
"Uwaaaaa!" Masih terdengar suara tangisan Dewi, di ujung telepon Kumala jadi khawatir pada putrinya.
"Anggi," pujuk nya lembut pada Dewi di ujung sambungan.
Ibu Dewi bernama Dewi Kumala, Dewi sendiri bernama Dewi Pelangi. Karena sama sama punya nama depan Dewi maka di rumah Dewi dipanggil 'Anggi' oleh orang tuanya.
"Anggi!" panggil Kumala lebih keras jadi khawatir pada keadaan anak perempuannya.
"Uawaaaa, uwaaaa!" tangis Dewi semakin kencang.
Lee yang mendengar tangisan Dewi tak kunjung reda malah makin ngegas, jadi khawatir.
Begitu juga Bu Dwi. "Digedor aja, Lee pintunya!" saran Bu Dwi nada cemas.
Tok tok tok.
Lee mengetuk pintu. "Dewi!" panggil nya.
Dari dalam kamarnya, Dewi berhenti menangis menyadari suaranya mungkin telah mengganggu ketenangan orang-orang sekitar yang tengah beristirahat.
Dor dor dor!
"Dewi, buka pintunya, kalau gak aku dobrak ini!" panggil Lee lagi.
Bu Dwi menepuk pundak Lee, gak senang. "Jangan gitu kejam!" ujar nya.
"Dewi,"
Gantian Dwi memanggil Dewi dengan suara lembut mirip suara seorang ibu, mendengar itu Dewi beranjak ke pintu.
Cklekk.
"Hiks,..."
__ADS_1
Masih terisak Dewi membuka pintu kamarnya, kelihatan Lee berdiri di depan pintu, Bu Dwi dan Sabit juga berdiri di belakang Lee.
"Hiks hiks," isak Dewi, mengusap air matanya.
"Apa ada yang meninggal?" tanya Bu Dwi dengan polosnya, menduga ratapan Dewi barusan karena ada berita duka yang menyedihkan.
Dewi menggeleng. "Cuma kangen, aku lagi nelpon ibu," jawab Dewi dengan hape yang masih menggantung di telinganya.
"Hm, syukurlah." Bu Dwi mengelus dada.
"Kita khawatir tadi, kalau ada masalah jangan dipendam sendiri. Bisa cerita sama ibu biar kita bantu cari jalan keluar," lanjut nya.
"Hiks."
Dewi terisak sambil menggeleng, gak mau orang orang tau masalah keluarganya.
"Ya sudah, Dewi lanjut telpon saja lagi," ujar Bu Dwi.
"Jangan kunci pintunya!" lanjut Lee tegas.
Lee jelas tau apa yang membuat Dewi sedih adalah mengenai ayahnya yang kena stroke ringan dan telah pun ditangani dokter spesialis saraf dan sebenarnya sudah mulai baikan. Cuma agak dibuat lebay dikit agar Dewi nurut jika diminta kembali ke rumah Johan.
Ayah Dewi masih gak rela usaha yang dirintis nya dengan susah payah jatuh ke tangan rentenir semacam Tuan Prana yang telah menipu banyak imigran untuk memperkaya dirinya.
Selain itu juga, Johan adalah pilihan Dewi sendiri sampai rela kabur dari rumah jadi baik buruknya juga ia harus terima.
Itu juga yang membuat Tuan Tirta memberikan Dewi sedikit pelajaran walaupun sebenarnya ia nggak tega tapi nggak ada jalan lain selain membiarkan Dewi kembali pada Johan hanya untuk 4 bulan ke depan.
Lee memandang kasihan menatap iba pada Dewi. Rasa ingin meraih nya ke dalam pelukan tapi diurungkan nya, tak elok menurut adat istiadat Nusantara. Di hati Lee mulai terbit rasa suka dengan sikap Dewi, masalah keluarga tidak harus diumbar untuk mendapatkan belas kasihan.
"Ya udah, ayo Sabit kita balik ke kamar!" ajak Lee pada Sabit. Memandang Dewi juga perempuan yang kuat, tidak terlalu khawatir akan melakukan sesuatu yang bisa membahayakan jiwanya. Sabit mengangguk, mengikuti Lee.
"Baiklah Dewi, ibu juga mau istirahat ke kamar."
__ADS_1
Dwi ikutan pamit juga berlalu dari hadapan Dewi. Dewi menutup pintu kamarnya kembali fokus pada ibunya. "Bu, ganti hape yang ada vidio call nya. Anggi mau melihat ayah," mohon Dewi Kembali bicara di telepon.
Kumala menjadi gelisah, memandang suaminya sebenarnya sudah mulai baikan, mulutnya juga sudah tidak miring lagi.
"Anggi, ayah kamu belum bersedia nak, selesaikan dulu urusan kamu di sana. Ibu yakin kamu sudah paham dari apa yang dijelaskan oleh utusan Lee kenapa ayahmu sampai stroke, hiks." Kumala menjeda ucapannya, gak kuat ia terisak. Dilema memilih antara suaminya dan anak perempuannya.
"Mengenai Johan yang suka main perempuan itu sudah dari sebelum kalian menikah, Anggi. Hanya kamu menutup mata, bukankah kamu mencintai nya? Sehingga kamu rela pergi tanpa mau mendengar penjelasan orang tua, itu adalah resiko yang harus kamu terima. Kalau kamu perduli pada ayahmu tinggallah bersama Johan untuk 4 bulan ke depan," jelas Kumala alasan menolak Vidio call. Walaupun sebenarnya ia gak tega, di samping itu Kumala juga rindu pada Dewi, putri kecilnya yang dulu ia manja manja. Namun kerena suaminya memerintahkan dirinya mengatakan begitu, mau gak mau ia harus patuh.
"Sudah dulu, Nak. Ibu mau memberi makan ayahmu," Kumala memutus sambungan.
Dewi menangis sejadi jadinya namun kali ini mulutnya dibekap di bantal agar suaranya tidak kedengaran sampai keluar kamar, akhirnya ia tertidur tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
Lama diam tidak ada suara lagi terdengar, Lee masuk ke kamar Dewi memeriksa keadaannya.
Hm, Lee menyelimuti Dewi dan mematikan lampu kamar lalu kembali ke kamar Sabit.
*
Pagi pagi Dewi bangun tubuhnya terasa lemas namun ia harus kuat dan bangkit dari keterpurukan.
Setelah semalam menelepon ibunya, Dewi putuskan bahwa mulai sekarang di dunia ini ia menganggap dirinya sebatang kara tidak punya siapa siapa bahkan orang tua, Dewi anggap sudah tidak ada.
Dewi teringat beberapa bait puisi Khairil Anwar, puisi yang pernah dimenangkan nya waktu lomba puisi antar SD.
Aku ini binatang ****** dari kumpulan orang orang yang terbuang.
Luka dan bisa kubawa berlari, hingga hilang pedih perih.
Dan aku lebih tidak perduli, aku mau hidup seribu tahun lagi.
Lalu Dewi menyambar handuk, siap siap mau pergi kerja.
******♥️
__ADS_1
Jumpa lagi.
Jangan lupa selalu like ya, Vote dan hadiah juga. Terima kasih, 👍