
Subuh Karunia bangun, Johan sudah tidak ada di kamarnya. Berhubung karena haid, selesai membersihkan diri Niah langsung ke dapur belum ada siapa siapa.
Niah mencari sesuatu yang bisa dimakan, perutnya lapar. Semalam ia hanya makan martabak dari Devan, Karunia kepingin nasi. Syukurlah masih ada sisa semalam juga ayam bakar beserta lalapan dan sambal.
Waduh, subuh subuh makan berat baiklah.
Batin Karunia menyantap makanannya. Tidak berapa lama si mbok keluar dari kamarnya, siap siap hendak bertugas melongo melihat Niah subuh subuh makan nasi lengkap.
"Bibi." sapa Niah sambil menggerogoti paha ayam dicocol sambal.
"Hm." gumam si mbok menelan liur, jadi ngences lihat cara Niah makan.
"Bi, semalam Niah coba kabur tapi karena Bapak ngadu sama Tuan, jadi ketahuan." lapor Karunia pada si mbok.
"Iya bibi tau, Tuan memerintah Bapak untuk ngawasin kamu. Kalau mau lewat jalan belakang ada pintu pagar kecil, tapi jauh kalau mau jalan ke tempat angkutan umum." jelas si mbok, coba mengusulkan.
"Benarkah Bi, minta mobil online jemput di situ kan bisa." seru Niah semangat.
"Tidak bisa, Niah. Ada CCTV menimbulkan curiga kalau ada mobil menunggu di situ, sama saja jadi ketahuan. Kamu jalan dulu mengendap agak jauh, baru cari mobil." jelas si mbok.
"Kapan kamu mau kabur?" tiba tiba Devan menjawab mereka.
"Tuan Devan." Niah kaget begitu juga si mbok.
Melihat kedua orang yang kaget. "Jangan takut Niah, aku di pihak kamu. Kapan kamu mau kabur, aku dengan senang hati akan membantu kamu." Devan menatap Niah, bersungguh sungguh.
Sama saja kalau dengan Tuan Devan, cepat atau lambat Johan akan menemukan ku. Apalagi Tuan Devan pamrih, sepertinya sama saja dia juga menginginkan ku.
"Hah hah hah." Niah menarik
nafas berat pura pura kepedasan makan sambal ayam bakar tersenyum tawar pada Devan.
*
Hari ini Johan tidak ke kantor, semua meeting diwakili Devan. Johan akan bekerja dari rumah, sebelumnya ia kembali memberi arahan pada satpam satpamnya. Mengingatkan lagi tugas utama mereka, menjaga keliling rumah jangan ada celah bagi Karunia untuk keluar.
__ADS_1
Mbok Senah membawa sarapan Dewi ke kamarnya, sudah agak siang karena majikannya itu juga baru bangun. Si mbok menyuapi Dewi makan dengan kasih sayang bagai seorang ibu.
Orang tua Dewi berada di London, sudah lama tidak berhubungan semenjak ia menikahi Johan. Dewi tidak mendapat restu saat menikahi Johan, jadilah ia malu mau mengadu karena dulu tidak mau mendengar cakap orang tua beginilah akibatnya.
"Nyonya bagaimana sekarang, apa rencana Nyonya?" tanya si mbok.
"Setelah Shopie berhasil hamil, aku akan menggugat cerai mbok." jawab Dewi.
"Saya akan sedih, apa Shopie akan jadi Nyonya tetap di rumah ini?" tanya mbok Senah.
Dewi menggeleng. "Tidak tau mbok, saya gak mikirin sampai ke sana takutnya saya drop lagi." jawab Dewi lemah.
"Maaf Nyonya, saya egois. Tapi saya maunya Nyonya tetap jadi majikan saya."
"Maaf mbok, sepertinya tidak bisa." ucap Dewi mantap akan bercerai dari Johan.
Aku harus mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari keterpurukan, semoga tidak ada lagi tekanan dari Johan yang membuat mental ku down.
Batin Dewi, menghela nafas kasar.
Lapor si mbok, Dewi mengernyit.
Ya Tuhan, bagaimana kalau aku juga tidak bisa keluar dari rumah ini? Apa aku harus pura pura akur dengan Niah sesuai keinginan Johan, jadi keluarga harmonis. Agar tidak menimbulkan kecurigaan Johan, paling tidak sampai Shopie hamil. Hanya satu bulan Dewi, bertahan lah. Kalau dalam dua minggu transfer berhasil lebih bagus lagi.
Batin Dewi. "Mbok, boleh tolong panggilkan Niah. Aku ingin dia membantu ku mandi." ujar Dewi.
"Baik, Nya." jawab si mbok semangat.
Semoga Nyonya menemukan jalan keluar.
*
Karunia melamun di kamarnya, tiga orang asisten baru sudah mulai bekerja. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan nya.
Cekrek.. Cekrekk.
__ADS_1
Terdengar ada yang mencoba membuka pintu kamarnya.
Paling Johan, ah untung saja aku tidak lupa mengunci nya. Biarin saja dia marah, malas nak layan.
Karunia menggeliat manja sambil browsing browsing ponselnya, tidak menghiraukan.
Cekrekk .. Cekrekk.
"Niah, buka pintunya." suara mbok Senah.
Ah, kirain Johan."Iya, bentar Bi."
Jawab Niah bangun membuka pintu kamar, "Ada apa Bi?" tanya nya.
"Kamu ikut Bibi, jumpa Nyonya di kamarnya."
"Ya, udah." jawab Niah menutup pintu kamarnya, mengikuti si mbok naik ke lantai dua.
"Ada apa Nyonya memanggil saya, Bi?" tanya Niah deg degan.
"Tidak tau Niah, bibi hanya mengikuti perintah." jawab si mbok.
*
Johan di ruang kerja sambil memantau CCTV mengerut dahi melihat Niah naik ke lantai dua bersama si mbok, apalagi tujuannya kamar Dewi.
"Ada apa Dewi memanggil Niah? Apa Dewi merencanakan sesuatu, agar Niah bisa kabur dari ku?" gumam Johan, menggerakkan bibinya merot sana merot sini.
Karena Johan memasang perekam suara pada CCTV, ia jadi curiga pada Dewi tiba tiba memanggil Niah setelah si Mbok melaporkan masalah Niah semalam yang mencoba kabur.
Tadi subuh juga di dapur ada komplotan yang ingin membantu Niah kabur. Hah! Devan, awas lah kau berani membantu Niah. Tidak perduli walaupun kau temanku, aku akan menghajar mu sampai gak berbentuk.
*******♥️
Jumpa lagi, 👍
__ADS_1