Manisnya Madu

Manisnya Madu
74


__ADS_3

"Berikan padaku, mbok." ujar Dewi pada si mbok, meraih tas bajunya dari tangan mbok Senah.


Sepertinya harus aku sendiri yang membawa nya turun.


Batin Dewi menyeret tas bajunya melewati Johan di tangga bawah, tiba tiba tangannya dicekal


Ah! pekik Dewi tubuhnya tersentak.


Johan, sekali lempar tas Dewi melayang jatuh di anak tangga tengah tengah menggelinding lagi jatuh ke bawah.


"Sudah aku bilang tinggallah disini." Johan suara ditekan di telinga Dewi.


Tak ayal Dewi merinding oleh hembusan nafas Johan. "Untuk apa, nyakit nyakitin hati." jawab nya pelan, tak mau menatap Johan.


"Kan aku sudah bilang, biar aku dan Niah yang pergi." lanjut Johan lagi masih berbisik.


"Sudah lah mas, toh kita juga su...umph!" Dewi menoleh membesarkan suaranya namun tertahan di tenggorokan, matanya melebar.


Untuk sesaat waktu terhenti, atmosfer terasa seperti di ruang hampa udara. Barusan Johan membungkam mulut Dewi menekan dengan bibirnya. Dewi kaget, begitu juga mbok Senah yang sudah turun tangga ingin meraih tas Dewi segera buang muka.


Devan yang baru bangun mau turun sarapan juga langkahnya terhenti.


Arrrgg.


"Bangun bangun lihat pemandangan ini." desahnya juga buang muka, menggusar rambutnya dengan kasar. Masih sempat melihat si mbok yang meraih tas Dewi yang segera kabur ke dapur, disambut oleh ketiga asisten baru yang cekikikan, gak berani kuat kuat.


Hanya Niah yang melotot, "Kapan lagi liat orang ciuman live, tapi barusan aku mencium bibir itu. Oh no, dasar Johan lelaki murahan, hem." umpatnya menggeram nafas kasar, mengepal tangan kesal pengen nonjok muka si Johan.


Dewi sadar dari tergamang nya mendorong Johan, tangannya terulur ingin menampar namun berhasil ditangkap Johan.


Tubuh Dewi serta merta ketarik ke arah Johan, satu tangan Johan memeluk erat di pinggangnya sehingga tubuh di bagian depan mereka menempel jadilah posisi mereka seperti hendak menari tango, cha cha cha.


Wajah Dewi merah padam, emosinya sudah sampai ke ubun ubun begitu juga Johan.


"Jangan paksa aku berbuat kasar, Dewi. Itu aku ucapkan agar kamu gak khawatir aku menyentuh mu. Lebih baik jangan ada yang tahu selain kita berdua dan setan, maka selama program tinggallah di sini." tegas Johan masih berbisik di telinga Dewi, tersenyum sinis.

__ADS_1


"Dasar brengsek kamu Johan, aku gak mau tinggal disini," teriak Dewi akhirnya, berusaha mendorong Johan.


Johan bergeming menahan tubuh Dewi di dalam pelukannya, menatap wajah Dewi yang kelihatan bersinar. Padahal Dewi gak make up, hanya serum wajah yang kebetulan ada di tas kecilnya bonus dari Nyonya Alisha waktu treatment.


Jiwa ke-laki lakian Johan seketika bereaksi bahkan Dewi dapat merasakan sesuatu yang mengeras di area perut bawahnya.


Dulu memang ia memuja nya tapi sekarang rasa ingin menendang nya. Namun belum sempat johan sudah mengangkat Dewi, menggendong nya ala bridal, ah!


"Baiklah!" teriak Dewi buru buru jangan sampai ia dibawa balik naik ke kamar.


Johan memandang Dewi, pandangan mereka bertemu. Kalau dulu ada aliran listrik tegangan tinggi memacu adrenalin Dewi, sekarang yang ada hanya api amarah yang membunuh rasa cinta di hatinya pada Johan.


"Aku bukan tawanan kamu yang harus selalu di rumah, turunkan aku mau pergi kerja." Dewi suara lemah, mengalah.


"Kerja apa, weekend?" tanya Johan gak percaya belum mau menurunkan Dewi.


"Silahkan kamu kirim mata mata, bukankah selama ini kamu membayar orang untuk mengawasi ku!" ketus Dewi.


"Kalau begitu, jangan bawa tas baju! Jam berapa pulang?" tanya Johan.


"Kamu akan diantar supir." tegas Johan menurunkan Dewi, meraih ponselnya dari saku bajunya. Jemari Dewi dalam genggaman Johan.


"Tidak perlu, aku sudah pesan mobil online." tolak Dewi menepis tangannya, membenahi dirinya.


"Sudah pergi, aku meminta sekuriti mengusir nya." Jawab Johan dengan santainya.


Dewi mendelik. "Brengsek kamu Johan! Aku gak mau diantar supir, suruh anak buahmu ngawasin dari jauh." sergah Dewi marah marah, ah bikin emosi aja.


Melihat itu, "Johan, biar aku yang antar sekalian pulang." ujar Devan turun dari tangga, agar ribut ribut cepat kelar.


Johan kaget melihat Devan. "Kapan kau datang?" tanya Nya.


Aih, "Sejak kapan kau amnesia retrograde?" ketus Devan.


"Tidak, aku kira semalam kamu pulang." jawab Johan benar benar seolah amnesia.

__ADS_1


Ck, Dewi berdecak. "Aku gak mau diantar siapapun, aku bisa nyetir." tegas Dewi, malas sama Devan jadi teringat Shopie.


"Berikan kunci mobil, aku nyetir sendiri." lanjut nya mengulur tangannya.


"Berikanlah Johan," pujuk Devan, membantu Dewi, berharap bisa mengurangi rasa benci Dewi padanya.


"Tidak bisa, harus ada seseorang yang ngantar jemput kamu." tegas Johan, menghubungi salah satu supir kantornya.


"Kemana mereka saat dibutuhkan, Devan. Besok semua potong gaji tiga puluh persen masing masing!" geram Johan tak satupun yang jawab panggilannya.


"Aku bisa."


Niah keluar dari tempat persembunyian nya, tiba tiba dengan wajah imutnya.


Johan menatap Niah, curiga. "Cuma ngantar doang setelah itu aku pulang, katanya mau ke Apart," rayu Niah mengerjab ngerjabkan matanya pada Johan.


Devan mengurut dada, ah Niah!


Dewi rasa eneg, namun begitu setelah dipikir pikir. "Oke, aku setuju dia yang ngantar." ujar nya.


Niah mengepal tangan, yes.


Johan memandang Dewi dan Niah bergantian. "Cepat pulang setelah itu ke Apart." ujar Johan pada Niah.


"Pergilah." Johan pada Dewi.


Kalau gak boleh bawa baju memangnya aku gak bisa beli.


Dalam hati Dewi, berharap semoga dimudahkan jalan keluar.


*****♥️


Hi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga.


Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2