
Johan menuju dapur mencari si mbok, yang ada hanya si asisten memasak sudah mulai berkutat di kompor.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu?" sapa nya saat melihat Johan.
"Masak apa itu?" tanya Johan.
"Sarapan bubur untuk Nyonya, semalam si mbok pesan agar cepat dibuat karena dari semalam Nyonya belum ada makan." jelas si asisten memasak.
Hm, "Biar nanti si mbok bangun, minta dia yang ngantar." jawab Johan.
"Baik, Tuan." ucap si asisten berbalik badan, kembali fokus memasak.
Johan ke ruang tengah hendak ke kamar Niah, ternyata pintunya dikunci. "Niah." Johan coba memanggil tanpa mengetuk, tidak ada jawaban.
"Niah, aku ada kunci duplikat jadi percuma lebih baik kamu buka sekarang." panggil Johan lagi yakin Niah sudah bangun mengingat kebiasaan Niah bangun selalu pagi.
Ck, decak Niah di dalam kamarnya mau gak mau ia terpaksa gerak ke pintu.
Cklekk.
Johan langsung mendorong Niah, mengunci pintunya.
Johan menangkup wajah Niah lalu menunduk. "Morning kiss." ujar nya, sumringah.
Karunia bibirnya merengut, Johan melihat di meja rias sudah ada teh hangat dan roti tawar coklat keju. Johan mengusap pucuk kepalanya. "Kamu sudah solat subuh, Niah?" tanya Johan, mengambil gelas teh Niah.
Karunia jengah merasa Johan seolah mencari signal apakah haidnya sudah bersih.
"Kalau mau nge-teh saya bisa buatkan, Tuan ngapa minum dari gelas saya."
"Kamu belum jawab pertanyaan ku." jawab Johan meletakkan gelas setelah meneguk isinya.
__ADS_1
"Belumlah, baru berapa hari." jawab Niah.
"Sudah seminggu, kenapa juga belum bersih?" tanya Johan menjeling nakal pada Niah, membawanya duduk di tepi tempat tidur.
"Mana seminggu, baru 4 hari. Biasanya 7 hari, ke 8 baru mandi." jelas Niah ketus menekan giginya, gerah banget ditanyain sampai detail gitu.
Hm, Johan membawa Niah ke pangkuannya sekalian mau ngerasain masih ada pembalutnya apa enggak, "Niah sayang kita ke Apart ya, hari ini pas sekali buat pindahan kan libur weekend." Johan memujuk Niah.
Hais, matilah saya bisa gagal rencanaku mau kabur.
"Bisa tidak nunggu bibi cuti tiga hari lagi." Niah memohon, Johan mengernyit.
"Aku mau ngantar bibi, ke terminal sekalian ada yang pingin aku beli di sana. Rempeyek terminal lebar dan tebal juga banyak kacangnya." lanjut Niah alasan.
Ck, "Kamu gak ada kepikiran mau kabur kan?" tanya Johan, menyelidik.
"Gimana mau kabur, bukankah Tuan ngirim mata mata buat ngawasin aku. Juga satpam selalu laporin apa aja yang aku kerjakan satu harian di rumah." sergah Niah merengut.
Johan nada sendu memujuk Niah namun tetap merahasiakan bahwa Dewi telah ditalak olehnya.
Ck, Niah berdecak gak senang namun itu kenyataannya.
"Makin lama kita disini, makin Dewi kesakitan. Kamu gak kasihan melihat Dewi bolak balik pingsan." lanjut Johan lagi.
"Kok jadi aku yang salah sih! Kenapa Tuan gak baikan aja sama Nyonya, ceraikan aku gak apa." protes Niah merajuk.
"Apa katamu!" sergah Johan suara keras mencubit pipinya, Niah sampai terjengkit kaget.
"Tidak ada kamu, aku juga sudah banyak berdosa sama Dewi." jelas Johan teringat saat ia rewind CCTV, dua kali Dewi ingin memergoki mereka. Saat itu pula Dewi mendengar dari mulutnya sendiri tentang perselingkuhannya dengan Shopie, hah!
Johan menarik nafas dalam. "Lagian Dewi sudah gak mau menerima aku." Johan suara lemah.
__ADS_1
Masak aku masih virgin dapet aki aki,
Gerutu dalam hati Niah menatap Johan memang tampan sih dan ciumannya, ah!
Ditatap Niah, tak ayal Johan salah tingkah, "Cepatlah bersih sayang, biar kamu tau betapa dahsyatnya ini." Johan geram membawa tangan Niah menyentuh Juniornya.
"Aish," desis Niah jengah mendelik pada Johan.
"Kamu gak kepingin apa ngerasain nya?"
Johan menatap sayu Niah, Niah buang muka Johan menahan nya. Meski begitu Niah menyambut bibir saat Johan mencium nya.
Aku sudah ketagihan dicium Johan, aku harap ini bukan kerena cinta.
Batin Niah mencium Johan agresif. Apalagi, Johan mengangkat Niah sambil berciuman membawa nya baring di kasur, Niah dalam kungkungan nya. Kedua anak manusia sibuk dikuasai nafsu.
*
Sementara Dewi keluar dari kamar mandi, melihat Johan tidak ada di sofa hanya ada mbok Senah tersenyum padanya.
"Nyonya." panggil si mbok. "Saya buat sarapan bubur?"
Hm, "Makasih mbok, sebentar saya berpakaian." jawab Dewi berjalan ke walk in closet mengambil mukena.
Walaupun telat ia mau solat dua rakaat. Dewi melihat ke dalam lemari, baju Johan banyak yang berkurang.
Hm, ngapain aku disini, bikin sakit hati. Aku juga butuh suasana baru, apa hak dia ngelarang aku pindah.
Dalam hati Dewi, mengangkat takbiratul ihram setelah mengenakan mukenanya. Si mbok duduk di sofa menunggu Dewi, siapa tau Nyonya butuh bantuan nya.
******♥️
__ADS_1
Hi, jangan lupa selalu like ya guys. vote dan hadiah juga, jumpa lagi. 👍