Manisnya Madu

Manisnya Madu
54


__ADS_3

Selesai mandi Johan ke wardrobe mau berpakaian, melirik Dewi yang baring membelakangi nya. Menyadari beberapa malam ini Dewi tidur memakai piyama lamanya.


Jadi kamu juga tidak ingin aku sentuh, baiklah. Aku juga kebetulan lagi malas ngapa ngapain dengan mu.


Tak ayal Johan kesal, kemana nafsu badaknya pergi.


Kalau gak tersalur bisa cepat letoy si otong neh, lae. Aku harus cepat membuat tanda kepemilikan agar Niah tidak kepikiran mau kabur.


Johan turun ke bawah mau mencari Niah, terlebih dahulu ia ke ruang kerja ingin mengetahui apa yang dilakukan nya selama ia pergi.


"Jadi kamu mengitari pekarangan rumah karena ingin mencari jalan kabur, jangan harap kamu bisa lepas dariku gadis nakal."


Seringai Johan saat menatap layar monitor CCTV, lalu keluar dari ruang kerja tak lupa membawa kunci duplikat kamar Niah di tangannya yang diambil dari laci meja kerjanya.


Johan ke dapur bertemu mbok Senah. "Bibi, apa Niah sudah makan?" Johan pura pura nanya, jelas jelas ia telah melihat tadi di layar, Niah hanya makan anggur hijau sekeranjang.


"Sepertinya belum, Tuan." jawab mbok Senah.


Apa dia gak sakit perut, mana gak ada makan nasi kecuali subuh subuh.


"Buatkan makanan Bi, aku akan membawa ke kamarnya." titah Johan alasan, biar gak ada yang curiga maksud dan tujuan sebenarnya ia kangen ingin meluk dan mencium Niah.


*


Karunia di kamarnya baring baring.

__ADS_1


Saat tadi ada yang memutar handel pintu kamarnya, Niah malas menanggapi nya merasa itu pastilah Johan. Kalau Bibi, selalu akan bersuara memanggil namanya.


Hm...bosannya gak ada kerjaan, mana gak bisa keluar. Menyesal kemudian tidak berguna, aku sendiri yang salah minta bibi masukin aku kerja di sini hanya karena ayah mencurigai ibu, hah!


cekkerrrek...cekkreek. Cekkreek... cekkreek.


Ada yang berusaha membuka pintu kamarnya.


Matilah aku, apa Johan berusaha membuka pintu dengan kunci duplikat.


Batin Karunia segera menarik selimut pura pura tidur.


Cekklekk.


Akhirnya pintu terbuka, Johan melihat Niah terbungkus selimut matanya terpejam.


Johan meletakkan Nampan makanan di nakas lalu manjat ke kasur baring di samping Karunia.


"Sayang, ayo bangun makan sedikit nasi biar tidak sakit perut." Johan berbisik, menghirup di telinga Niah.


Niah merinding, Johan tersenyum devil mengetahui Niah pura pura tidur. Niah bergeming jantungnya berdegub, Johan semakin memeluk nya erat. Menyesap leher dengan lidahnya.


"Hais."


Niah berbalik badan, mendelik pada Johan. "Tuan, ngapain sih!" ketus nya.

__ADS_1


"Makan nasi dulu sayang, baru tidur." ujar Johan lemah lembut, mengusap wajah Karunia.


"Aku sudah makan Tuan." jawab Niah.


"Makan anggur sekeranjang, tidak Niah. Harus ada nasi biar gak kena lambung."


Johan bangun dari baringnya. "Ayo bangun, makan."


"Aku mau tidur, nanti kalau lapar aku makan." Niah balik badan kembali menyelimuti dirinya.


Johan menarik selimut melempar nya ke lantai. "Arghh?" pekik Niah manyun.


"Ayo, bangun!" Johan menarik tangan Niah, tubuh Niah yang kecil mudah saja bagi Johan mengangkat nya, membawa ke pangkuannya.


"Tuan kalau anda sering sering ke kamar ku, nanti apa kata Nyonya. Dia kan taunya kita ayah dan anak, apa pantes sekamar berdua!" sergah Niah.


"Dewi sudah tau kita membohongi nya." jelas Johan.


"Ha, maksudnya!" Niah wajah kaget.


"Aku bisa tau semua yang terjadi di rumah ini, jadi kalian hati hati. Khususnya kamu, jangan pernah berpikir lagi kabur dariku."


Johan menjatuhkan tubuhnya, Niah dalam kungkungan nya. "Nanti habis haid, siapkan lah dirimu untuk malam pertama kita."


Johan menyumbat mulut Niah dengan bibirnya.

__ADS_1


*****♥️


Terima kasih like nya ya guys, vote dan juga hadiah. Jumpa lagi, 👍


__ADS_2