Manisnya Madu

Manisnya Madu
124


__ADS_3

Dalam pada itu, di halaman depan telah terjadi keributan.


"Johan, mana Johan!" suara Nyonya Ambar turun dari mobil, celingak-celinguk mencari Pak Dadang.


Pak Dadang buru-buru menghampiri Ambar. "Nyonya besar," sapanya menunduk hormat.


Ha, "Dadang, keluarkan koper dari mobil!" Perintah Ambar.


"Baik, Nyonya." Pak Dadang dibantu supir mengeluarkan Koper.


Lee dan Sabit memandang dari kejauhan, mereka memilih bergabung dengan Satuan pengaman rumah Johan.


Pak Dadang menggeret dua koper besar-besar. "Apa mereka akan pindah kemari, beruntung istriku keburu cuti kalau tidak pasti sudah direpotkan oleh Nyonya," gerutu nya merasa keberatan.


Melihat itu Sabit gak tega datang menolong Pak Dadang, walaupun sudah ditahan oleh Lee dengan alasan mereka kemari bukan mau jadi kacung.


"Terima kasih nak," ucap Pak Dadang senang ada yang bantuin.


Anak masih muda, baik dan tampan, rendah hati pula. Sepertinya bukan orang susah.


Dalam hati Pak Dadang melihat pakaian Sabit lumayan bagus tidak murahan, kulit tubuh dan wajah bersih terawat. Kumis baru tumbuh malu-malu menambah manis senyuman.


Sabit tersipu ditatap Pak Dadang.


*


Nyonya Ambar masuk ke dalam rumah dengan seorang perempuan seumuran Dewi berjalan di sampingnya.


"Johan, kemana itu anak? Sudah tau Mamanya datang bukannya disambut," Nyonya Ambar mengomel.


"Mama," desis Johan pada Devan lalu menutup ponselnya. Keasikan menonton Dewi yang kebingungan nyari surat-surat, gak sadar Mamanya datang.


Cklekk.


Pintu kamar dibuka, Dewi kaget.


Johan sudah tau pakaian dan barang-barang dari lemari serta berkas-berkas dari dalam brankas keluar semua di lantai beralas permadani.


"Sayang, ntar aja nyari nya. Ada mama, ayo kita turun." Ajak Johan menyeret Dewi.


Devan menutup pintu kamar sebelum menyusul Johan. Dewi mengerut dahi.


Jadi dia sudah feeling kalau aku pulang mau ngambil surat nikah dan KK, makanya disembunyikan. Kenapa cuma barang dua itu yang gak ada, dasar.


Dewi memandang sinis Johan, Johan tidak perduli terus saja menarik Dewi turun dari lantai dua.


Benar saja Nyonya Ambar berdiri di ruang tengah dengan satu orang perempuan cantik yang berdiri di samping mamanya.


"Baru sampai Ma?" sapa Johan menyalim tangan mamanya setelah dekat.


Nyonya Ambar melebarkan tangannya, cis terpaksa Johan memeluk Mamanya.


Dewi mundur berdiri di belakang Johan, Johan mengurai pelukan Mamanya kemudian menarik Dewi maju agar bersalaman dengan Nyonya Ambar.


"Nyo, eh Mama...apa kabar?" Sapa Dewi hampir saja salah panggil kalau Johan tidak menyenggol nya.


Nyonya Ambar mengernyit ada yang aneh dengan sikap dingin Dewi dan juga dari segi penampilan lebih formal.


Apa karena ancaman ku terakhir, sikapnya jadi kaku padaku. Masa bodoh!


"Tante," Devan ikutan salim.


"Hm," gumam Nyonya Ambar.


"Kalian berdua menempel terus seperti hidung dan upil. Apa kamu sudah dinikahi Jojo, sekarang jadi sering menginap disini, Devan?" Nyonya Ambar sengaja menyindir.


"Tante, saya masih selera pada perempuan, ciri cirinya seperti wanita yang di samping tante, hehe." jawab Devan menggombal, mengedip mata pada sepupu Johan.


"Langsung saja, ini Erina. Mama bawa sengaja untuk melahirkan cucu cucu mama," Nyonya Ambar to the poin pada Johan.


Prufth!


Dewi hampir ketawa, Johan menoleh ke Dewi yang langsung mengatup mulutnya.


Dewi tidak lagi cemburu, bahkan menertawai ku.

__ADS_1


Dalam hati Johan sedih pake banget.


"Mas Jo apa kabar," sapa Erina.


Makin tampan saja dia.


Dalam hatinya. "Sekarang aku sudah dewasa dan jadi pengacara bukan gadis manja seperti dulu waktu dijodohkan dengan mas Jo," lanjut Erina, mengingatkan Johan.


Hah! Johan tidak perduli pikirannya hanya pada Dewi.


Melihat wajah kesal Johan. "Hai, aku Dede masih jomblo," cengir Devan mengulurkan tangannya.


"Hm," gumam Erina menerima uluran tangan, Devan menggenggam nya erat.


Ck, Erina menepis tangan. Sebenarnya mereka sudah saling mengenal dan biasa bercanda tapi itu dulu saat masih kecil banget. Erina lanjut sekolah ke Singapura dan kerja magang di sana jadi lama tidak berjumpa.


Erina masih menggantung tangannya mengulur pada Johan, mau gak mau Johan menerima uluran tangannya.


Mereka jarang berinteraksi. Johan di London berlama-lama saat Mama meminta nya menikahi Erina, pulang-pulang Johan membawa Dewi sebagai calon istrinya.


Nyonya Ambar murka, waktu Johan menikah dengan Dewi keluarga Erina tidak ada seorang pun yang mau hadir memberi restu termasuk Mama.


"Berapa lama Mama nginap?" tanya Johan.


"Selamanya! Mama akan menemani Erina sementara dia akan tinggal di sini. Erina baru membuka kantor Advocatnya sendiri di Jkt bersama temannya.


"Kenapa gak cari rumah sendiri kan lebih bebas, ngapain di sini?" ketus Johan.


"Diam kamu, Jojo!" Nyonya Ambar memandang Dewi.


"Dewi, apa kamu sudah beritahu Johan tentang poligami?" tanya Nyonya Ambar, Dewi menarik ujung bibirnya.


"O," bibir Johan membulat begitu juga matanya. "Jadi mama yang maksa Dewi agar aku bersedia menikah lagi?" Johan pura pura kesal.


"Hm, kenapa? Kalau menunggu istrimu ini, sampai kapan Mama punya cucu!" ketus Nyonya Ambar.


"Mama, jangan asal bicara!" Sergah Johan mengusap punggung Dewi, Dewi menepis tangan Johan di punggungnya pelan.


"Memang itu kenyataan,..." Nyonya Ambar berhenti bicara mendengar satu mobil masuk pekarangan rumah Johan, semua menoleh.


"Tante," Shopie salim ke Nyonya Ambar, seperti salim ke mertua sendiri.


Nyonya Ambar menarik tangannya cepat. "Kamu tidak lagi bekerja di perusaahan Johan, kenapa datang kemari?"


Johan memandang Devan, bagaimana Mama tau itulah maksudnya.


Devan mengangkat bahu, gak tau juga maksudnya. Padahal baru seminggu Shopie, dirumahkan.


Shopie memandang Johan dan Dewi bergantian.


Hm, meski sudah ditalak ternyata Dewi masih satu rumah dengan Johan. Berlagak seperti suami istri lagi, cis.


Dalam hati Shopie, sinis.


"Dia akan jadi ibu pengganti untuk anak kami," jelas Johan memeluk di bahu Dewi posesif, kembali Dewi menepis tangan Johan.


"Pengganti apa maksudnya?" tanya Nyonya Ambar gak ngerti.


"Mama mau cucu, tunggu saja sembilan bulan lagi akan lahir melalui Shopie. Tapi Benihnya tetap dari aku dan Dewi," senyum Johan pada Dewi kembali memeluk mantan istrinya itu lebih erat, Dewi mendelik pada Johan.


Hehe, tawa Johan tidak perduli.


"Kamu tidak menikahi Shopie, hanya untuk mengandung anak kalian. Astaga! Kamu mau bermain main dengan agama!" Bentak Nyonya Ambar, marah.


Shopie bersorak dalam hati, dikiranya Nyonya Ambar akan membela nya dan meminta Johan menikahi nya secara resmi.


"Main-main bagaimana sih Ma, memanglah keluarga kita tidak terlalu alim tapi masih tau lah hukum." Johan merengut.


"Jadi kamu menikahi nya?!" tanya Nyonya Ambar gak percaya hampir naik pitam.


Hm. "Nikah siri," angguk Johan.


Plak!


Satu tepukan keras di bahu Johan. "Apa gak ada perempuan lain, kenapa gak bilang Mama dulu, Ha!" Nyonya Ambar merasa kecolongan, dua kali Johan menikah tanpa persetujuannya.

__ADS_1


Dasar mak lampir.


Dalam hati Shopie kesal.


"Mama, ini rumah tangga aku dan Dewi. Biarkan kami yang tentukan sendiri, oke,"


Ah! Desah Nyonya Ambar merah padam.


Rencanaku ingin menikahkan Erina dengan Johan apakah harus gagal lagi gara gara satu lagi perempuan sundal ini.


Sinis Nyonya Ambar memandang Shopie gak senang, namun seketika pasang muka ceria pada Dewi.


"Dewi," Nyonya Ambar meraih tangan Dewi, menggenggam nya erat.


"Kamu menikahkan Johan dengan perempuan ini, apa kamu tau siapa dia?" tanya Nyonya Ambar.


Deg, jantung Shopie berdebar.


Apa maksudnya?


"Hm," angguk Dewi yakin. "Dia temanku dari semenjak Sekolah menengah pertama, makanya aku percaya dia gak akan mengkhianati pertemanan kami, iya kan Shopie?"S.enyum Dewi memandang Shopie.


Meski lega tapi Shopie merasa ada yang aneh pada senyuman dan ucapan Dewi.


Apa Dewi juga tau, aku dan Johan pernah hubungan.


Hah, desah Ambar.


Johan dan Devan pandang pandangan.


Dewi sudah tau mengenai Shopie tapi masih berusaha menutupi, tapi Mama? Apa tau juga bahwa aku pernah selingkuh dengan nya.


Dalam hati Johan.


Apa tante Ambar tau Shopie selingkuhan Johan. Dalam hati Devan.


Nyonya Ambar menatap Dewi lekat-lekat, senyuman gak kalah aneh menghiasi bibirnya.


Miris sekali, ini adalah senyuman pertama yang diberikan Nyonya Ambar pada Dewi justru setelah dirinya ditalak Johan.


"Dewi. Karena kamu sudah merestui Johan menikahi perempuan itu, tidak ada salahnya kalau Jojo menikah lagi dengan Erina yang cerdas dan cantik, Mama yakin bibitnya akan lebih bagus daripada si jalal itu," sinis Ambar hampir saja menyebut Shopie ******.


"Mama! Benihnya tetap dari aku dan Dewi, Shopie hanya meminjamkan rahim!" Sergah Johan. "Dan aku tidak mau menikah lagi, Dewi adalah satu-satunya untukku mulai saat ini." Ucapan Johan tegas.


Dia lupa masih ada satu istri lagi di Amrik.


Hem, sinis dalam hati Dewi.


"Silahkan Mama nikahkan saja Johan, dengan siapa saja. Semoga lahir cucu sebanyak banyaknya, saya doakan yang terbaik untuk keluarga Alamsyah," jawab Dewi.


"Dewi!" Johan gak senang nada bicara Dewi.


Senyum Nyonya Ambar semakin lebar. "Nah Johan, Dewi sudah setuju. Kamu tidak perlu repot repot, biar mama yang atur semuanya. Kita buat pesta besar besaran untuk kamu dan Erina, yang dihadiri oleh pengusaha-pengusaha sukses lainnya. Mama pengin lihat kamu bersanding di pelaminan yang megah, tidak seperti pernikahan kamu sebelumnya hanya makan malam, hm."


"Mama!" Bentak Johan di wajah Ambar. Perempuan yang telah melahirkannya itu sampai terjengkit kaget.


"Silahkan pergi keluar dari rumahku sekarang juga, selagi aku meminta nya baik baik." Suara Johan kembali lembut.


"Jojo, t-tapi.... Dewi sudah s-setuju." Suara Nyonya Ambar bergetar ketakutan.


"Tidak ada tapi tapi, keluar kataku! Pengawal!" Panggil Johan suara keras.


Mendengar suara Johan, dua orang satpam masuk menghadap. "Seret mereka keluar sekarang, cepat!" suara Johan menggelegar.


Kembali Ambar kaget, Dewi dan juga Shopie menciut bahkan Devan.


"Johan, kamu anak durhaka." Jerit Nyonya Ambar marah, air matanya Keluar. Belum dipersilahkan duduk sudah diusir.


Johan melotot pada pada mamanya. "Maaf Ma, aku tidak perduli dengan keturunan, kenapa mama memaksa dan mengacaukan rumah tanggaku. Aku tidak mau kehilangan Dewi, please Mama pergi sekarang juga. Tidak ada lagi pernikahan."


Johan suara memelas mengatup kedua tapak tangannya di dada memohon, air matanya juga keluar.


Setelah itu menyentak Dewi ke dalam pelukannya, menangis lah Johan sejadi-jadinya.


******❤️

__ADS_1


Jumpa lagi, 👍


__ADS_2