Manisnya Madu

Manisnya Madu
17


__ADS_3

Selesai makan, Devan permisi keluar dengan alasan mau ngerokok.


"Tuan Devan, tunggu!"


Karunia kesempatan juga ikutan namun saat mau kabur langkahnya tertahan suara Johan yang menggelegar.


"Kamu mau ngerokok juga?!"


"Tidak Tuan, saya mau ke toilet." jawab Karunia alasan, menggeleng spontan.


Ck, Johan mendelik. "Permisi Nyonya." ucap Karunia pada Dewi.


"Hm, pergilah." angguk Dewi menatap Karunia memang menggemaskan, polos dan apa adanya.


Tinggallah Dewi dengan suaminya, tiba tiba suasana terasa canggung bagi keduanya. Tangan Johan terulur menggenggam jemari Dewi di bawah meja, Dewi menoleh tatapan mereka bertemu.


"Apa kamu mau buat audisi lagi, sayang?" tanya johan pada Dewi.


Dewi menarik nafas berat, "Sepanjang jalan aku sudah berpikir. Kalau Niah tidak bisa aku akan setuju jika Shopie bersedia meminjamkan rahimnya untuk mengandung anak kita. Anak kita mas, bukan anak kalian." ujar Dewi menekan kata anak kita, teringat tadi kata kata bijak Karunia


"Shopie! Kamu yakin, sayang?" tanya Johan mengerut dahi.


"Hanya kalau dia lulus tes kesehatan." jawab Dewi mengangguk yakin.


"Bagaimana dengan Karunia, apa rencana kamu padanya?" tanya Johan.


"Apakah mas mau mempertahankan nya?" Dewi balik nanya menatap suaminya tajam.


Johan terdiam buang muka ditatap Dewi, sesungguhnya ia tidak rela melepas Karunia. "Jadi kamu mau mas menikahi Shopie, juga?" tanya Johan akhirnya ngeles dari membahas Karunia.


Kali ini Dewi yang terdiam, sesungguhnya ia tidak rela Johan menikahi Shopie walaupun hanya setahun sampai bayi mereka lahir. "Tentu saja, siapapun itu yang mengandung anak kita, kalian harus menikah." jawab Dewi suara lemah.


"Kamu kan tidak perlu tidur dengannya, kenapa aku mesti keberatan." lanjut Dewi.


"Hm." desah Johan.


"Mas setuju saja kalau maunya kamu begitu." ujar Johan.


"Lalu Karunia, apa Mas tidak akan menceraikan nya?" tanya Dewi.


"Itu nanti saja sebagai cadangan, kalau anak kita benar benar telah hadir ke dunia aku akan menceraikan mereka berdua sekaligus." jawab Johan.


Aku akan mengulur waktu mencari cara agar Karunia bisa selamanya di sisiku.


Dalam hati Johan.


Hm, Dewi menarik nafas pelan. "Ya, sudah. Nanti aku hubungi Shopie, biar dia bisa langsung medical cek." ujar nya.


Johan menatap istrinya, tangannya terulur mengusap pucuk kepala Dewi lalu mengecup keningnya.


****

__ADS_1


Dari luar dinding kaca yang transparan Devan dan Karunia memperhatikan Dewi dan Johan.


"Niah, kamu sungguh sesuatu." ujar Devan.


"Kenapa Tuan?" tanya Karunia.


"Setahun menikah, bagaimana bisa kamu masih perawan? Kalau gay, dia istrinya banyak. Apakah dia lemah sahwat?" tanya Devan penasaran.


"Hm, itu rahasia Tuan. Kalau anda mau tau ya cari tau sendiri saja. Bahkan Tuan bisa tau berapa uang di rekening aku." jawab Karunia.


Hehe, Devan tertawa sumbang. "Kalau Tuan Johan menceraikan kamu, menikahlah dengan...."


Bug!


"Aduh!"


Pekik Devan menoleh ke belakang, ingin menghajar siapa yang telah berani menggebuk nya. Devan menelan ludah, saat bertemu tatapan membunuh Johan.


"Johan, kau!"


"Ayo, jalan." titah nya menggandeng Dewi.


"Siap, Bos." Devan.


hihi. Karunia terkikik geli.


***


Sampai di rumah, Johan dan Dewi masuk kamar sementara Karunia kembali ke habitatnya menjadi upik abu.


"Bagaimana hasilnya?" tanya mbok Senah saat di dapur Karunia menghampiri nya.


"Belum tau, Bibi." Karunia suara mendesah duduk di ruang santai dapur. Karunia menenggak minuman dingin yang baru diambil nya dari kulkas.


"Bi makasih ya, sudah angkat jemuran ku. Sekarang aku mau nyetrika." ujar Karunia


"Besok saja, kamu istirahatlah."


"Sedikit saja Bi, biar besok sisanya." jawab Karunia.


"Terserah kamu saja, nak." ujar Senah.


"Bapak mana Bi, jarang ke dapur?" tanya Karunia.


"Ada, ngobrol di satpam."


"Enak ya Bi, Lela bentar lagi lahiran." gumam Karunia.


"Kamu kenapa gak ada anak dengan mantan suami kamu, Niah?" tanya mbok.


"Belum dikasi yang kuasa, mau gimana lagi." jawab Niah

__ADS_1


Bibi gak tau sih, aku masih perawan.


Dalam hati Karunia terkikik geli.


Ding dong...ding dong. 3x


"Bunyi apa Bi?" tanya Karunia.


"Ada tamu. Biar bibi yang buka Niah kamu disini saja ya, siapa tau Nyonya besar kamu cepat sembunyi." jelas mbok Senah nada khawatir.


"Baiklah Bi."


Kenapa harus sembunyi, aku justru pengen lihat reaksi wajah mak lampir yang dulu ngusir ibu.


Diruang depan, mbok Senah membuka pintu utama.


Nona Shopie ada apa malam malam.


"Nona Shopie, mau jumpa Nyonya?" tanya Mbok Senah.


"Ya iyalah, masa iya dong." jawab Shopie angkuh, langsung masuk begitu saja.


"Sebentar saya panggilkan."


Hm, gumam Shopie menghenyakkan bokongnya di Sofa lalu bangun lagi ke dapur mau ngambil minuman di kulkas, bertemu Niah yang lagi nyetrika baju.


Shopie menyeringai, "Pembantu mimpi jadi majikan." sindir nya.


Karunia gak perduli, justru mengambil remot mengencangkan suara TV.


Cis, dengus Shopie. "Eh, buatin gua jus dong. Gua haus, pengen jus jambu batu." titah nya.


"Ya udah, sana tunggu di depan ntar gua buatin." jawab Karunia tanpa melihat Shopie.


Cis, awas aja kalau aku sampai nikah sama Johan. Akan ku lempar kau keluar dari rumah ini.


Cibir Shopie kembali ke ruang tengah.


Tadi saat Dewi menelpon nya, alangkah kaget Shopie mendengar Dewi meminta nya jadi ibu pengganti karena Karunia tidak memenuhi syarat.


Seketika Shopie bergegas ke rumah Johan ingin mendengar langsung dari Dewi sekaligus menanda tangani surat perjanjian.


Memang benar kata pepatah, buah jatuh tak jauh dari pohonnya, cakep...


Sebentar lagi aku jatuh ke pelukan Johan, hahaha. Nyambung gak sih gaessss...


****♥️


Hi, guys karena othor sering nulis di platform jadi suka ada koreksi.


Jumpa lagi, jangan lupa like ya, 👍

__ADS_1


__ADS_2