Manisnya Madu

Manisnya Madu
48


__ADS_3

Johan juga kaget melihat Dewi lunglai segera ikut mengejar menangkap kepala istrinya itu mendahului Niah.


Dengan tubuh gemetar Johan bersimpuh di lantai mengangkat Dewi yang pingsan ke pangkuannya. "Dewi, bangun sayang." panggil Johan suara bergetar, tak tau harus bagaimana.


Saat Niah keluar sengaja Devan mengikuti nya namun ia menunggu di luar kamar. Mendengar keributan Devan pun masuk, terkejut melihat Dewi terkulai di pangkuan Johan.


Melihat asistennya di depan pintu, "Devan, panggil dokter cepat!" Johan suara panik, memerintah Devan. Johan jatuh air mata, begitu juga si mbok dan Karunia ikut menangis.


Segera Devan menelpon dokter, Johan menepuk nepuk pelan wajah Dewi yang pucat seperti mayat hidup tak bermaya.


Sambil menangis si mbok mengurut di tangan Dewi begitu juga Niah mengurut di kakinya.


"Dewi bangunlah, sayang maafkan aku."


Johan memeluk dewi, wajahnya tenggelam di ceruk leher Johan. Johan menciumi wajah Dewi bertubi tubi. Bagaimana Johan tidak panik, baru kali ini Dewi pingsan selama 5 tahun menjadi istrinya.


"Devan mana dokter, kenapa lama?!" Johan membentak Devan.


"Dalam perjalanan Johan, angkatlah Dewi ke kasur." Devan memerintah Johan sama gugup dengan bosnya itu tidak tau harus bagaimana melakukan pertolongan pada orang pingsan.


Mendengar Devan, Johan mengangkat istrinya itu ke kasur membaringkan nya perlahan, Devan memberi Johan bangku agar ia bisa duduk di samping Dewi.


Dengan air mata berderai, Johan menggenggam jemari istrinya. "Sayang bangunlah, maafkan aku." ucap Johan terisak, air mata keluar ingusnya juga keluar.


Tidak berapa lama dokter datang, Pak Dadang suami mbok Senah membawa nya naik ke lantai 2 ke kamar Tuannya, terkejut melihat makanan, gelas pecah belah berserakan di lantai segera ia inisiatif membereskan nya.


Dokter memeriksa Dewi, jemarinya Mengepal kuat giginya mengatup rapat. Sebenarnya Dewi sudah sadar, namun ia enggan membuka matanya. Ada amarah terlihat di wajahnya, segera dokter memberi Dewi suntikan obat penenang seketika tubuhnya lemas begitu juga kepalan tangannya perlahan terbuka.

__ADS_1


"Bagaimana keadaan istri saya dokter?" tanya Johan.


"Nyonya butuh istirahat, ini saya resepkan obat diminum satu kali sehari pagi hari sesudah makan. Jauhkan dari hal hal yang memicu stress." jelas dokter.


Mendengar itu, perlahan Niah keluar dari ruangan menuju kamarnya. Buru buru packing baju, sedikit banyak tadi Niah mendengar bahwa Dewi tidak menyukai kehadiran nya.


Bagaimanpun aku harus pergi dari rumah ini, kerena aku lah sumber kekacauan dan pembawa mala petaka pada Dewi.


Batin Niah sambil berkemas memesan mobil online.


Aku banyak uang takut apa, kan bisa tinggal di hotel sementara malam ini.


Batin Karunia. Kira kira mobil online yang dipesan nya sudah dekat diam diam Karunia keluar dari kamar, berjalan cepat cepat hendak ke pintu gerbang.


Dokter masih di kamar Dewi, kelihatan gerbang terbuka lebar. Niah mengendap endap, suasana malam memudahkan nya sembunyi sambil menunggu mobil online yang dipesan nya.


"Iya Pak, sebentar saya keluar." jawab Niah, melihat ke satpam yang bertugas kira kira bisa lewat apa enggak.


Namun apa yang terjadi saat Niah keluar dari tempat persembunyian nya. "Mau kemana?" suara Johan berdiri di belakang Niah.


"Eh copot." Niah terlonjak kaget.


Walaupun Johan sibuk mengurus Dewi yang pingsan namun pikiran nya gak lepas dari Karunia. Istri kecilnya itu tadi sangat terkejut melihat Dewi pingsan maka saat Niah melangkah keluar dari kamarnya, Johan memerintah Pak Dadang untuk mengawasi nya.


"Tuan, biarkan saya pergi." mohon Karunia suara memelas, takut takut memandang wajah Johan yang ketat menatap tajam padanya.


Hm, "Jangan harap kamu bisa lepas dari ku." seringai Johan, menangkap tangan Niah.

__ADS_1


"Bawa koper Niah masuk, Pak." titah Johan pada Pak Dadang, seketika ia menggendong Niah seperti memanggul beras.


"Tuan turunkan aku, biarkan aku pergi!" teriak Niah memukul mukul bokong Johan dengan tas kecilnya, sepanjang jalan menuju ruang tengah.


Johan bergeming, sampai di depan kamar Pak Dadang bantu membuka pintu membawa masuk koper Niah lalu ia pun keluar.


Johan menutup pintu kamar dan mengunci nya, barulah ia menghempaskan Niah ke kasur. Johan ikut lompat menekan tubuh Niah dalam kungkungan nya.


"Tuan, biarkan aku pergi." Mohon Niah berurai air mata.


"Tidak akan, kamu istriku tidak boleh kemana mana." tegas Johan menatap wajah basah Niah lalu mencium di seluruh wajahnya sampai ke leher lehernya


Ah.


Niah mendesah, saat Johan membuat hisapan dibeberapa tempat mungkin nanti akan kelihatan bekas.


Astaga, buat silap aku datang kemari.


Batin Niah menahan dirinya agar tidak terangsang walaupun sulit karena Johan sangat mahir menyentuh titik titik kelemahan nya.


Arghh.


Desah Niah semakin frustasi saat Johan menghisap kedua gundukan di dadanya bergantian dengan tangan yang meremas remas gemas.


******♥️


Hi, terima kasih like nya ya guys. Vote dan juga hadiah. Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2