
Menuju rumah sakit Bagus, Dewi yang nyetir sedangkan Lee duduk manis di sampingnya.
"Biarkan aku yang nyetir, Anggi." Lee masih membujuk Dewi.
"Kenapa kamu menyusup ke WJ, kan bisa jumpa aku di mana gitu. Kamu gak mikir aku bisa dipecat," Dewi geram pada Lee.
"Hanya itu cara aku bisa meyakinkan kamu, gak harus tegang urat leher berdebat bahwa aku utusan Ayahmu. Have no much time."
Dewi menoleh, "Time, what?"
"Aku ngikutin kamu dari dua tahun yang lalu dan waktuku gak banyak hanya 4 bulan lagi sebelum perjanjian Tuan Tirta (Ayah Dewi) dan Tuan Prana ( Calon Dewi dulu sebelum kabur dengan Johan) berakhir. Maka tugas ku sebagai mata mata juga berakhir."
"Jadi kamu mata mata, bukan bodyguard lah?"
"Terserahlah apa aja, tapi aku bertugas menjaga kamu."
"Kenapa aku harus dijaga?"
"Saat lima tahun lalu kamu kabur, mereka hampir saja pecah kongsi. Karena Tuan Prana ingin menarik bagian modalnya, kamu tau maksudnya kan. Usaha bengkel sepeda akan tutup, Ayahmu juga harus melunasi hutang Bank. Semua sudah dipertaruhkan..."
"Termasuk aku," potong Dewi.
"Hm, ya kamu juga."
"Lalu, perjanjian seperti apa yang dibuat Ayah dengan si Tuan Prana itu, dari pertama aku sudah tau dia orang gak baik." tanya Dewi penasaran.
"Ayahmu memohon, apa yang bisa dilakukan nya untuk membayar perbuatan mu."
"Hah, jadi aku si pembuat masalah nya. Terus?"
Hm, "Berbekal pengetahuan Ayahmu tentang sepeda, Tuan Prana memanfaatkan nya sebagai tenaga ahli namun hanya dibayar gaji. Mengenai pembagian penghasilan Tuan Prana boleh mengambil sesuka hati bagiannya sedangkan Tuan Tirta akan dimasukkan lagi ke modal untuk biaya pengembangan Pabrik. Kamu tau Pabrik sepeda Petircycle sekarang terbesar di London, berbagai produk nya telah diekspor ke berbagai negara."
"Bagus dong, artinya semua saham milik ayah dan pabrik juga jadi milik Ayah."
"Iya, hanya sampai 5 tahun kalau pernikahan kamu dan Johan bertahan. Jika ternyata dalam lima tahun kalian bubar, semua saham milik Ayahmu dan juga pabrik akan beralih ke Tuan Prana."
"Gila, ada perjanjian seperti itu, tapi aku...tapi ini sudah lima tahun aku dan Johan Anniversary 3 bulan yang lalu."
"Belum...perjanjian dibuat 6 bulan setelah kamu nikah."
"Tapi aku..." suara Dewi tertahan, terperangah memandang Lee. Kerongkongannya jadi kering tiba tiba.
__ADS_1
Melihat ekspresi Dewi, Lee mengerti. "Selagi belum ketuk palu belum dihitung." ujar nya.
"Jadi kamu tau aku sudah...darimana?" cecar Dewi penasaran.
"Keluarnya kamu dari rumah itu sudah menandakan adanya keretakan." Lee jeda menarik nafas, hah!
"Bahkan dari dua tahun yang lalu Ayahmu sudah was was dan kemaren saat mengetahui kamu pindah rumah, Ayahmu gak tahan lalu jatuh pingsan,..."
Ciiiit!!!!
Ban mobil yang dikemudian Dewi berdecit, karena ngerem mendadak. Kedua mereka hampir terlempar ke depan.
"Kenapa kamu gak bilang saat mobil berada di rel kereta api biar kita sama sama mati tertabrak!" sergah Dewi marah marah, matanya pun sudah merah.
"Makanya tadi aku minta biar aku yang nyetir, ya karena ini takut kejadian."
Hah! Beruntung jalan sepi.
Dalam hati Dewi, kaki dan tangannya langsung lemas. Kayaknya gak sanggup lagi meneruskan perjalanan.
"Ayo pindah,"
"Ayah dirujuk ke rumah sakit mana?" tanya Dewi setelah Lee duduk di bangku kemudi.
"Di rumah sakit London, menunggu kabar dariku."
"Kamu tau dari mana aku ada masalah dengan Johan?" tanya Dewi.
"Aku gak tau! Salah satu dari kalian belum ada yang menggugat ke pengadilan makanya aku belum menemui kamu. Ayahmu yang memberitahu aku untuk menyelidiki, dia curiga saat kamu mengaktifkan ponsel lama menduga pasti sesuatu terjadi padamu dan benar saja kamu tidak lagi di rumah Johan. Mengetahui itu Ayahmu jatuh tak sadarkan diri."
"Tuan Prana tau?" tanya Dewi mata mengerjab erjab.
"Sepertinya begitu,"
"Apa yang kamu katakan pada asisten Yudi, kenapa dia membiarkan kamu tetap di WJ. Bukankah kamu menyusup dan ini urusan pribadi?"
"Cuma sebatas bilang aku diutus Ayahmu, bisa jadi kamu dalam bahaya,"
"Dan Yudi percaya."
"Hm," angguk Lee.
__ADS_1
"Dia justru menawari aku kerjaan jadi asisten Barus melatih Sabit yang belum tau apa apa. Memang ada yang aneh pada Yudi, dia tau aku ahli karate judo, taekwondo, dan do do do lainnya, terpaksa aku menerima nya dari pada diancam penjara membuka rahasiaku ke imigrasi."
"Memangnya kamu memalsukan identitas?"
Hm, angguk Lee. "Udah resiko jadi agen swasta, bahkan nyawa jadi taruhan."
"Kamu nekad sekali, bagaimana dengan ibu?"
"Ibumu bisa apa selain menangis, tapi dia kuat menjaga ayahmu. Sekarang aku komunikasi dengan ibumu, karena Ayah belum bisa bicara."
"Hm," desah Dewi mengusap matanya yang basah.
"Maka dari itu Dewi, kembalilah ke rumah Johan hanya untuk 6 bulan. Berbaik-baiklah dengan nya sampai saat itu, jadilah anak berbakti."
Plak!
Dewi menggeplak bahu Lee.
*
Menunggu kedatangan Dewi, Damien terpaksa keluar dari ruangan Shopie karena ternyata Johan tiba lebih dulu.
Di ruangannya, Shopie tersenyum manis menyambut kedatangan Johan.
"Johan, terima kasih sudah menjenguk aku." ucap nya.
"Hm, sehat kan dirimu. Segera atur kepindahan mu ke rumahku, tapi ingat jangan pernah mengganggu aku atau bicara denganku. Apa apa urusan antara kamu dan Dewi jangan pernah libatkan aku, paham." tegas Johan.
"Baiklah Johan, terserah kamu saja. Aku lakukan juga demi Dewi. Oh ya, mengenai Niah anak kamu, aku gak akan direpotkan olehnya kan? Aku lihat dia sangat manja padamu,.." Shopie menyindir melihat reaksi Johan.
Ck, Niah lagi.
Desah Johan semakin kangen Dewi.
******♥️
Jumpa lagi.
Jangan lupa selalu like ya guys, vote fan hadiah juga.
Terima kasih, 👍
__ADS_1