
Selesai sarapan Dewi membuka website. Ia akan kustum melalui online, mulai dengan menggambar pola dasar baju bagian depan.
Ponselnya berbunyi, Dewi mengerutkan dahi. Hm Damien memanggil, Dewi mengangkat panggilan.
"Hallo auntie." terdengar suara anak kecil sebelum Dewi menjawab hallo.
Elboy. Senyum Dewi melebar. "Hallo El, sudah pintar telpon auntie ya." jawab Dewi.
"Auntie , El mau jumpa auntie."
"Benarkah, kapan Elboy mau jumpa auntie?"
"Sekarang boleh ya, El demam tidak bisa pergi ke sekolah. Papa El sudah pergi kerja."
Dewi merasa lucu. Bagaimana Papanya pergi kerja sedangkan ponselnya masih ada. "El, berikan ponselnya pada Papa, auntie mau bicara."
"Nah Pa, Auntie mau bicara." suara kecil El di ujung panggilan, Dewi tertawa.
"Hallo Dewi." suara Damien.
"Wah, anak kamu pintar bohong Damien."
"Haha ha maaf, El yang minta aku mengubungi kamu Dewi."
"Benarkah, bukannya kamu modus?"
"Benar Dewi."
"Apa kamu gak kerja Damien, jam segini masih di rumah."
"Aku bisa kerja dari mana saja Dewi, ini era tekhnologi."
"Hm enak dong, mana El nya?"
"Ada tuh sama Nanny nya, kamu mau kemari Dewi?"
"Baiklah, berikan alamat kamu."
"Aku akan menjemput mu."
"Aku minta antar supirku saja Damien!" tolak Dewi.
"Hm, baiklah Dewi." ujar Damien.
Yes. "El, your auntie is coming soon."
"Yes Papa, kita akan menjemput auntie"
Hah! Damien terperangah. El juga perhatian pada Dewi, jarang jarang El mau akrab pada teman wanitanya yang lain.
"Kita tunggu saja auntie di rumah El."
"Oke , Papa."
****
Setelah menerima pesan chat Damien, Dewi meminta supirnya untuk mengantar nya ke alamat yang tertera di pesan chat. Setelah sampai Dewi tertegun melihat Mansion Damien.
Kerja apa dia, bisa hidup mewah seperti sultan, dalam hati Dewi.
__ADS_1
Dewi disambut El yang berlari kecil ke arahnya. "Auntie." kejar El memeluk di kaki Dewi.
"Elboy." Dewi menangkap Farrel yang berlari ke pelukannya, menunduk mencium ujung kepala bocah cute itu. Dewi sangat terharu dengan kehangatan El.
Dengan anak orang saja bisa begini bahagianya, pasti lebih bahagia kalau dengan anak sendiri.
Damien memandang haru, putra gantengnya bisa lengket pada Dewi padahal pada Mamanya saja dia cuek. Aneh, dalam hati Johan.
"Aku gak dipeluk neh." canda Damien.
"No Papa. you can't." ujar El.
"Cih, dasar pelit." cubit Damien di hidung El.
"Aaa." rengek El manja.
"Wah, rumah kamu gilak. Sejak kapan kamu jadi begini kaya?" tanya Dewi.
"Belum lama, sejak aku direkrut sebuah perusahaan IT. Ayo kita ke dalam." ajak Damien.
Farrel menggandeng tangan Dewi, mereka senyum-senyum seperti orang yang lagi kasmaran.
"Are you happy?" tanya Damien pada putranya.
El menunjukkan gigi kecilnya. Bocah kecil itu membawa Dewi ke kamarnya yang luas penuh dengan mainan.
"Auntie, mari main sama El!"
El menunjukkan Lego barunya yang belum terpasang semua. El anak yang pintar mencoba meniru seperti yang tertera di gambar.
Dewi bermain dengan El, hingga tak terasa waktunya makan siang.
******
Johan di acara tunangannya Bagus, tidak terlalu banyak yang diundang.
Banyak juga yang mengenal Johan. Pengusaha sukses yang sering masuk majalah bisnis, kesempatan mereka pada minta photo bersama.
Setelah acara, mereka bersama ziarah ke makam Rudy Kakak kelas Johan yang berhati mulia, tak terasa ia menitikkan air mata.
Johan memeriksa ponselnya melihat keberadaan Dewi istrinya, dahinya mengkerut melihat posisinya yang berada di sebuah kawasan elit.
Apa yang dilakukan nya di sana dan rumah elit siapa ini? Sekarang dia sudah pandai keluyuran.
Dalam hati Johan sedikit kesal. "Devan, kita pulang sekarang." perintah nya.
Bagus memandang Johan tiba tiba marah, jadi agak merinding.
Apa kena hantu kuburan, wajahnya menyeramkan dan gak sabaran.
Devan mengangguk berjalan duluan ke mobil. "Bagus, Kami pulang dulu. Terima kasih sudah membawa ku ziarah ke makam Rudy." pamit Johan.
"Ah sama sama Johan, kami juga terima kasih pada kalian sudah hadir di acara pertunangan." Ucap Bagus.
Johan menepuk pundak Bagus. "Pastikan kau menikahi putrinya ini dan menjaga nya dengan benar." nasehat Johan.
"Insha Allah, pasti." Ucap Bagus.
Kemudian Johan dan Shopie menghampiri Devan yang sudah menunggu di mobil.
__ADS_1
Sepanjang jalan Johan hanya diam, Shopie yang melihat raut wajah Johan seperti mau menelan orang hidup hidup, tidak berani bermanja-manja.
Apa gerangan yang membuat dia jadi murung gitu? batin Shopie.
Sampai di rumahnya hari sudah menjelang petang, tidak ada istri yang menyambut nya. Ini adalah yang pertama bagi Johan, Dwi tidak ada di rumah saat ia pulang.
Hati Johan nelangsa, kesepian. Ia mengambil mobil lalu pergi ke alamat yang tertera di GPS nya.
******
Di Mansion Damien, hari sudah petang. Sudah waktunya pulang, dalam hati Dewi.
Ia duduk di ruang tengah bersama El, menemani anak itu menonton film kartun kesukaan El di layar lebar.
"El, kita sudah main lama. Auntie pulang dulu ya." pamit Dewi pada Farrel yang menempel terus padanya.
"Baiklah auntie, janji ya nanti kita main lagi." ujar El.
"Iya janji." Dewi memberikan jari kelingkingnya, Elboy mengaitkan dengan kelingkingnya mereka menghampiri Johan.
"Kamu memanggilku kemari hanya untuk jadi baby sitter." sindir Dewi.
"Hehe, maaf."
Damien mendapat laporan dari Sekuriti gerbang rumah nya ada yang ingin bertemu dengan Nyonya Dewi, mengaku suaminya.
Damien menarik napas dalam kemudian membuangnya pelan. "Baik, persilahkan masuk." perintahnya.
Dewi yang memang hendak pulang, heran melihat ada mobil seperti mobil suaminya masuk pekarangan Mansion. Ternyata memang Johan.
"Mas Johan sudah pulang dari luar kota kenapa gak kabar?" tanya Dewi heran bagiamana suaminya tau ia berada di mansion Damien.
Johan sudah turun dari mobil. "Apa kamu bersenang senang?" tanya Johan sarkas.
"Iya, main bersama Elboy." unjuk Dewi pada El yang menggenggam tangan Damien erat.
"Oh ya mas, ini Damien kakak kelas aku saat sekolah menengah dia baru datang dari luar negeri." lanjut Dewi lagi memperkenalkan Damien.
Namun Johan langsung menyentak Dewi masuk ke mobil, tanpa basi basi dan sedikit kasar.
"Aaah Mas, sakit." erang Dewi merasa panas di pergelangannya.
Melihat itu Damien bereaksi. "Maaf Tuan Johan, saya bisa jelaskan tapi tolong jangan kasar pada Dewi." ujar Damien.
Namun Johan bergeming, menatap Damien tajam lalu masuk ke mobilnya. Menyetir seperti orang gila, balapan di jalanan.
"Mas, boleh pelan kan mobilnya." teriak Dewi ketakutan.
Dewi melihat supirnya yang tadi mengikuti mereka dari belakang mengebut juga. Penglihatan orang, seperti dua mobil sedang kejar kejaran.
Dewi bergidik sekaligus merasa heran, belum pernah suaminya se-marah ini.
Apa yang tejadi, apa dia kesambet setan di luar kota, gumam hati Dewi.
Sampai di rumah, Johan menghempaskan Dewi ke kasur dan menindih nya. Menuntaskan emosinya, dengan cara menggauli Dewi lagi dan lagi.
******tbc
♥️
__ADS_1