
Di dalam restoran terjadi perkelahian, Johan kesempatan membawa Dewi masuk ke dalam mobilnya.
"Mas, aku gak mau pulang ke rumah, hiks." tangis Dewi ingin keluar tapi pintu dikunci otomatis oleh Johan.
Tanpa menunggu Devan, Johan berhasil keluar dari parkiran restoran Seroja.
Hiks, hiks.
Dewi menangis sedih. "Johan, kita bukan suami istri lagi, kenapa kamu selalu mengganggu kehidupanku." isak Dewi menatap mantan suaminya gak ngerti. Sudah dicerai tapi masih saja dirinya direcoki.
Di hatiku kamu masih istriku, Dewi. Aku gak mau kamu dimiliki orang lain.
Suara hanya dalam hati Johan. "Sayang, pakai sabuk pengaman kamu," Johan suara lembut, terus memacu mobilnya.
Dikira sudah jauh, karena Dewi tak kunjung memakai sabuknya Johan berhenti disisi jalan memasang paksa seatbelt Dewi.
Wajah mereka sangat dekat, hembusan nafas membangkitkan birahi. Johan menatap Dewi gak tahan menangkup tengkuk mencium bibirnya.
Dewi gelagapan, menahan tubuh Johan sekuat tenaga namun tenaga Johan masih lebih kuat darinya.
Walaupun Dewi menggigit bibirnya namun Johan bergeming, rasa amis darah tak dihiraukan nya mencium Dewi semakin nafsu.
Dewi tak berdaya menutup matanya, hanya bisa menangis pasrah membiarkan saja Johan mencumbui nya.
Bug!
Terdengar suara pukulan, Dewi membuka matanya. Johan terjatuh lemas di pelukan Dewi.
Arghh!
Dewi kaget menutup mulutnya.
"Jangan khawatir Nyonya, Tuan hanya pingsan."
*
Menerima telpon dari Ketua Seroja, Wakil ketua gugup dan bingung bagaimana cara menghentikan perkelahian.
Dor!
Perkelahian seketika terhenti oleh suara tembakan wakil ketua, mereka semua terkejut. Semua terdiam di tempat, menunggu apa masih ada tembakan lagi.
"Maaf, Tuan tuan," suara wakil ketua lemah.
Ah.
Barus bernafas lega.
Bug!
Satu tinju melayang ke wajah satu orang bodyguard di depannya, saat ia hendak melawan tangannya tertahan oleh suara sirene polisi terdengar dari kejauhan.
Anak buah geng Seroja pada kabur lari tunggang langgang berhamburan kecuali wakil ketua.
"Siapa yang menelpon polisi?" tanya Lee berbisik pada Barus.
"Tidak tau, aku sibuk berkelahi." jawab Barus juga berbisik.
Kedua mereka memandang pada Arjit yang berdiri di samping Iskan, tampang mereka berantakan namun tidak ada luka.
"Panggil Ketua kamu kemari," Iskan menjentikkan jarinya pada wakil ketua, di belakangnya berdiri dua asistennya.
"Saya ketuanya, Tuan." jawab wakil ketua berbohong sesuai arahan, menunduk ketakutan.
Asisten Iskan segera merampas pistolnya namun isinya kosong.
__ADS_1
"Tadi itu hanya bunyi sound effect untuk mengecoh saat keadaan emergency juga suara sirine polisi adalah aba aba rahasia untuk para bodyguard berhenti berkelahi." jelas wakil Ketua atas kebingungan asisten Iskan.
"Jangan berbohong kamu!" bentak Iskan.
Wakil ketua bejalan terbungkuk bungkuk menghampiri Iskandar.
"Benar Tuan, sayalah ketua. Ketua lama sudah lama pensiun, dia sedang berobat di Singapura sekarang." jawab wakil ketua memelas.
Iskandar memandang asistennya, "Seseorang kabur lewat jalan rahasia. Johan dan juga asistennya tidak ditemukan."
Ucapan asisten Iskandar membuat wakil ketua bernafas lega, itu artinya si Bos berhasil kabur.
Hm, "Cepat sekali mereka bergerak,"
Aku mencari ketuanya yang licin bagai belut jadi gagal gara gara Johan, huh.
Keluh dalam hati Iskandar teringat pada orang kepercayaan nya dulu yang membawa lari uangnya.
Hm, "Akuisisi restoran dan usaha lain atas namanya." Iskan suara tegas pada asistennya menunjuk pada wakil ketua.
"Tuan, maafkan saya. Jangan lakukan itu Tuan, anak istri saya perlu makan juga karyawan saya punya keluarga." mohon wakil Ketua berlutut di depan Iskan.
"Tenang saja, semua karyawan masih akan tetap bekerja. Cuma kamu yang perlu get out dari sini." ketus Iskan.
"Pergilah jumpai bos kamu, katakan padanya agar jangan lari lagi karena cepat atau lambat saya akan menemukan nya."
Arrrgg!
Wakil ketua meraba dadanya, pura pura sesak nafas. Satu orang anak buahnya yang tersisa mengangkat nya ke dalam ruangan.
Iskandar menoleh pada Arjit di sampingnya, Arjit tersenyum sungkan.
"Iskan, saya minta maaf karena karyawan saya acara makan malam jadi berantakan." ucap Arjit.
Hum, kamu tidak tau Arjit aku juga memanfaatkan kamu mencari seseorang tapi Dewi boleh juga pantas direbut dari Johan.
"Aku yang minta maaf Arjit, telah memaksa kamu makan malam di sini. Seharusnya aku menuruti kamu saat meminta ku makan malam di resto hotel WJ," ucap Iskan pada Arjit nada menyesal.
"Sebaiknya kita pergi dari sini Arjit, biar sisanya anak buah ku yang mengurus nya." Iskandar mengajak Arjit keluar.
"Oh iya, istriku."
Arjit teringat pada wajah Olivia yang ketakutan, Barus dan Lee juga gak ada.
Pada kemana mereka, sudah kabur aja dua orang itu.
*
Barus mengebut, mengejar mobil Johan tidak perduli lagi pada keadaan restoran. Ponsel nya berbunyi, panggilan dari Yudi.
"Hallo, Bos." jawab Barus.
"Mana Sabit?" tanya Yudi panik di ujung sambungan karena ponsel Sabit tidak bisa dihubungi.
"Sabit? Maaf Bos, dia bersama Lee." jawab Barus gak yakin juga di mana Sabit atau pun Lee.
Arghh.
Keluh Yudi khawatir pada putranya. Menurut laporan anak buahnya, Sabit dibawa Lee menyusul Barus dan Dewi ke Seroja.
"Cepat panggil Lee mengantar Sabit sekarang juga ke rumah besar!" titah nya nada marah.
Astaga, bagaimana mau menghubungi nya. Aku juga gak tau Lee ada di mana? Tadi terakhir saat bunyi tembakan. Oh Tuhan, Sabit gak kenapa napa kan!
"Baik, Bos," jawab Barus segera memutar mobilnya kembali ke restauran, kali aja Lee dan Sabit masih ada di sana, ah. Saat mengetahui Johan dan Devan kabur, Barus segera mengejar walaupun gak tau tujuannya ke mana.
__ADS_1
"Sepertinya Bos Yudi sudah menelpon Lee maupun putranya tapi gak diangkat, makanya panik nanyak aku," gumam Barus pada diri sendiri mengingat ingat lagi kejadian.
Sekelebat bayangan Sabit dan Olivia keluar dari kerusuhan bersama para pengunjung lain, ah. Barus lega memacu mobilnya kembali ke restauran.
*
Sementara Sabit di dalam mobil Johan jantungnya berdebar, ketakutan melihat Johan yang tak sadarkan diri.
Setelah berkirim pesan pada Lee, Sabit membawa Dewi keluar dari mobil Johan.
Flashback on.
Saat perkelahian Sabit membawa tante Olive ke parkiran, mereka menunggu di mobil. Sembari menunggu sabit mendengar bunyi mobil sebelah dibuka otomatis. Sabit mengitari pandangan nya melihat sekitar, agak jauh terlihat Dewi di gendongan Johan meronta ronta.
Kesempatan itu digunakan Sabit menyelinap walaupun telah dilarang Olivia. Benar saja Johan membawa Dewi masuk ke mobil sebelah.
Semula niat Sabit ingin membantu gurunya mengikuti kemana Johan membawa Dewi. Namun menjadi geram saat Johan mencium paksa Nyonya Dewi yang terisak.
Sabit bangun dari bawah jok mobil belakang lalu meng-karate tengkuk Johan sekuat tenaga. Menyebabkan Johan pingsan tak sadarkan diri.
Flashback of.
"Sabit, benarkan Johan cuma pingsan?" tanya Dewi sambil melirik ke dalam mobil, Johan belum siuman.
"Iya, kata guru Lee begitu," jawab Sabit gak yakin juga dengan tindakan nya.
Baru belajar sudah praktek langsung gak ada guru lagi, ah sudahlah. Tuan Johan orang jahat ini, mana sih guru belum nyampe juga, ah!
Desah dalam hati Sabit, melihat ke setiap mobil yang lewat. Ternyata Devan sampai duluan turun dari mobilnya, Sabit kembali siaga.
"Jangan khawatir Sabit, aku akan mengurus Johan. Apa kalian mau menumpang?" tawar Devan saat meraba Johan masih ada denyutan.
"Tidak mau!" tegas Sabit.
Tidak lama Lee tiba, turun dari mobilnya menghampiri Sabit dan Dewi. "Guru," panggil Sabit berbinar.
"Coba aku lihat, Devan."
Panggil Lee mendekati mobil Johan, khawatir juga atas tindakan Sabit. "Kalian masuklah ke mobil!" titah nya pada Dewi dan Sabit.
"Ayo, Nyonya," ajak Sabit pada Dewi, walaupun enggan Dewi manut diseret Sabit ke dalam mobil Lee.
"Masih bernafas Lee," ujar Devan, melihat raut Lee yang khawatir.
"Aku ingin pastikan, jangan ada urusan dikemudian hari mengenai ini." jawab Lee, mengeluarkan sesuatu dari kantong nya, mengusap ke hidung Johan.
Ada gerakan di wajah Johan, perlahan lahan kesadarannya pulih.
Arhhh.
Johan memicit tengkuk nya.
"Johan." panggil Devan dari bangku kemudi. Tadi dia sempat memindahkan Johan yang berat pakai tenaga, dalam hati kesal.
"Sudah ya Devan, bos kamu sepenuhnya sudah pulih kesadaran."
Mendengar suara Lee dan Devan, Johan menatap keduanya bergantian kiri kanan, linglung.
"Mana Dewi?" tanya nya baru teringat tadi saat mencium Dewi ada yang menepuk tengkuknya.
"Hah, syukurlah."
Ucap Dewi dari dalam mobil Lee bernafas lega melihat Jonah sudah bangun. Walaupun ia kesal pada Johan tapi gak mau juga ada kejadian buruk menimpa nya.
*******❤️
__ADS_1
Jumpa lagi, 👍.