
Niah masuk ke kamarnya hendak bersiap, baju kaos putih gambar stroberi longgar nampak kutang dan ketek kalau tangan diangkat nampak pusat. Bawahan jeans hot pants, beautiful leg dibiarkan terbuka. Kaki kecilnya hanya beralas sendal jepit hitam juga bergambar stroberi jadi pilihannya.
Johan memandang Niah, "Kenapa pakai ini keluar rumah?" protes Johan melihat bibir Niah tak kalah mencolok, merah menyala lengkap dengan aye liner menjengkit ke ujung alis.
Bulu mata lentiknya tinggal dikasih maskara biar tebal aja, karena memang sudah panjang tak perlu sambung bulu mata palsu. Rambut ekor kuda diikat tinggi, pipi merona blush on.
"Sudahlah, lagian gak turun. Cuma di mobil ini, bye!" ujar nya sambil menyelempangkan tas kecilnya di bahu.
Ck, Devan berdecak. "Johan, kapan kau mati," bisik Devan di telinga Johan.
Johan menoleh, mendelik pada Devan. "Kalau mati pun, aku pasti akan membawa nya," sinis Johan mengikuti Niah dari belakang.
Cis, dengus Devan.
Dewi sudah di teras menunggu Niah, mengernyit melihat penampilannya.
Apa mau jual diri? Nih anak aslinya makin kelihatan liar.
Batin Dewi buang muka terlihat wajah Johan yang merengut dengan penampilan Niah.
"Ayo, Nyonya. Saya akan mengantar anda kemana saja," Niah mengajak Dewi, ia sendiri berjalan ke sebelah kemudi.
"Ke kantor WJ, bukan kemana saja!" sergah Johan di belakang Niah menepuk pundaknya sebelum Niah sempat masuk mobil.
"Iya ya," ujar Niah menoleh, mulutnya maju satu inchi.
Ingin rasanya mencium Niah namun ada Dewi gak jadilah, ah. Seketika Johan teringat, barusan itu apa?
Astaga, aku mencium Dewi di depan banyak orang.
Ada rasa nyut nyut di hati Johan, rasa malu menghampiri nya melirik Dewi yang duduk di jok belakang menatap lurus ke depan pakai kaca mata lebar gak kalah cantik.
Tin tin.
Dari dalam mobil di depan kemudi, Niah membunyikan klakson. Johan melambai pada kedua istrinya itu eh.. satu udah mantan, ralat dalam hati Johan menyesal ia buru buru men-talak Dewi.
Demi apa, coba. Bukankah niatku pertama mau poligami. Hah!
Johan mendesah. "Devan, kita meeting!" panggil nya pada Devan saat sudah di ruang tengah.
"Iya, setidaknya biarkan aku makan!" teriak Devan dari dapur duduk di samping Pak Dadang, suami mbok Senah yang juga lagi sarapan.
"Apa kamu gak sarapan?" tanya Devan setelah Johan berdiri di sampingnya.
"Selesai makan naik ke ruang kerja, bawakan sarapanku," titah Johan berlalu dari hadapan dua orang yang sedang makan.
__ADS_1
"Aku ini asisten direktur apa baby sitter sih, urusan sarapan minta aku. Pak, apa gunanya itu tiga asisten rumah tangga baru?" keluh Devan pada Pak Dadang.
"Biar nanti saya yang bawakan, si mbok yang siapkan." jawab Pak Dadang menoleh pada istrinya berdiri mematung dengan muka pucat.
"Iya, ini lagi disiapin." jawab mbok Senah suara bergetar.
Soalnya tadi saat menunggu Niah dandan, Dewi kesempatan nyelinap ke dapur mengambil tas bajunya dari tangan si mbok membawa nya keluar dari pintu samping. Si mbok gak berani membantah Nyonya, sekarang ia takut gimana kalau Tuan rewind CCTV, ah!
*
Niah melirik Dewi dari spion depan. "Nyonya, apa anda mau make up dulu. Saya ada bawa yang baru belum pernah digunakan," Niah menawari Dewi pouch kecilnya.
"Tidak," jawab Dewi singkat, pandangan nya keluar jendela.
"Atau anda mau ke salon dulu, di depan ada satu." tawar Niah lagi saat melihat GPS dashboard ada tulisan beauti center.
"Tidak perlu, langsung ke kantor." jawab Dewi suara tegas.
Gak apa gak dandan, lembur ini. Sudah ada serum kinclong dan lipglos. Hm, terpaksa beli make up lagi.
Batin Dewi teringat make up-nya yang telah hancur semalam buat nge-lempar Johan.
Niah mengemudi sambil melihat kiri kanan spion, apa ada yang mengikuti mereka. Ternyata ada satu mobil dari tadi di belakang meraka, Niah menandai platnya.
"Biar saja, mereka gak mungkin sampai masuk ke gedung WJ." jawab Dewi datar, masih gak mau menatap Niah meskipun melalui spion.
Melihat Dewi mau berinteraksi kesempatan Niah ambil buat minta maaf, baiklah niah menghela nafas pelan.
"Nyonya, saya mau minta maaf soal tangan saya yang lancang, kemarin," ucap Niah hati hati dan membesarkan hatinya sekiranya belum dimaafkan.
Dewi terdiam, teringat lagi kan jadi panas hatinya. Dewi bergeming gak mau menanggapi.
"Kalau gak dikasi maaf juga gak apa, artinya di akhirat pun kita masih jumpa di pengadilan Tuhan." gumam Niah, memutar mobil kawasan perkantoran WJ.
Hm, amit amit.
Batin Dewi terdengar ponselnya berbunyi, masuk panggilan dari rumah sakit.
"Hallo." Dewi menjawab panggilan.
"Nyonya Dewi, saya dr.Obgyn anda mau memberitahu kabar baik," suara di ujung sambungan.
"Iya dokter saya Dewi, katakan kabar apa?"
"Embrio sudah bisa ditanam 3 hari dari sekarang jadi tepatnya senin pagi. Diharapkan kehadiran Nyonya Shopie hari ini untuk datang kontrol sekaligus perawatan persiapan sebelum transfer," jelas dokter ( kira kira begitu ya, soalnya othor bukan dokter, hehe)
__ADS_1
Dewi terdiam, sudah malas berhubungan dengan Johan dalam hati Dewi dilema.
Niah melihat raut Dewi, ia tau itu pasti mengenai program hamil karena Dewi menyebut dokter pada pemanggil nya.
"Nyonya, lanjutkan saja program lagian bukan anda yang direpotkan mengandung. Nyonya telpon saja Shopie, nanti biar saya yang akan mengantar nya." saran Niah.
Dewi memandang Niah, Niah menarik ujung bibirnya mengangguk.
Bukankah dia kemaren yang bilang, ngapain program.
Batin Dewi, fokus ke telepon.
"Bagaimana, Nyonya?" suara dari dalam telepon.
Aku nikah lagi pun belum tentu hamil bisa awet sampai melahirkan, gimana kalau keguguran lagi...
Program tabung lagi mana ada waktuku sekarang sudah kerja, butuh biaya gak murah pula.
Biarlah lanjut..Johan yang bayar ini dan Shopie yang ngandung, buat kembar sekalian nanti dibagi dua anaknya...
Beberapa wanita single dari berbagai belahan dunia melakukan inseminasi (donor superma) agar bisa punya anak, aku sudah ada ya dimanfaatkan saja..
Batin Dewi akhirnya memutuskan, juga terhasut omongan Niah.
Yang penting sudah cerai, tinggal gugat.
"Baiklah dokter, Nyonya Shopie akan segera ke sana," jawab Dewi.
"Nyonya, karena embrio yang dihasilkan sejumlah lusinan. Berapa kira kira yang akan ditanam, dan apakah anda ingin sisa nya dibekukan? Proses ini bisa tahan paling lama sepuluh tahun, untuk jaga jaga jika transfer pertama belum berhasil masih ada sisa embrio lainnya tanpa perlu pembuahan lagi." jelas dokter.
"Berapa embrio bisa transfer paling banyak dokter?" tanya Dewi.
"Jangan lebih dari lima Nyonya, takutnya kalau jadi semua resiko anak kembar bagi janin dan juga induknya," jawab dokter.
"Ya sudah, transfer lima," jawab Dewi.
"Sisanya kalau mau dibekukan ada tambahan Nyonya, untuk biaya perawatan dan biaya nginap embrio di lab." jelas dokter lagi.
"Lakukan saja dokter, saya akan membayar untuk itu." jawab Dewi.
*******♥️
Hi, jangan lupa selalu like ya. Vote dan hadiah juga.
Jumpa lagi, 👍
__ADS_1