Manisnya Madu

Manisnya Madu
107


__ADS_3

Dewi turun ke Lobby sudah ada si ganteng Farrel menyambut kedatangan nya, Nanny juga ikut.


Syukurlah beramai ramai jadi gak dikira date.


"Auntie," panggi Farrel berlari menghampiri Dewi.


"Elboy, apa El kangen auntie?" tanya Dewi.


Hm, El menggeleng.


"Papa yang kangen mau jumpa auntie, katanya minta El menemani," jawab El, jujur pake banget.


"Thanks Boy," bisik Damien malu juga pake banget di telinga El, Dewi mendelik menatap tajam Damien.


"Hehe, maaf. Anakku emang gak bisa diajak berkomplot," ujar Damien terkekeh, mengusap sayang pucuk kepala putranya.


"Mau berangkat sekarang?" lanjut tanya Damien pada Dewi.


"Hm, seperti biasa. Aku dan El naik mobilku. Kamu nyusul dengan mobilmu." Dewi suara tegas.


"Yup, siap Bos." jawab Damien.


"El, jangan nakal. Tolong jaga auntie untuk papa, oke," Damien mengedip mata pada El


"Oke," El mengacungkan jempol nya tersenyum lebar.


Hm, desah Dewi melotot pada Damien.


"Ayo, El." ajak Dewi pada El, Nanny mengikuti mereka.


*


Di mobil Dewi.


Barus sudah menunggu, ia sudah tau bahwa Dewi akan makan malam bersama Damien.


Apa aku jadi obat nyamuk lagi, oh siapa itu?


Dalam hati Barus bertanya tanya melihat ada perempuan memakai seragam perawat berjalan bersama, mengapit Farrel antara Dewi dan dirinya.


Sepertinya pengasuh El, baiklah. Ada teman jadi obat nyamuk. Dewi masih menjaga jarak dengan Damien artinya masih ada kesempatan...oh Barus.


Jangan bilang kamu menyukai Dewi juga.


Ah, batin Barus memandang Dewi yang sedang berjalan ke arahnya.


"Barus, kita makan malam di food court Mall ini di McBurger, oke." ujar Dewi setelah mereka dekat.


"Siap, Dewi," Barus membuka pintu belakang untuk Dewi.


"Mbak duduk di depan ya," ujar Dewi sebelum masuk pada Nanny.


"Jangan takut dia sudah jinak," lanjut Dewi senyum dikulum pada Barus melihat Nanny sepertinya serem melihat Barus yang kekar.

__ADS_1


Cis, dengus Barus membuang muka dari pandangan Dewi.


"Iya, Nyonya." ucap pengasuh menunduk patuh.


"Ayo, El." ajak Dewi membawa El masuk duluan barulah ia, lalu Barus menutup pintu.


Johan dan Devan yang baru masuk parkiran saling tatap memandang kepergian Dewi.


"Ayo Devan, ikuti mereka." titah Johan, hatinya kesal bukan main.


"Siap, Bos." jawab Devan, memutar mobil keluar dari parkiran menyusul mobil Dewi hampir tabrakan dengan mobil Damien di pintu gerbang.


*


Dari ruang latihan juga, Lee memburu buru Sabit sesaat Arjit dan Yudi pulang dari VIP gate.


"Ayo, kita makan malam diluar. Nanti lanjut lagi latihan di rumah besar," ujar Lee.


Aku akan menyusul kamu Dewi, tunggulah.


Dalam hati Lee kesal pada Yudi, karena ancaman nya ingin men-deportasi Lee, Lee jadi tidak bisa selalu dekat dengan Dewi.


"Kamu lumayan juga, cepat ingat gerakan," puji Lee pada Sabit di ruang ganti baju.


"Terima kasih guru," ucap Sabit tersenyum senang.


*


"Ayo kita turun," ajak Beno pada Niah sesampai di Mansion Daniel.


Mereka bertiga, Beno, Niah dan Lucita disambut Zainal dan Pedro (satu orang lagi asisten Beno yang pangkatnya sama dengan Lucita).


Zainal tak berkedip menatap Niah.


Siapa ini, sedikit mirip dengan Kiara tapi Kiara lebih bening. Ini agak kuning langsat tapi cantik alami gadis nusantara.


Dalam hati Zainal, ingin kenalan.


"Bagaimana persiapan?" tanya Beno tiba tiba.


Cis, kirain mau dikenalin dulu, dengus Zainal.


"Sudah rampung dua set mesin untuk Laras dan Kiara, yang untuk ekstra masih dalam proses, Bos." jawab Zainal.


"Hm, begitu. Kapan bisa siap?"


"Dua minggu satu mesin, empat mesin delapan minggu, bukan begitu Bos" jawab Zainal menoleh pada Pedro meminta dukungan.


Hm, Pedro mengangguk menarik ujung bibirnya.


Beno menoleh pada Niah, "Kalau kamu bosan di hotel datanglah main kemari sambil belajar nanti Zainal yang akan mengantar jemput kamu," ujar Beno pada Niah, Zainal bersorak senang dalam hati.


"Iya, aku mau. Ini bengkel membuat tas?" angguk Niah bertanya, melihat ada sampel tas di atas meja mesin.

__ADS_1


Aih, merdunya suara bikin naik bulu bulu.


Dalam hati Zainal senyum dikulum, merinding mendengar suara niah.


"Manfaatkan waktu dua minggu sebelum kita ke Jkt,"


Ucapan Beno langsung mematahkan hati Zainal.


"Bos, daripada repot memberangkatkan karyawan lain dari Jaguk, kenapa tidak biarkan dia di sini." usul Zainal.


Beno tau Zainal ada ketertarikan pada Niah. "Kalau itu, dia butuh ijin dari suaminya," ujar Beno sengaja menekan kata suaminya.


Benar saja Zainal shock.


"Apa, kamu sudah menikah?" tanya Zainal pada Niah hampir menangis, frustasi.


Hm, Niah menarik ujung bibirnya.


"Maaf Zai, telah mengecewakan kamu," tepuk Beno di bahu Zainal.


Kenapa yang cantik cantik udah pada laku semua, ah.


"Laras dan Kiara jam berapa biasa datang, kenapa tidak disiplin? Ini sudah lewat lima belas menit." Beno suara keras, nge-bos.


"Hadir Bos," jawab Laras baru masuk bengkel menyusul Kiara dibelakang nya.


"Dasar emak emak, ngapain lambat?" hardik Beno.


Cis, "Beno, maaf. Dua bayi mungilku sih baik budi tapi papanya minta ampun rewel, dari pada aku gak diberi ijin kerja tolong maklum ya. Please, demi masa lalu kita," rayu Kiara mengerjab erjab pada Beno.


Beno terenyuh gak tahan, pingin rasanya menyentil kening Kiara.


"Kamu, alasan apa?" hardik Beno pada Laras.


"Yakin mau tau? Ini bukan sesuatu yang harus didengar jomblo," jawab Laras ikutan pura pura genit padahal Yudi ada di Jkt, Beno gak tau ini.


Hais, "Lucita!" panggil Beno, menarik tangan Niah pergi.


"Siap Bos," jawab Lucita.


"Permisi Nyonya Nyonya," ucap Lucita mengangguk pada Laras dan Kiara bergantian segera menyusul Beno.


Katanya tuh cewek udah merit tapi kenapa si Bos menarik nya seperti menarik istrinya sendiri.


Zainal mengerut dahi.


Astaga.


Ucap Niah dalam hati karena keteteran menyamai langkah panjang Beno menyeret dirinya.


******♥️


Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2