Manisnya Madu

Manisnya Madu
113


__ADS_3

Sore di mobil bersama Devan, Johan bolak balik mendesah. Pikirannya pada Karunia.


Haruskah aku melepaskan Niah atau aku melepaskan perusahaan. Jadi guru lebih enak, gak ada beban mental. Kumbang tidak seekor, bunga juga tidak setangkai...


Di kampus bisa cuci mata lihat mahasiswi mahasiswi cantik...ah.


"Johan, kita diundang makan di pasar Induk kampung Koneng bersama Ketua Seroja group?" Devan menatap nya dari spion, Johan balas menatap mengerut dahi.


"Hm, bukankah urusan dengan Seroja masih satu bulan lagi?" tanya Johan.


"Proyek lain, lebih ekslusif untuk tamu tamu kakap. Di dalam ruangan teaternya, Ketua Seroja akan membuat restoran berkonsep bar dan kasino."


"Jadi dia nambah restoran lagi, kamu gak bilang kita sibuk proyek dengan WJ,"


"Mereka sudah tau. Jangan khawatir Johan, aku yang akan mengurus operasional nya dan kamu cukup menuangkan ide-ide, oke." senyum Devan bangga, kinerja mereka membuahkan hasil dan dilirik perusahaan perusahaan besar.


"Hm, berani juga Seroja bersaing dengan genk Suganda,"


"Suganda sudah tobat sepertinya, dia melelang pusat hiburan karaoke nya dan Seroja membeli nya." jelas Devan.


Oh, "Benarkah, yakin tobat?"


"Suga sibuk mengurus anaknya yang terluka akibat ledakan bom di salah satu kamar hotel WJ setahun yang lalu?" jelas Devan.


"Hm, bukankah itu akibat ulah anak itu sendiri?"


"Sepertinya, Suga dan anaknya bernasib sama. Sama sama harus operasi wajah, Suga sangat menyayangi putranya dan membawanya ke thailand. Kamu tau, Ibu dari anak Suganda adalah Nyonya Olivia istri Manager Arjit,"


"Benarkah? kamu banyak tau gosip, Devan." tak ayal Johan kaget.


"Hm, bukankah tugasku perlu menyelidiki siapa yang akan jadi klien kita?"


Cis, "Kamu pantas jadi pemimpin perusahaan," desis Johan.


"Tidak! Aku lebih cocok sebagai tangan kanan, kamu." tegas Devan menekankan kata katanya, jangan sampai Johan berubah pikiran lagi pingin keluar dari perusahaan.


"Sebenarnya aku lebih tertarik jadi guru." desis Johan kangen pada masa masa waktu mengajar di universitas London. Tempat dimana Ia dan Dewi menghabiskan masa lima tahun kedekatan mereka, saat itu sangat indah dan semangat.


Sekarang hidup ku memang Jenuh, walaupun ada cinta tapi jenuh adalah masalahnya. Kehadiran Niah, membuat ku semangat namun dia pun telah pergi.


Melihat Johan. "Kamu boleh mengajar Johan, asalkan jangan meninggalkan perusahaan." suara Devan memelas penuh harap.


"Benarkah, akan aku pikirkan mencari universitas yang cocok."


"Kamu ke Pancasila saja. Kakak kelas kita Hakim Andreas jadi profesor di sana, ingat! Ada jurusan sesuai dengan kualifikasi kamu, apalagi kamu lulusan London pasti keterima," jelas Devan.


Hm, gumam Johan, "Itu sekolah Dewi,"

__ADS_1


"Cari tau kemana Dewi malam ini keluyuran, jangan sampai kambing kambing congek itu kesempatan mendekati nya," lanjut nya.


Dewi lagi, hah!


Desah Devan.


"Satu lagi, selidiki yang namanya Lee! Si bodyguard dari London itu, ada muslihat apa dia. Sepertinya dia yang menginginkan Dewi bukan si Prana." Johan geram.


"Baiklah, Bos." Devan.


*


Menjelang pulang Dewi menunggu Barus yang akan mengantar nya ke rumah besar. Pengawal pribadi Yudi itu lagi menghadap bosnya di ruangannya.


"Bicara apa sih mereka, kenapa lama." gerutu Dewi dalam hati duduk termenung di mejanya, sudah siap siap.


Minggu pulang ke rumah Johan, hah!


"Dewi, syukurlah kamu belum pulang. Kalau sudah aku rencana menjemput kamu ke rumah besar." melihat Dewi, Arjit keluar dari ruangan nya tersenyum lebar.


Dewi mengernyit. "Ada hal penting apa, Tuan?" tanya Dewi.


"Kamu ikut aku makan, malam ini. Teman kuliahku baru datang dari melbourne sendirian sementara aku akan bersama istri, tolong kamu temani, ya. Jangan khawatir orangnya baik dan tampan, kerja di kedutaan kita di sana." jelas Arjit.


Dewi melihat dirinya sendiri. Hehe, Arjit terkekeh.


"Barus, bagaimana?" tanya Dewi, menunjuk ruangan Yudi.


"Bentar aku kesana," jawab Arjit.


*


Di ruangan Yudi, Barus berdiri di hadapan bosnya.


"Bagaimana perjuangan kamu mendapatkan hati Dewi?" tanya Yudi.


"Susah bos, banyak saingan." jawab Barus lemas.


Hm, Yudi sangat ngerti apalagi hati Dewi yang baru kecewa masih tertutup sama lawan jenis.


"Berusahalah terus, jangan sampai keduluan Lee. Besok dia juga akan jadi pengganggu, tadi putraku Sabit minta permisi mau ke Mansion jumpa adiknya, Sora. Padahal sebenarnya alasan, mereka mau ngikutin kalian jalan."


Jelas Yudi agak kesal gak bisa menolak permintaan Sabit apalagi mengetahui Sabit mendukung Lee jadian dengan Dewi, hah.


Ck, decak Barus. "Dasar Lee,"


Hm, "Jangan patah semangat! Aku mendukung kamu karena aku tau untuk cinta kamu lebih tulus,"

__ADS_1


Sementara Lee ada maunya, karena harta orang tua Dewi yang akan jatuh ke tangan rentenir kalau salah strategi, hm. Dan Dewi sepertinya tidak perduli harta, semoga Barus segera bertemu jodohnya.


"Waktu kamu 4 bulan Barus untuk mengambil hati Dewi. Walaupun Lee yang ikut ke rumah Johan sebagai bodyguard Dewi. Aku akan tetap memerintahkan kamu yang ngantar jemput Dewi, kerja. Jadi kebersamaan kalian lebih banyak."


Cklekk.


"Kebersamaan siapa?" suara Arjit masuk ruangan tanpa mengetuk pintu.


Hm, "Ada apa Manager?" tanya Yudi jutek. Saat membaca Arjit seketika mendesah, hah!


"Yudi, aku mau bawa Dewi makan malam ini ke Seroja restoran. Temanku datang dari Melbourne dan aku ingin menjodohkan nya dengan Dewi,"


"Hahaha," Yudi tertawa pelan. Hah, desah Barus hampir menangis.


Mendengar desahan Barus, Arjit kasihan. "Kamu boleh istirahat Barus, kelihatannya kamu sangat lelah, biar nanti temanku yang mengantar Dewi pulang ke rumah besar."


"Manager, apa anda tidak tau kalau Barus menyukai Dewi dan aku mendukung nya." ujar Yudi.


Arjit melongo. "Oh, aku tidak tau. Tapi aku sudah janji dan sudah mengirimkan photo Dewi pada temanku. Temanku itu menyukai nya dan gak sabar mau berjumpa." jelas Arjit, gak enak hati pada Barus.


"Jadi maaf Barus, aku tidak bisa batalkan. Kamu sih gak bilang padaku, perempuan di komplek rumah ku banyak nanti aku kenalkan pada kamu. Sudah tenang saja gak usah sedih gitu, haha." gelak Arjit melihat wajah sendu Barus


"Jangan khawatir, Kalau jodoh gak kemana. Aku pinjam Dewi malam ini saja, oke." lanjut nya, mengacungkan jempolnya.


Ck, Yudi kasihan pada Barus.


"Barus, kamu ikut mengantar Dewi. Duduk di meja sebelah, menunggu lah seperti pengemis. Kalau Dewi kasihan artinya dia ada hati dengan mu." ujar Yudi gak tau mau bagaimana lagi menolong Barus.


"Hahahaha," gak tahan Arjit tertawa ngakak mendengar usulan Yudi, Barus menangis dalam hati.


"Bos yakin cara ini akan berhasil?" tanya nya mewek.


"Aku gak bilang akan berhasil tapi cara ini untuk mengetahui perasaan Dewi terhadap kamu, kalau dia cuek saja cobalah melupakan nya," jelas Yudi.


"Namanya jodoh siapa yang tau. Bukankah waktu Johan dan Lee rebutan ngantar Dewi, Dewi lebih memilih kamu. Nah Barus, kamu harus semangat!" seru Yudi, tersenyum geli melihat tampang sedih asisten setianya itu.


"Patut dicoba itu Barus, ayo cepat berangkat. Tapi ingat kamu gak ikut makan satu meja dengan kita, kamu tunggulah di sebelah seperti pengemis, ayo." ajak Arjit pada Barus.


"Yudi, pergi dulu hahahaha," pamit Arjit sambil ketawa keluar dari ruangan Yudi.


"Pergi Barus!" titah Yudi.


"Siap, Bos." jawab Barus lemah.


Tapi dari mana Bos Yudi tau, Lee dan Johan rebutan mengantar Dewi. Kan aku gak pernah cerita...


******♥️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2