
Johan merah padam saat diberitahu intel bahwa mereka kehilangan jejak Niah saat di Market. Padahal mereka sudah mengganti supir tanpa sepengetahuan Niah. Menurut Supir taksi Niah akan ke Bandara.
Ha, siapa lagi yang dijumpai nya di sana, kenapa harus rahasia?
Menurut si mbok semua pakaian Niah masih ada di lemari pakaian, artinya Niah masih akan pulang seperti kemaren saat ngantar temannya.
Dalam hati Johan masih berbaik sangka, mengajak Devan buru buru meninggalkan hotel menuju Bandara. Ia sudah tidak perduli lagi terserah Dewi mau pulang apa enggak ke rumah besar.
Hanya satu jam sampai Bandara tidak ada Niah di keberangkatan maskapai malaysia, tidak tercatat juga nama Karunia boarding dimana mana maskapai.
"Benar benar bodoh! Devan, pecat kedua intel!" tegas Johan, gak tahan lagi atas ketidak-profesionalan Intel.
"Baiklah, tapi mereka kerja juga sudah maksimal. Segeralah insaf Johan, sadarlah bahwa wanita yang ingin kau poligami tidak ada yang bodoh dan lemah, mereka berdua orang orang berakal. Kecuali Shopie aku percaya bahwa ia sudah cinta mati padamu, setelah melahirkan jangan pernah kau menceraikan nya. Dia sangat tulus mencintai mu," jelas Devan panjang kali lebar, terduduk di bangku Bandara menemani Johan.
"Yaaa!" sergahnya marah tiba tiba tengkuknya disentil Johan.
"Cari, cepat!" Johan melototin Devan.
Ck, Devan berdecak, membalas sinis Johan. Me-rewind lagi rekaman CCTV Market yang dikirim intel 2 jam sebelum dan 2 jam sesudah Niah masuk market, apa ada yang terlewat. Ada satu yang mencurigakan pada pandangan Devan, ibu berkaca mata pakai tudung gak pernah masuk Market bagiamana mungkin ada visual saat dia keluar.
Hm, "Tidak kelihatan ada Niah keluar dari Market, heran juga. Apa Niah punya ilmu menghilang?" gumam Devan.
"Hahahaha."
Johan menoleh heran, kenapa tiba tiba Devan tertawa terbahak bahak. "Kenapa kau tertawa?" tanya nya menatap layar.
"Aku akan mencari intel baru untuk mu. Niah keluar di depan mata mereka, gak lihat hah!" jelas Devan ikutan marah.
__ADS_1
"Mana Niah," Johan memutar laptop ke arahnya, hanya ada ibu ibu gendut kerudungan.
"Itu Niah, sekarang baru gampang mencari nya. Ayo kita ke ruang CCTV Bandara, kalau ketahuan meretas mereka aku bisa kena hukum." jelas Devan.
"Bentar," Johan menahan Devan saat hendak menutup laptop nya, setelah dilihat lihat memang benar.
"Niaaaah!!" geram johan, mencengkeram leher baju Devan.
Arghh! Devan tercekik.
"Jangan jangan dia memang mau kabur, bukan sekadar mengantar teman."
"Iya, lepas dulu leher ku. Kita akan tau setelah memastikan nya di ruang CCTV." jelas Devan, mendorong Johan.
Argh!
*
Tak ayal Dewi penasaran, apakah Johan benar benar akan menceraikan Niah dan bagaimana ekspresi Niah saat diceraikan.
Bukankah ia sesumbar dan ngotot banget ingin bercerai dari Johan...
Aku ingin lihat semunafik apa dua anak manusia itu. Kalau ada penyesalan atau menangis itu artinya Niah mencintai Johan seperti diriku yang bodoh ini dan Johan si tukang selingkuh itu akan dengan mudah memperdaya Niah.
"Dewi, pikirkanlah dengan matang. Mengambil keputusan jangan tergesa gesa, saya juga bercerai dengan istri pertama karana dia suka berselingkuh. Orang yang suka selingkuh biasanya gak gampang berubah, ada kesempatan dia akan selingkuh lagi. Jangan tunggu sampai mereka menyakiti kita kedua kali barulah terbuka mata hati," jelas Arjit melihat kebingungan Dewi.
Asisten Yudi sudah naik ke lantai paling atas hotel ke kamarnya, tinggal Arjit menunggu maghrib rencana ia akan solat di musholla hotel sebelum pulang.
__ADS_1
Di samping itu Yudi juga meminta Arjit menasehati Dewi agar jangan mudah terbujuk rayuan Johan, Arjit heran entah darimana Yudi tau persoalan rumah tangga Dewi dan Johan tapi ya sudahlah.
"Baiklah Dewi, saya ke musholla dulu mau maghriban," pamit nya tersenyum pada Dewi.
Dewi menatap Arjit bersamaan dengan Barus datang menghampiri mereka. "Tuan," Barus menunduk hormat pada Arjit.
"Saya, diperintah asisten Yudi mengantar Nyonya Dewi pulang," ujar nya memandang Arjit dan Dewi bergantian.
Apa karena ada Johan makanya asisten Yudi memberi ku pengawalan lagi.
Batin Dewi tersenyum pada Barus, tadi saat datang soalnya ia nyetir sendiri.
Tapi barusan Johan sudah pergi gak tau ada apa, kelihatan terburu buru.
"Saya bisa nyetir sendiri, Barus." Dewi menolak halus, gak enak hati pada kebaikan asisten Yudi. Ini kan masalah pribadi, batin Dewi.
"Biarkan Barus mengantar kamu, Dewi. Ini perintah," tegas Arjit.
Oh, "Terima kasih Tuan, saya akan pulang ke rumah besar," jawab Dewi yakin.
"Itu pilihan yang tepat Dewi, jangan biarkan hatimu goyah oleh rayuan gombal si tukang selingkuh. Aku bicara ini karena sudah pengalaman sakit hati karena diselingkuhi, hehe." Arjit terkekeh, Barus ikut tersenyum.
Masih lebih baik pernah diselingkuhi daripada aku masih jomblo, belum merasakan pahit manisnya cinta, hah!
******♥️
Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga.
__ADS_1
Terima kasih, 👍