Manisnya Madu

Manisnya Madu
99


__ADS_3

Ternyata Johan membawa Dewi ke satu sudut ruangan arah ke tempat penyimpanan selimut dan sprei selesai loundry. Johan menghimpit Dewi ke tembok, tiba tiba nafsu pada Dewi.


"Johan, kamu sudah men-talak aku. Apa pantas kamu lakukan ini, lepaskan kataku! Aku mau jenguk Shopie."


Dewi suara serak hampir menangis, memutar wajahnya ke kiri ke kanan menghindari Johan saat mencoba ingin mencium nya.


Johan menatap tajam seolah mau menerkam, merasa jatuh harga dirinya ternyata Dewi dengan mudah melupakan nya.


"Siapa pria itu, kekasih baru kamu yang lebih topcer dari aku?" tanya nya menangkup wajah Dewi dengan hanya satu tangan, mendongak padanya.


Tatapan mereka bertemu, Dewi segera mengerti, "Itu Lee, utusan dari London. Katanya, Tuan Prana yang dulu melamar ku menunggu kapan kamu melepaskan aku. Dia tau aku sudah keluar dari rumah kamu." jawab Dewi, apa adanya.


Hah! "Si Tua bangka itu...gila! Segitu cintanya dia padamu sampai mengutus seseorang untuk menjemput kamu?" Johan berang.


"Hm, Petircycle ternyata perusahaan yang didirikan ayah bersama Tuan Prana. Sekarang Ayah sedang sakit, dia butuh aku untuk menggantikan nya." jawab Dewi ngada ngada. Kalau itu bisa membuat Johan panas, biarkan saja dia kepanasan.


Itu perusahaan lumayan cepat juga berkembang nya, hm tak akan ku biarkan..


Batin Johan, "Ayo menjenguk Shopie, kita harus bersikap mesra di hadapannya dan juga si utusan itu. Aku gak mau ada rumor kita bercerai sampai ke London."


Johan menarik tangan Dewi lagi keluar dari lorong menuju ruang inap Shopie.


Hah!


Dewi menarik nafas lega, membiarkan saja dirinya diseret Johan.


*


Di ruangannya, Shopie mengerut dahi melihat Johan dan Dewi datang bersamaan bergandengan tangan.


Kata Damien mereka bercerai, apakah begini sikap pasangan yang sudah bercerai.

__ADS_1


Dalam hati Shopie, "Dewi," panggil nya tersenyum canggung, dipaksakan. Ada rasa cemburu di hatinya.


"Hm, gimana kamu udah bisa pulang?" tanya Dewi juga tersenyum walaupun ia muak melihat wajah Shopie. Mencoba menepis bayangan perselingkuhan dua orang yang menjijikkan.


"Iya, ini sudah siap siap." jawab Shopie, yang memang lagi mengemas barangnya.


"Kamu pulang ke Apart sekarang istirahatlah, tidak usah lagi masuk kerja. Minggu depan Devan akan mengatur kepindahan kamu ke rumah." tegas Johan masih menggenggam tangan Dewi.


"Apa aku boleh numpang ikut kalian, aku gak ada yang jemput."


Shopie alasan ingin dekat dengan Johan, walaupun Damien bersedia mengantar nya pulang.


Hm, "Devan," panggil Johan.


"Oke," jawab Devan yang dari tadi diam.


"Ayo, Shopie. Berikan tas kamu." ujar Devan, meraih bag baju Shopie.


Katanya cerai, tapi kenapa masih mesra.


Dalam hati Damien gak kalah heran, dari parkiran mobilnya ia melihat Johan menggandeng tangan Dewi masuk mobil dan Shopie juga ikut masuk duduk di samping Devan yang bertindak sebagai Supir.


Shopie benar benar niat ingin merebut Johan dari Dewi, hm. Satu harian aku nungguin nya sampai ninggalin Farrel, demi apa coba...


Batin Damien lalu memerintah asistennya melajukan mobil dan mereka pulang.


Begitu Juga Lee tersenyum senang sempat mengambil beberapa photo mereka dan mengirimkan nya ke London.


Ini adalah tangkapan yang besar semenjak aku mendirikan perusahaan agen mata mata swasta, ah!


*

__ADS_1


Setelah mengantar Shopie ke Apartemen nya, Dewi meminta agar diturunkan di jalan yang lengang dengan alasan mau pulang ke rumah besar menggunakan mobilnya yang dikendarai Lee mengikuti mereka dari belakang.


"Aku yang akan mengantar kamu ke rumah besar, biar si utusan itu tau kita baik baik saja."


Johan kesempatan di dekat Dewi, hatinya yang kosong ditinggal Niah jadi tidak terlalu hampa.


"Devan, kita mampir ke rumah makan, panggil si utusan itu ikut bergabung." titah Johan pada Devan.


"Kamu juga pulang lah segera ke rumah atau langsung saja malam ini sekalian," usul Johan pada Dewi.


Ah...apa yang kau lakukan Dewi, kenapa balik lagi ke rumah Johan.


"Tidak mau, minggu depan saat kamar sudah disekat," Dewi suara tegas.


Hm, setidaknya Dewi bersedia pulang biar hatiku tidak terlalu merana.


Dalam hati Johan setuju aja. "Devan segera urus, gak pake lama."


"Baiklah Johan,"


Jawab Devan memutar mobil masuk ke sebuah restoran yang mereka lewati, salah satu restoran Devan dan Johan sering mampir.


Lee mengikuti setelah melihat kode dari Devan, lagian Lee juga sudah tau karena ia bisa mendengar pembicaraan mereka.


Tadi saat datang, di mobil Dewi diam diam Lee meletakkan alat pendengar suara di tas kecil milik Dewi.


*******♥️


Jumpa lagi, 👍


Yang baca maraton othor ucapkan terima kasih, 🙏

__ADS_1


__ADS_2