ajak Johan, keluar dari kamarnya.
"Kemana?" tanya Devan, mencekal Johan.
"Iya, ada apa di rumah sakit. Niah gak kenapa napa kan?" tanya Devan nada serius lebih kepada khawatir.
Hais, Johan menggeleng, "Devan!" jeda.
"Aku ingatkan kau, Niah itu istriku! Kita ke rumah sakit Bagus sekarang, Shopie mulai program." Johan menyentil kening Devan, keluar buru buru dari kamarnya.
Ck, "Kamu ngasi informasinya gak lengkap!" geram Devan mengusap keningnya menyusul Johan.
"Hm, syukurlah."
*
Karunia dan Shopie sampai di rumah sakit Bagus, seketika Niah bingung melihat penampilan nya gak sesuai tempat.
Aih, gawat. "Aku gak turun ya," ujar nya pada Shopie.
__ADS_1
Ha, Shopie terperangah membelalak, kakinya yang sudah turun sebelah segera diangkat masuk kembali menutup pintu mobil.
"Ya, jangan gitu! Kamu temani aku atau nunggu Johan, neh telpon lagi Papamu." Shopie memberikan ponselnya pada Niah.
Ck, "Manja amat sih, kamu mau duit gak!" sentak Niah
"Hei, aku lakukan ini bukan semata mata karena duit. Neh aku lakukan karana mencintai Johan, tulus dari hatiku." jelas Shopie berang.
"Ayo telpon Papa Johan, nunggu apa?" seru Shopie, menyodorkan lagi ponselnya.
Ck, "Tapi apa Johan menyukai anda?" tanya Niah menyelidik, sudah sejauh mana hubungan mereka.
"Tentu saja, kalau mau bikin anak juga bisa tapi Papamu selalu menyuruh aku suntik KB enam bulan sekali. Aku bukan Dewi, mau punya anak aja sampai se-repot ini!" ketus Shopie, menyodorkan lagi ponselnya heran ngapa Niah gak mau ngambil.
Johan si cabul itu, dasar.
Batin Niah tetap belum mau ngambil ponsel Shopie. "Apa Johan yang pertama kali buat anda?" tanya Niah.
Shopie menatap Niah tersinggung, sialan dalam hatinya.
"Johan...Johan! Emang kamu anak gak ada sopan nya ya sama orang tua, nanya gituan!" Shopie sewot.
"Tentu saja asal kamu tau, aku memang banyak pacar tapi perawan aku kasih Johan. Makanya kamu harus baik baik padaku kalau aku jadi hamil dan melahirkan anak Johan, aku yakin Papamu itu akan berpaling dari Dewi tinggal aku harapan kamu!" sentak Shopie menahan grogi karena sudah berbohong.
Gak mungkin juga kan, Johan bilang ke anak ini kalau aku udah gak perawan dengannya.
Batin Shopie, menelan ludah susah payah bersikap normal.
"Pede amat, sih!" gumam Niah masih bisa didengar Shopie.
Huh, dengus Shopie. "Telpon lagi Papamu, atau kita pulang gak jadi program!" Shopie sinis buang muka.
"Ya udah, ayo aku temani." ajak Niah nekat turun dari mobil.
********♥️
__ADS_1
Hi, jumpa lagi. Jangan lupa selalu like ya guys, vote dan hadiah juga. 👍