
Sementara Shopie melakukan medical cek up, Dewi dan Karunia menunggu di luar ruangan dokter.
Pasti ini karena Johan yang menolak menceraikan aku, sikap Nyonya gak lagi ramah.
Hah, desah hati Karunia. "Nyonya." panggil nya mencairkan suasana beku antara mereka, karena majikanya itu diam saja.
"Hm, ada apa." jawab Dewi menatap Karunia.
"Nyonya, saya ingin bercerai dari Tuan." ujar Karunia.
Dewi mengernyit, "Kamu kan sudah tau kalau Johan tidak mau menceraikan kamu."
"Tapi kan...kalau saya gak jadi dipakai seharusnya Nyonya segera memutus kontrak merobek semua surat yang berkaitan dengan surat perjanjian termasuk surat nikah. Urusan saya dengan Nyonya, bukan dengan Tuan jadi saya mohon Nyonya usahakan agar Tuan segara menceraikan saya."
Kalau aku yang pegang sudah dari semalam surat itu robek.
Batin Dewi, "Kamu takut pada Johan, apa dia pernah mengganggu kamu?" tanya Dewi menyelidik.
Gleg, mati aku. Aku pura pura lupa atau pura pura lugu aja, batin Niah
Jadi pernah.
Batin Dewi melihat Niah yang terdiam.
"Bagaimana cara Johan mengganggu kamu?" cecar Dewi, penasaran apa Niah akan jujur padanya.
Semoga mereka ribut setelah ini dan aku langsung dicerai terus di usir juga gak apa daripada dicuekin sama Nyonya.
__ADS_1
"Semalam saya ke ruang kerja, saya kira tidak ada orang jadi saya masuk meletak teh di meja, tiba tiba Tuan memeluk saya dari belakang." jelas Niah.
"Cuma itu?"
Hais, gak mungkin juga kan aku bilang suaminya ngeremas remas susu.
"Iya cuma itu, suer!" Karunia membuat jari tanda V, tesenyum tawar.
Karunia dapat melihat Dewi menahan dirinya, antara senyum atau seringai tercetak samar di ujung bibirnya.
Sabarlah Niah, aku juga ingin sekali kamu keluar dari rumahku.
"Nyonya Dewi, silahkan masuk." seorang perawat keluar dari ruangan dokter memanggil Dewi.
Hah! Karunia menarik nafas kasar.
**
"Johan, kenapa kamu sembunyi di ruaganku. Bukankah kamu kemari menyusul istrimu?"
Tanya Bagus pada Johan yang tiba tiba sudah ada di ruangannya. Dari balik kaca jendela ruangan Bagus, Johan mengintai Dewi dan Karunia yang sedang ngobrol di bangku tunggu luar.
"Diamlah Bagus, nanti aku ketahuan. Dewi sudah masuk ruangan, sekarang kamu bawa Karunia diam diam menemui ku disini, cepat!" titah Johan.
Ck ck ck ck, "Devan, saat muda teman kamu ini tidak begini, kenapa sekarang sudah tua jadi seperti abege yang lagi jatuh cinta." gerutu Bagus menatap Devan yang sama kesalnya pada Johan.
"Dia telat puber, Bagus." jawab Devan.
__ADS_1
"Kenapa kamu belum keluar Bagus, apa ku batalkan saja kontrak kerja sama kita. Dan aku tidak lagi memakai jasa rumah sakit jelekmu ini." Johan mendelik kesal pada Bagus.
"Johan jangan kejam begitu, tunggulah."
~
"Nona, boleh ikut ke ruangan saya sebentar." ujar Bagus pada Karunia setelah dekat.
"Ada apa dokter?" tanya Karunia.
"Ada Tuan Johan." jawab Bagus pelan hampir tak terdengar.
"Saya tidak bisa dokter, maaf. Saya tidak mau nanti Nyonya nyariin saya." ucap Niah sambil melihat ke dalam ruangan lewat kaca jendela di mana Dewi sedang duduk berbincang hadap hadapan dengan dokter.
"Kalau Nona tidak mau bertemu dengan Johan sekarang juga, beliau akan membatalkan program hamil Nyonya Shopie. Apa Nona tidak kasihan pada Nyonya Dewi." jelas Bagus alasan pura pura memelas.
Sebagai pemilik rumah sakit kenapa aku gak bisa tegas pada si telat puber itu.
Ck, "Baiklah dokter." jawab Karunia lalu mengikuti Bagus ke ruangannya.
Niah masuk ke ruangan Bagus menutup pintunya meninggalkan Karunia, kelihatan Johan sangat serius duduk di sofa.
"Sini." tepuk Johan tempat kosong di sampingnya.
**♥️
Jangan lupa like ya guys, 👍
__ADS_1