Manisnya Madu

Manisnya Madu
15


__ADS_3

Dokter kandungan itu, memandang heran pada pasangan suami istri di depannya ini.


Mereka yang salah ngomong atau aku yang salah dengar, barusan mereka mengakui bahwa Karunia adalah istri Tuan Johan juga, kenapa dibuat ribet. Tapi, ya sudahlah itu urusan mereka.


Dokter bagus juga tidak mau masuk campur, dia memang mengenal Johan tapi tidak terlalu akrab. Di sekolah, siapa yang tidak kenal Johan Alamsyah, siswa populer incaran gadis gadis, sampai lulus lulusan sekolah tidak diketahui siapa pacarnya. Sehingga terdengar kabar Johan sekolah di London UK, jadilah ia tidak pernah ikut reunian.


Karunia telah selesai mengenakan pakaiannya, keluar dari ruang pemeriksaan menghampiri meja dokter. Dokter Bagus memberi nya kursi ekstra.


"Silahkan Nona." ujar Bagus masih merasa pantas mengingat usia Karunia yang masih muda dan masih perawan.


Si Johan ngapain aja, istri cakep dianggurin, dalam hatinya.


Terima kasih, dokter." ucap Karunia segan.


Saat ini semua mata tertuju padanya, seolah ia pesakitan di ruangan sidang yang sedang menunggu vonis hakim. Karunia tersenyum tawar.


"Baiklah Nona Karunia, sebelum menjalani program ada yang perlu saya konfirmasi. Diharapkan kejujuran anda."


dokter tersenyum ramah, ikutan manggil Karunia sebutan Nona. "Silahkan dokter." jawab Karunia deg degan.


Kelihatan serius sekali, batin Niah.


"Saya melihat anda belum pernah berhubungan badan sebelumnya, even dengan mantan suami anda yang pertama." jelas dokter.


Hais, jadi si dokter bisa tau walau hanya melihat doang.

__ADS_1


Karunia menelan ludah mengangguk malu. "Iya dokter, belum pernah." jawab nya menggigit bibir bawahnya, wajahnya kembang merona.


Yes, Johan bersorak dalam hati.


Hah! desah Dewi tubuhnya lemas.


Dokter memandang Johan dan Dewi bergantian sebelum melanjutkan bicaranya, "Dengan keadaan anda yang masih perawan, apakah masih mau lanjut menjalankan program?" tanya dokter pada Karunia.


"Tentu saja, memangnya tidak boleh?" Karunia balik nanya.


"Bukan tidak boleh, karena Tuan dan Nona Karunia status suami istri sah, apa tidak sebaiknya dipertimbangkan lagi untuk melakukan pembuahan secara normal." jelas dokter sedikit gak enak hati pada Dewi.


"Tidak mau!"


Jawab Karunia cepat, bahkan ditambah isyarat penolakan dengan tangannya. Mata Johan seketika terbuka lebar dan mulutnya menganga lebar tak mampu menutupi rasa terkejut nya menatap Karunia sinis.


"Hei! Apa kamu pikir aku mau, menikah dengan mu juga aku ogah kalau bukan karena Dewi istriku yang memaksa. Berani beraninya kamu menolak ku." sergah Johan nada gak senang, merasa jatuh harga diri.


Dewi mengernyit, dokter dan Bagus tersenyum mesem mendengar perkataan Johan.


Cis, ngarep! Karunia menggeleng cepat. "Bukan begitu maksudnya Tuan." sanggah nya.


"Dokter, kalau saya dan Tuan berhubungan yang lahir ya anak kami berdua. Sementara misinya adalah bagaimana anak Tuan Johan dan Nyonya Dewi bisa lahir ke dunia, kasihan Nyonya sudah tiga kali keguguran." jelas Karunia.


"Saya mah gampang dokter, masih banyak waktu membuat anak untuk diri saya sendiri. Yang penting anak Nyonya dulu usahakan." lanjut Karunia, memohon.

__ADS_1


Bisa gawat kalau aku dan Tuan disuruh buat anak secara tradisional, si cabul ini mau aja, ha! Semoga Nyonya tidak ikut mendukung.


Batin Niah, memandang kedua majikannya.


Dewi merasa tersentuh dengan jawaban Karunia, air mata yang menggenang akhirnya luruh tak terbendung.


"Sayang, kamu kenapa nangis, cup cup cup." Johan memeluk istrinya.


"Nyonya, kita lakukan saja seperti niat yang pertama, transfer embrio. Tidak masalah dengan perawan, saya ikhlas. Ya ya dokter." lanjut Karunia lagi memohon dengan kedua tangan mengatup.


Dokter tersenyum. " Iya, baiklah Nona." jawab nya.


"Hanya dengan cara itu saya mau mengandung Tuan, transfer embrio. Kalau tidak bisa ya sudah apa boleh buat, saya tidak mau dengan jalan normal ataupun inseminasi, titik!" tegas Karunia.


"Ternyata kamu banyak mengetahui hal reproduksi, Nona Karunia." ujar dokter masih dengan senyuman ramahnya lalu memandang Johan dan Dewi.


"Terserah anda berdua, kalau kedua belah pihak setuju dikemudian hari tidak akan ada tuntutan, program bisa diteruskan." jelas dokter.


"Mas, kita pulang dulu saja. Di rumah kita bicarakan lagi." tegas Dewi pada Johan, berusaha menahan tangisnya.


"Ya sudah, baiklah sayang." Johan memandang istrinya sendu, mengangguk setuju tersenyum dalam hati.


Sayang sekali perawan nya dirobek alat medis dokter, lebih baik aku yang merobek nya. Lebih enak dan bikin nagih.


****♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, jangan lupa jempolnya ya guys, 👍


__ADS_2