Manisnya Madu

Manisnya Madu
66


__ADS_3

Dewi keluar dari kamar mandi setelah mencuci mukanya, sebelum masuk ruang meeting ia touch up lagi wajahnya. Walaupun tidak berhasil menyembunyikan bengkak di matanya.


Ternyata keriuhan meeting telah berakhir, lampu ruangan juga sudah redup. Johan presentasi di depan layar, sesaat ia berhenti tertegun melihat Dewi masuk ruangan.


Berapa lama aku di toilet.


Gumam Dewi duduk kembali di samping Sora yang main ponsel, tiba tiba Sora baring dengan paha Dewi sebagai bantal. Dewi mengusap lembut rambut keriting Sora.


Yudi menghela nafas membaca Dewi, ia juga telah membaca Johan. Presentasi Johan sangat bagus namun kelakuannya pada istrinya, hais terlalu. Namun itu adalah masalah pribadi.


Selesai meeting, Yudi memanggil Dewi di ruangan Arjit. "Selamat bergabung di WJ. Selain gaji anda akan mendapatkan fasilitas rumah dan mobil, silahkan digunakan dan dijaga sebaik baiknya karena harus dikembalikan lagi manakala kontrak berakhir. Jangan bawa masalah pribadi ke dalam gedung perkantoran, titipkan di sekuriti depan. Tanda tangan di sini." Yudi tegas satu tarikan nafas, menyerahkan berkas map.


"Terima kasih Tuan." ucap Dewi meraih berkas, segera menanda tangani kontrak kerja.


Sementara Arjit berhenti mengunyah mendengar perkataan Yudi. Tadi ternyata Olivia datang lagi alasan mau ngantar makan siang Arjit, namun karena tidak diperbolehkan masuk dengan kesal Olive terpaksa menitipkan bekalnya ke sekuriti untuk dibawa Naik ke ruangan Manager Arjit.


"Yudi rantang bekal bolehlah dititip, bagaimana menitipkan masalah pribadi?" tanya Arjit pada Yudi.


"Itu bukan urusan saya, Manager." jawab Yudi, menerima berkas yang telah ditanda tangani Dewi.


Cis, dengus Arjit.


Apa Yudi cemburu aku mendapat perhatian dari Olive, sejak ada Olivia hidupku jadi lebih berwarna, hahaha.


Batin Arjit, tersenyum devil.


Ck ck ck ck, Yudi berdecak membaca Arjit.


Arjit menatap Yudi heran. Ehm, apa dia bisa membaca pikiranku. Itulah maksud dari tatapannya.


"Bawa ini ke bagian administrasi, agar segera diproses." ujar Yudi memberikan salinan kontrak kerja pada Dewi.

__ADS_1


"Terima kasih Tuan, permisi." ucap Dewi, menarik nafas lega keluar dari ruangan Arjit.


Duduk di depan asisten Yudi sangat menegangkan, terintimidasi dengan wibawanya dan juga...ah. Tidak pantas juga aku memuji suami orang, walaupun tampan.


Batin Dewi. Dari administrasi ia ke kantin, perutnya lapar sudah lewat tengah hari belum terisi nasi.


Di kantin Dewi mendapat telepon dari Johan namun ia membiarkan saja bahkan menekan tombol of di ponselnya.


*


Hari yang sama, Jumat 13.50wib, di kediaman Johan.


Karunia bersiap hendak ke Mall, ponselnya berdering. Panggilan dari Johan.


"Hallo." Niah menjawab panggilan.


"Kenapa belum ke Mall?" tanya Johan.


"Ini sudah siap mau pergi." jawab Niah.


"Kerjaan apa, bukankah sudah ada asisten baru?" tanya Johan.


"Packing baju baju lama Nyonya, katanya mau diberikan ke fakir miskin dan panti asuhan." jawab Niah, di ujung panggilan, Johan mengernyit.


Sejak kapan Dewi suka nyumbangin pakaian bekasnya ke Panti Asuhan? Bukankah Panti, penghuninya biasanya anak anak kecil semua. Selalu nya baju bekas diberikan ke tukang sampah untuk dijual lagi, hm.


"Aku minta supir ngantar kamu." ujar Johan pada Niah.


"Tidak usah aku sudah pesan mobil Online, bye." jawab Niah cepat cepat menutup panggilan.


Hais, hampir saja. Aku mau cari celah untuk bisa kabur, kalau diantar supir ya bisa gagal rencanaku, heh!

__ADS_1


Batin Niah, segera keluar dari kamarnya.


*


"Hais main tutup aja," gerutu Johan, menatap layar ponselnya.


"Ada apa Johan, wajahmu sejak punya isteri 3 makin keriput?" tanya Devan, menyindir.


Mereka lagi makan siang di hotel WJ. Tadi mau ngajak Dewi ternyata dipanggil ke ruang Manager, yang manggil si seram Yudi lagi. Johan jadi sedikit keder melihat wibawa Yudi, teringat pada Tuan muda Bram.


Beruntung sekali hidup mereka punya bayi kembar lucu lucu.


Johan juga sudah berusaha menelpon Dewi namun panggilan nya di reject, ha! "Dewi packing baju." jawab Johan pelan, menangkap gelagat pasti bahwa Dewi benar benar akan meninggalkan nya.


Lalu kenapa belum menggugat.


Dalam hati Johan, membuat panggilan pada mbok Senah. "Hallo Tuan." jawab si mbok setelah suaminya Dadang memberikan ponselnya. Karena Johan menghubungi nomor pak Dadang, bukan ke nomor si mbok.


"Mau kemana Dewi packing baju?" tanya Johan to the point.


Aduh, mati aku. Apa Niah yang mengadu pada Tuan, dasar. Lama lama si Niah ini semakin menyebalkan.


Dalam hati si mbok menatap suaminya. "Tidak tau, Tuan. Cuma diminta letakkan di satpam nanti kalau Nyonya menghubungi lagi." jawab mbok Senah apa adanya. Kalau berbohong, takutnya Johan akan mengetahui nya di belakang hari, karier dipertaruhkan.


"Baju bekas atau bukan?" tanya Johan.


Gleg, mbok Senah menelan ludah ketakutan.


"Baju yang di koper beberapa hari lalu belum dibongkar," jawab si mbok, Maaf Nyonya, ucapnya dalam hati.


Johan memutus sambungan. "Ada apa Johan?" tanya Devan lagi, melihat raut Johan semakin menyeramkan.

__ADS_1


****♥️


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2