
Di lantai dua, di dalam kamar Tuan dan Nyonya Alamsyah.
"Mas, surat perjanjian dengan Karunia kita minta lagi saja. Karena kita kan tidak jadi memakai jasanya." suara Dewi, sambil menepuk nepuk pipinya barusan dikasi serum wajah untuk malam.
"Sayang, kita masih mempunyai waktu satu tahun lagi menahan Niah di rumah ini. Apalagi kita memang membutuhkan nya untuk menggantikan si mbok selagi cuti. Biarkan saja dulu begitu, kamu urus saja si Shopie jangan sampai dia berpikir aku akan meniduri nya. Takutnya aku khilaf, mengubur nya hidup hidup!" Johan suara tegas, wajahnya merah padam.
Dewi termangu mendengar perkataan Johan.
Segitu bencinya kah Mas Johan pada Shopie? Menyesal aku tidak mendengar kata katanya, kenapa tidak memilih Shopie saja. Malah aku menikahkan Karunia, sekarang apa? Mas Johan sepertinya berat menceraikan anak itu.
Ck, "Iya Mas, tolong buatkan satu lagi surat perjanjian untuk Shopie. Kali ini Mas mau memberi nya berapa, kemaren aku janji pada Karunia 1M mas tambah lagi jadi 1.5 M."
Johan memandang Dewi. "Niah menikah kontrak 1 tahun dengan putra pengusaha malaysia dapat 3M lebih lain lagi gaji bulanan, bahkan kesuciannya masih terjaga.1.5M itu masih terbilang murah seandainya dia jadi meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak kita. Untuk Shopie, kamu samakan saja dengan Karunia." tegas Johan.
Dewi tak kuasa menahan kesal, segitu nya Johan dari tadi asik membela Karunia.
"Surat perjanjian dengan Shopie kirim lewat email saja, kamu bawa ini tablet tinggal edit nama. Kamu bisa kan?" lanjut Johan lagi.
Hm, Dewi mengangguk. "Baiklah mas, terima kasih." ucap nya lemah.
Tok tok tok. Suara pintu diketuk.
"Nyonya, ada Nona Shopie menunggu di ruang tengah." panggil mbok Senah, Dewi membuka pintu kamar.
"Iya mbok, suruh tunggu sebentar."
Jawab Dewi kembali menutup pintu kamar. Mbok Senah turun dari lantai dua setelah mengabari Dewi tentang kedatangan Shopie.
"Cepat sekali dia sampai, apa dia bisa teleportasi." gumam Dewi, masih bisa didengar Johan.
"Mas gak ikut turun?" Dewi bertanya pada Johan.
"Kamu sajalah, mas malas ketemu orang sekarang. Mas mau ke ruang kerja minta Niah buatkan teh hangat." Johan balik badan membelakangi Dewi memeluk guling.
Niah, jadi bertemu Niah gak malas
Batin Dewi gak enak hati semakin keki. Seolah ada setan yang menghasut nya membenci Karunia, tiba tiba hatinya panas dan sesak nafas.
__ADS_1
Kenapa wanita yang mau dimadu balasan nya, Syurga. Apa karena panas api neraka sudah pindah ke dada dan asapnya membuat pedih mata.
Hah! Dewi menarik nafas berat, matanya mengerjab erjab. "Baiklah mas, aku turun."
Dewi meraih tablet Johan di nakas keluar dari kamar dengan perasaan mual di perutnya.
Sikap mas Johan membuat ku mau muntah, sebaiknya aku lewat dapur. Lihat apa ada yang bisa dimakan untuk meredakan mual.
"Ehm." gumam johan udah telat keburu Dewi sudah keluar, segera ia juga bersiap mau ke ruang kerja menunggu Karunia.
Membayangkan nya saja aku sudah bergairah gak sabar ingin berdekatan. Ada apa di tubuh setan kecil itu, kenapa aku bisa tiba tiba gak ada selera bercinta dengan yang lain. Hasrat ini hanya untuk Niah.
Hah hah hah! Johan menghembuskan nafas ke telapak tangannya mencium bau mulutnya, Yeakh!
Baiklah, aku akan sikat gigi lagi demi kamu Niah.
~
Di dapur, Karunia sedang membuat jus saat mbok Senah datang menghampiri nya.
"Ngapain mbak kunti datang malam malam ya, bikin kesal." gerutu mbok Senah.
"Karena dia kalau kemari suka berlagak seperti Nyonya." jawab mbok Senah.
"Mungkin karena dia ngarep suatu hari nanti bisa jadi Nyonya rumah ini." balas Karunia.
Hm, "Sepertinya sih begitu, masa umur segitu, badan cakep wajah cakep, gak ada yang mau menikahi nya." dengus mbok Senah.
Jangan sampai itu terjadi, lebih baik aku resign kerja kalau si Shopie jadi Nyonya di rumah Tuan Johan. Pensiun jaga cucu aja di rumah, enak lagi.
"Ini jus dia yang minta?" tanya mbok Senah.
"Hm." Karunia mengangguk.
"Niah buat banyak satu teko penuh. Bibi minum juga, bagus untuk imun tubuh." jelas Karunia.
"Iya nanti bibi minum, sana cepat kamu antar ke depan." titah mbok Senah.
__ADS_1
Dewi keluar dari lorong rahasia, sedikit banyak ia mendengar pembicaraan kedua asisten rumah tangganya.
"Niah, buatkan teh hangat untuk Tuan. Antar ke ruang kerja!" titah nya.
Deg, jantung Niah berdetak
Cis alasan, semoga dia tidak nekad mengganggu aku di rumahnya sendiri. Bisa bisa aku diusir, hah!
Dewi memperhatikan raut Niah yang gelisah, semakin menyesali sikapnya yang terburu buru menikahkan Karunia dan Johan.
"Iya Nya, selesai saya antar jus ke depan." jawab Karunia.
"Hm." angguk Dewi.
Sepertinya aku nekad berlayar di lautan segitiga bermuda, apakah aku bisa melewati badai ini. Karunia jelas jelas juga takut pada Johan, ah apa yang harus aku lakukan.
~
Niah mengantarkan jus meletak nya di depan Shopie. "Mana sih, Nyonya elu. Kenapa belum turun, udah dipanggil belum." tegur Shopie.
"Kenapa anda terburu buru, tunggu sajalah. Kalau kemaleman kan paling elu juga yang disuruh nginap! Bukankah itu yang anda inginkan jadi Nyonya rumah ini." jawab Karunia ketus, pergi dari hadapan Shopie.
Sengaja, syukur syukur di dengar Nyonya.
"Hei, jangan kurang ajar kamu."
Pekik Shopie, yang bisa didengar Dewi dan Niah saat berpapasan dengan Dewi di pintu dapur, Niah tersenyum devil.
Benar juga sih dia, sepertinya nih anak lebih baik dijadikan teman daripada jadi musuh, lumayan tangguh juga. Gua yang repot ntar.
Dalam hati Shopie, gak lama Dewi muncul dari dapur.
Gleg, Shopie kaget matanya membelalak.
Apa si Dewi mendengar bocah tengil itu ngomong, barusan.
*****♥️
__ADS_1
hi readers, karena othor nulis langsung di platform suka ada koreksi, silahkan di cek ulang baca lagi, hehe maaf.
Jangan lupa like nya ya, guys 👍