Manisnya Madu

Manisnya Madu
7


__ADS_3

Saat Dewi bangun, hari sudah malam perutnya juga sangat lapar. Ingin keluar namun dia bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


Dewi melihat dirinya sudah bersih dan sudah berganti pakaian rumahan.


Sepertinya Johan sudah membersihkan ku.


Dewi mengintip ke bagian tengah dirinya bersih bersinar dan kesat, tidak ada cairan bekas pergumulan apapun yang tersisa.


Tidak lama kemudian pintu kamar dibuka, mbok senah masuk dengan membawa nampan. "Nya, makan dulu. Tuan meminta saya membawakan makan malam ke kamar."


Mbok Senah meletakkan nampan di atas meja kecil agar Dewi bisa makan di kasur.


"Terima kasih mbok.” ucap Dewi. "Tuan ada di mana mbok?" lanjut Dewi bertanya sambil menyuapi mulutnya dengan makanan.


"Ada di ruang kerja Nya, tadi Tuan juga sudah makan malam." jawab mbok Senah. "Nya, saya ke dapur dulu." pamit Mbok Senah.


"Iya mbok, silahkan." angguk Dewi.


Dewi menghabiskan makanannya lalu keluar menemui Johan di ruang kerjanya. Tanpa mengetuk pintu Dewi masuk dan duduk di sofa. Ia mengambil sebuah buku yang ada di meja dan membolak baliknya, gaje.


Melihat Dewi, Johan geleng kepala. Istrinya ini masih kekanakan padahal usianya sudah dewasa.


"Sayang, ada yang ingin kamu bicarakan." tanya Johan.


"Kenapa tadi mas sangat marah sewaktu di Mansion Damien?" tanya Dewi to the point.


"Kamu itu istriku pergi ke rumah pria lain, tidak permisi lagi. Suami mana yang tidak marah kecuali dia sudah tidak mencintai istrinya lagi." suara Johan lembut pada Dewi.


"Mas tau dari mana aku di sana?" Dewi masih membolak-balik gak jelas


"Hm, makanya jaga sikap kamu. Apapun aku tau tentang dirimu."


Dewi menutup buku dengan keras sehingga menimbulkan bunyi.


"Mas aku ke sana diantar supir, mana mungkin aku macam-macam." jelas Dewi


"Aku ingin bermain dengan Elboy, boleh ya sekali-sekali." mohon Dewi pada Johan.


Johan menyandarkan tubuhnya, menarik napas pelan, membuangnya halus. "Dewi, lebih baik kamu di rumah saja. Aku percaya padamu tapi tidak percaya pada orang di luaran sana." tegas Johan.


"Tapi anak itu lucu aku menyukainya." bantah Dewi.


"Aku sudah setuju untuk menikah atas permintaan kamu. Setelah menikah dengan, siapa itu wanita yang lolos seleksi kemarin?" tanya Johan.


"Juana." jawab Dewi cepat.


"Siapa lah itu, aku gak akan tidur dengannya. Kita ke dokter program bayi tabung selanjutnya ditanam ke rahim pengganti." jelas Johan


Dewi mengernyit dahi, "Begitu!" Dewi kelihatan berpikir, apa karena calonnya tidak menarik sehingga Johan gak berselera, hm.


"Hm, pernikahan hanya formalitas sehingga kita tidak terkena tindakan hukum, pasal mengenai ibu pengganti."


Dewi tersenyum datar menatap suaminya,


Jadi tidak perlu ada hubungan badan seperti yang aku khawatirkan.


Lalu ia menghampiri Johan, suaminya itu menariknya duduk di pangkuannya.

__ADS_1


Dewi bergelayut manja. "Mas, si mbok minta cuti mau menjaga anak perempuan nya akan melahirkan." ujarnya lembut.


"Berarti harus cari pengganti dong." Johan menatap istrinya, masih imut meskipun sudah usia dua puluh delapan tahun.


"Keponakan nya si mbok baru pulang dari Malaysia, dia sudah biasa kerja jadi art." jelas Dewi.


"Asal kamu cocok aku setuju." ucap Johan.


"Terima kasih mas."  Dewi memberikan kecupan ringan lalu beranjak dari pangkuan Johan.


Johan membiarkan Dewi pergi karena ia juga mau melanjutkan pekerjaan nya.


**


Dewi menjumpai si mbok di dapur. "Mbok, masak apa lagi?" tanya nya karena melihat si mbok masih sibuk di kompor.


"Puding Nya, buat besok." jawab mbok mematikan kompornya.


Dewi mengambil soft drink di kulkas, ia beranjak ke ruang tamu. Suara si mbok menahan nya. "Nya, ponakan saya besok datang. Dia berangkat pagi dari kampung. Siang juga sudah sampai."


Dewi menoleh. "Baguslah mbok, terima kasih." jawabnya.


Ponsel di genggaman Dewi bergetar, panggilan dari Juana.


"Hallo." jawab Dewi.


"Hallo Bu. Saya Juana yang lulus seleksi kemarin. Maaf saya tidak bisa menikah dengan suami ibu, suami saya mengajak rujuk." suara Juana di ujung panggilan.


Begitu. "Ya sudah mbak gak apa." jawab Dewi.


"Gak apa mbak, gak usah dikembalikan saya ikhlas." jawab Dewi.


"Terima kasih Bu, semoga ibu cepat dikarunia momongan." ucap Juana.


"Sama-sama Mbak." jawab Dewi, Sambungan diputus.


Hm, jadi bagaimana ini, apa aku buat audisi lagi.


Dewi menenggak soft drink nya, duduk di ruang tengah menyalakan tv menonton drama kesukaannya.


***


Sementara itu di kampung Mbok Senah, keponakannya yang bernama Karunia sedang bersiap-siap packing barang, besok pagi biar tinggal berangkat.


"Bawaan kamu ini doang, Niah?" tanya Lestari teman Karunia yang ikut membantunya packing.


"Hah, ini aja dulu kali. Siapa tau gak betah bisa langsung kabur." jawab Karunia membaringkan tubuhnya di lantai.


"Bagaimana dengan mantan suami kamu Niah, apa dia masih menghubungi?" tanya Lestari kepo.


"Ya, mana mungkin. Untuk apa, kita kan cuma kontrak kemarin."


"Jadi kamu udah rasa dong, gimana enak gak!" goda Lastri.


"Apaan sih, ya gitu deh." jawab Karunia geleng kepala.


Suamiku aja tidak pernah menyentuh ku, gimana mau tau rasanya, batin Karunia.

__ADS_1


Malam terasa singkat, kumandang azan subuh membangunkan Karunia. Ia segera ke kamar mandi, membersihkan diri.


"Tari bangun, sholat." panggil Karunia menggoyang tubuh Lestari.


Lestari menggeliat, udara pagi terasa dingin ia semakin menarik selimut.


Karunia memercik air ke muka Lestari. "Aaa!" Lestari memekik,  perasaan semakin dingin tubuhnya makin melingkar. Karunia terkikik, ia pun tidak mengusik lagi teman pemalas nya itu. Lalu menunaikan sholat sendirian.


Tepat pukul 7.00wib. Karunia sudah di dalam bus dalam perjalanan ke ibu kota.


"Daa, hati-hati di jalan Niah." ucap Lestari menghantar keberangkatan Karunia.


"Siip! Makasih Tari." ucap Niah, kepalanya tersembul dari jendela Bus, senyumnya melebar.


"Semoga aku betah." gumam Karunia.


Hanya dua setengah jam ia sudah sampai di terminal kota. Sesuai pesan Bi Senah agar ia naik taksi online saja ke perumahan Jakarta Indah.


Karunia mengitari pandangannya, mencari plat mobil taksi online yang telah di pesannya. Terlihat satu nomor plat mobil yang dicari nya tidak jauh dari tempat ia berdiri.


Karunia menghampiri driver yang lagi nanar melihat ke ponselnya bergantian memandangi manusia-manusia yang lalu lalang.


"Pak." sapa Karunia pada driver.


"Oh, Mbak Karunia ya?" tanya driver sambil menunjukkan layar ponselnya agar tidak salah orang.


Karunia mengangguk. "Alamat sesuai Aplikasi ya Pak " ujar Karunia.


"Siap Mbak, silahkan."


Karunia masuk ke dalam mobil duduk di bangku belakang. Driver melajukan mobilnya, meninggalkan terminal menuju alamat sesuai dengan yang tertera di layar aplikasi.


Setelah satu jam.


"Ini Mbak rumahnya sudah sampai." kata driver memandang rumah dua setengah tingkat yang di dominasi warna putih.


Karunia tersentak, rupanya ia tertidur lalu menatap nanar ke luar jendela mobil. "Baik Pak, saya tanya Satpam dulu." ujar Karunia, Driver mengangguk.


Kemudian Karunia turun dan berjalan ke arah pintu gerbang. Satpam yang lagi duduk segera berdiri memandangi Karunia dengan pandangan menyelidik.


"Permisi, saya mau jumpa Ibu Dewi." sapa Karunia pada Satpam.


"Siapa namanya neng, boleh lihat KTP nya?"


"Karunia, Pak." Lalu Karunia membuka dompetnya dan memberikan KTP nya pada Satpam.


"Baiklah neng Karunia, ini KTP nya saya kembalikan."


Satpam menekan tombol, pintu gerbang terbuka lalu membuat panggilan ke dalam rumah.


Karunia kembali ke taksi mengambil tas bajunya. "Makasih ya Pak!" ucapnya pada driver mengulurkan tangan memberi tips tanda terima kasih.


"Silahkan Neng masuk saja. Sudah ditunggu di dalam." ujar Satpam


******tbc


♥️ and 👍

__ADS_1


__ADS_2