Manisnya Madu

Manisnya Madu
69


__ADS_3

Di kamar Niah, mbok Senah sedang membujuk nya agar tidak mempermasalahkan si tukang bersih bersih untuk kali ini, mengingat mereka sama sama satu kampung.


"Niah sudah maafin Bi, ya udah kalau bibi maunya begitu buat gantiin selama cuti. Toh Niah juga mau pergi, pastikan saja bibi cuti lebih awal biar Niah ada jalan kabur." jawab Niah senang si mbok sudah bersikap hangat seperti biasa.


"Makasih Niah, tiga hari lagi bapak juga sudah beli tiketnya. Abang mu Seno akan menemani Bibi." jelas si mbok.


"Hari senin, baguslah Bi." ujar Niah berbinar, itu artinya Johan sedang berada di kantor.


Seketika Niah dan mbok Senah terdiam pandang pandangan mendengar pintu rumah dibuka dan bunyi tapak kaki dari sepatu high heel yang buru buru disusul bunyi sepatu pantofel setelahnya.


Tuan dan Nyonya pulang bareng, jadi penasaran apakah mereka akan jadi bercerai.


Batin Niah sambil mengunyah kripiknya. Hah, mbok Senah di sampingnya mendesah.


"Maaf Niah, bibi banyak permintaan. Itu kayaknya Nyonya pulang." ujar si mbok, memandang Niah.


"Ya udah Bibi samperin, siapa tau dia butuh bibi." jawab Niah.


"Bukan itu,..." si mbok ragu ragu, Niah memandang si mbok. "Apa?"


"Mau gak kamu inisiatif minta maaf duluan pada Nyonya. Bagaimanapun kamu sakit hati dengan kata kata nya, gak pantas kamu menampar nya mengingat usia kamu lebih muda." lanjut si mbok hati hati.


Ck, Niah berdecak. "Bibi yakin dia mau maafin Niah." Niah alasan, keberatan.


"Pastilah, Nyonya orang baik Niah. Dia meminta ku packing baju bukan mau disumbangkan tapi ingin pergi dari rumah ini, kamu tega Nyonya keluar dari rumahnya. Bibi tau Nyonya masih mencintai Tuan makanya belum ingin menggugat nya, namun Tuan kebangetan makanya kamu yang ngalah. Ya Niah, ya.."


Mohon si mbok, kasihan dengan nasib si Nyonya yang tiba tiba sial gara gara dosa masa lalu suaminya.


"Biar saja Nyonya ninggalin Tuan, Tuan itu sudah jahat sama Nyonya pantes ditinggalkan!" Niah suara ketus, masih tetap pendirian gak ada gunanya minta maaf pada orang yang hatinya masih panas.


Yang ada, aku ikutan panas kalau dia gak maafin.


"Niah, gampang saja kamu bicara gak pake perasaan! Apa salahnya kamu bantu mereka bersatu kalau toh kamu akan pergi juga! Bagaimanapun mereka pernah saling cinta masih bisa baikan lagi." sentak si mbok marah.


Hm, susah neh nenek nenek hari gini makan cinta.


Batin Karunia. "Karena pake perasaan makanya Niah suka seandainya Nyonya tetap pendirian ninggalin Tuan, biar Tuan tau rasa. Cinta nyonya terlalu suci gak pantes buat Tuan yang otak kotor itu, bibi gak tau Shopie itu bekas selingkuhan nya Johan." sergah Niah gak tahan lagi membuka aib Tuannya.


Jawaban Niah membuat si mbok terjengkit. "Astaga, benarkah!" si mbok menutup mulutnya tanda terkejut.


"Benarlah, penderitaan Nyonya sudah double double Bi. Apa bibi mau nambah lagi, dengan membiarkan Nyonya balikan sama Tuan dan Shopie si selingkuhan itu mengandung anak mereka!" ketus Niah.

__ADS_1


Mbok Senah menggeleng. "Kamu jujur sama Bibi, apa kamu juga sudah sama Tuan?" tanya si mbok, menyatukan ujung telunjuknya.


Ya ela, sudah berapa orang yang meragukan virginitas ku.


Batin Niah, "Sumpah, Niah masih perawan Bibi!" sentak nya gak senang itukan masalah pribadi. Lagian kita suami istri sah sah aja, apa salahnya dinikmati.


Hehe, Niah terkekeh dalam hati.


*


Sementara di kamarnya.


Dewi buru buru mengambil tas baju dan kopernya yang telah disusun si mbok rapi rapi di depan kasur, membuka ponsel mencari aplikasi mobil online.


Cklekk. Pintu dibuka.


Johan berdiri di depan pintu melihat semua sudah dipersiapkan lalu berjalan menghampiri nya. Ada rasa khawatir melepaskan Dewi mengingat dia yang bawa Dewi dari London, meninggalkan orang tuanya sebagai imigran.


"Dewi jangan pergi, selama kamu masih istriku." suara Johan.


Dewi menjauh benar benar takut Johan akan menyentuh nya. "Kenapa! Kamu pingin lihat lagi aku ditampar sama anak...ah anak. Aku lupa dia istrimu, yang kau sayangi itu!" ketus Dewi.


"Dewi, aku minta maaf untuk itu tapi benar kata Niah. Kalau kamu masih mencintai ku, maka pertahankan! Rebut aku darinya, Dewi." ujar Johan lembut memelas, gak tau malu.


Dewi reflek menahan dengan tangannya. "Jangan dekati aku, dasar bagong." Dewi suara pelan, menarik nafas dalam dalam.


"Mempertahankan, ngenak ngenakin kamu! Pergi sana pada dua istrimu, bukankah kamu juga sudah halal dengan Shopie selingkuhan mu. Dulu kalian gak mikirin dosa sampai melakukan zinah." lanjut Dewi suara bergetar.


Johan memutar otaknya bagaimana agar Dewi jangan pergi dari rumah, menatap istrinya itu lekat lekat.


"Baiklah aku mau negosiasi, anggap saja mediasi." ujar Johan.


Dewi menatap tajam Johan, mencari muslihat di balik kata katanya.


"Kamu harus bekerja sama atau aku yang akan maksa kamu menuruti keinginan ku, kamu tau aku bisa melakukan nya." tegas Johan.


"Katakan!" tegas Dewi.


"Malam ini kita bercinta, kalau aku terpuaskan maka aku akan ceraikan mereka berdua sebelum pagi." ujar Johan, melempar umpan semoga Dewi masih bisa dirayu.


Hah! Dasar ndableg, sejak kapan orang ini jadi malaikat pencabut nyawa.

__ADS_1


"Tidak akan, jangan coba menyentuh ku. Aku siap dicerai sekarang, ucapkan saja talak!" tolak Dewi ingin teriak namun suaranya tercekat di tenggorokan.


"Aku tau kamu belum siap Dewi, baiklah! Lakukan satu hal untukku maka aku akan melepas mu."


"Apa, katakan?" jerit Dewi akhirnya.


"Sebagai lelaki Normal, aku punya kebutuhan. Kamu gak mau aku


menyentuh mu, terpaksa aku minta dari Niah. Dan Sumpah, aku belum menyentuh nya, Niah masih segel." Johan, membentuk jarinya tanda V.


"Bukan urusan ku." ketus Dewi.


"Sebenarnya Niah belum mau hamil sampai usia 25 tahun, ayo lanjutkan program dengan Shopie." ujar Johan alasan, semoga bisa mengulur waktu mempertahankan Dewi di dekatnya.


Ah, "Apa lidahmu bercabang, tadi bilang batal sekarang bilang lanjut." sergah Dewi.


"Aku serius kali ini, Niah gak mau hamil kamu gak mau ku sentuh. Kapan aku punya keturunan. Jadi aku sudah pikirkan, tinggallah disini dengan Shopie sampai bayi lahir biar nanti aku dan Niah yang keluar."


Johan menarik nafasnya membuang perlahan sebelum lanjut bicara. "Untuk membuktikan keseriusan ku, kita buat surat perjanjian. Agar kamu tidak takut lagi aku sentuh, terserah kamu kapan mau gugat..." Johan jeda, bertemu pandang dengan Dewi.


"Saat ini juga aku ceraikan kamu talak satu."


Ucap Johan suara pelan, tapi seperti petir menyambar di telinga Dewi, arghhh.


Akhirnya, aku mendengar juga kata keramat itu dari bibirmu.


Wajah Dewi rasa mengembang, matanya kelilipan menahan air bening yang sudah menggenang, bibinya bergetar saat mau bicara.


"Bagaimana aku akan sanggup tinggal di rumah ini dengan selingkuhan kamu dengan status sebagai mantan istrimu, apa kamu ingin membuat ku tersiksa hidup seperti di neraka. Kenapa kamu kejam padaku Johan, kenapa! Apa salahku!" jerit Dewi, berlari ke meja riasnya melempar semua apa saja yang ada di atasnya pada Johan.


Krumpiaaaang.


Semua barang berhamburan, bunyinya bahkan terdengar sampai ke tempat satpam.


Johan sampai kewalahan mau menghindar, akhirnya ia keluar memanggil sekuriti untuk berjaga di depan pintu kamar Dewi.


*******♥️


Hi hi, jangan lupa selalu like ya. 🙏


Dukung tokoh mana saja boleh, tapi dukung othor juga ya dengan Vote dan hadiah.

__ADS_1


Terima kasih jumpa lagi, 👍


__ADS_2