Manisnya Madu

Manisnya Madu
125 end


__ADS_3

Nyonya Ambar kaget melihat putranya menangis di pelukan Dewi.


Apa yang telah dilakukan Dewi pada Johan, anak semata wayangku menangis setua ini umurnya. Bahkan aku tidak pernah membuat nya menangis.


"Johan! Johan!" Panggil Nyonya Ambar ingin mendekat.


Namun kedua satpam menahan Ambar pakai tongkat agar jangan mengganggu.


Johan semakin memeluk Dewi. Dewi gak tega mendorong nya, membiarkan saja dirinya dipeluk Johan.


"Tante, sebaiknya pulang saja. Perusahaan Johan baru mengalami kerugian akibat pembatalan kontrak dari pihak WJ, seharga trilyunan. Dia gak nyabu saja sudah syukur, jadi jangan menyinggung pernikahan."


Devan terpaksa memberi alasan perusahaan, walaupun sebenarnya kerugian mereka tak seberapa karena tertutupi Seroja.


Nyonya Ambar gak tenang dan merasa aneh.


Kalau hanya mengenai perusahaan tidak mungkin Johan se-cengeng ini.


"Silahkan Tante." Devan nada memohon sekalian ngusir.


Johan masih sesenggukan di bahu Dewi, hatinya sangat rindu pada istrinya itu semakin mempererat pelukannya. Benar-benar kesempatan dalam kesempitan.


Hah! Aku harus baik-baikin mas Johan agar menunjukkan di mana dia menyimpan surat nikah dan KK.


Dalam hati Dewi


Ambar menghela nafas ingin mengajak Erina agar mereka pulang saja, ternyata gadis itu sudah tidak ada.


"Erina sudah duluan masuk mobil, tante," ujar Devan melihat kebingungan tante Ambar.


"Kalau Erina sudah ngebet pengen nikah, saya mau kok gantiin Johan tapi yaitu gak ada cinta," lanjut nya.


Cis, dengus Ambar. "Nanti tante sampaikan kalau dia mau, Devan. Tolong kamu jaga Johan jangan sampai terpuruk, uang bisa dicari." Ujar Nyonya Ambar. Dengan langkah berat ia keluar dari rumah Johan, masuk ke dalam mobilnya.


Hah!


Desah Nyonya Ambar melihat keponakan cantiknya, bermuka masam. "Erina, maafkan tante sayang. Sepertinya kita datang diwaktu yang tidak tepat," Ambar menggenggam tangan Erina, gadis itu menepisnya buang muka tak mau menatap tantenya.


"Sudahlah tante, jangan paksa Erina lagi. Erina akan balik ke Singapura, lagian Erina gak suka jalanan Jkt yang semraut, hiks."

__ADS_1


Erina terisak sedih, menepuk nepuk dadanya yang sesak. Rencananya ia akan merayu Johan secara pelan-pelan tapi telah dikacaukan oleh tante Ambar yang terburu nafsu dan suka ikut campur.


"Jalan Pak!" Perintah Erina pada supir.


"Siap Non," jawab supir.


*


Di ruang tengah Johan masih terisak di pelukan Dewi.


Shopie bingung mau pulang atau mau tinggal, tak ayal dia ciut juga tadi melihat kemarahan Johan.


Mamanya aja diusir.


Dalam hati Shopie bergidik.


"Shopie, ayo aku antar ke kamarmu." Devan mengajak Shopie.


"Hm," angguk Shopie mengikuti Devan.


"Memangnya aku pembantu?" tanya Shopie heran, Devan membawa nya ke arah dapur.


"Di sini tidak ada pembantu, sementara kamu akan mengurus diri kamu sendiri sampai mbok Senah selesai cuti," jelas Devan.


Ah, "Berapa lama si mbok cuti?" tanya Shopie.


"4 bulan," jawab Devan.


"Berdo'a lah benih yang di dalam perut kamu tumbuh, agar kamu tidak jadi gelandangan dilempar keluar dari Apartemen. Jangan pikirkan yang lain apalagi jadi pelakor, ada apa-apa beri tahu aku!" Devan suara tegas.


Cis, dengus Shopie.


Setidaknya masih satu rumah dengan Johan.


*


D ruang tengah Dewi menepuk punggung Johan.


"Mas, sudahlah aktingnya. Nyonya Ambar juga sudah pulang."

__ADS_1


Ucapan Dewi membuat Johan semakin sedih.


Akting! Dewi nganggap aku hanya akting, hah!


Desah dalam hati Johan mengurai pelukannya menatap Dewi.


"Kepercayaan kamu padaku mungkin sudah luntur tapi aku akan bersabar menunggu kamu membuka hati lagi pada Mas." Johan menangkup wajah Dewi mengecup kening, kedua pipi dan hidung belum berani mengecup bibir.


Dengan mata basah dan sayu. "Maaf sayang, terpaksa aku menyembunyikan surat nikah dan KK. Aku gak mau kehilangan kamu lagi, aku tau kamu juga masih mencintai mas."


"Berikan aku kesempatan untuk menunjukkan rasa cintaku hanya pada mu. Ini adalah Badai rumah tangga sesaat, kita jangan goyah sayang. Aku akan melepas Niah bahkan Shopie, tidak ada lagi program. Walau tanpa anak mas gak masalah, hanya aku gak sanggup hidup tanpa kamu." Johan memeluk Dewi. "Kita rujuk ya sayang, please. Aku mohon,"


Air mata Johan kembali jatuh berderai, tubuhnya melorot memeluk Dewi di lututnya ia bersimpuh.


Tapi aku sudah gak mau lagi melanjutkan hidup denganmu.


Dalam hati Dewi melihat Lee berdiri di pintu mengangguk padanya, jari jempolnya ditekuk 4 jari yang kelihatan mengacung.


Andai tidak ada perjanjian antara Ayah dan Tuan Prana, tidak perlu menunggu 4 bulan.


"Hah, bagaimana ini?"


***** end.


ikuti karya kontrak lainnya.


1.



2.



3.



Thanks, 🙏.

__ADS_1


__ADS_2