Manisnya Madu

Manisnya Madu
29


__ADS_3

Malam hari di rumah, di ruang kerja.


Sudah dua hari Johan tidak komunikasi dengan Karunia, dirinya benar benar rindu.


Hm, anak itu menggemaskan sekali.


Apa yang dia harapkan dari hasil test?


Niah tidak mau ku sentuh, apa itu artinya dia yakin aku bapaknya...lalu kenapa mau menikah?


Bagaimana reaksi mama kalau aku bilang Niah putriku dengan pembantu lamanya...


"Hahahaha...." Johan tertawa membayangkan, kemungkinan wajah mamanya dengan berbagai ekspresi.


"Mas." panggil Dewi masuk ruangan kerja Johan.


"Hm, kenapa?" tanya Johan.


Hm, kenapa? Biasanya ada kata sayang, sekarang tidak ada.


"Apa nya yang lucu, kelihatan mas bahagia?" tanya Dewi, berdiri di samping suaminya.


"Apa yang harus di sedihkan, mas harus rajin olah raga wajah biar awet muda." jawab Johan.


Cis, "Kenapa belum masuk kamar sudah jam sebelas?" Dewi duduk di pangkuan Johan.


Johan menyandarkan tubuhnya, "Ada berkas email yang harus aku pelajari." jelas Johan tanpa menyentuh Dewi, seperti biasanya.


Satu lagi perubahan mu mas, tanpa kau sadari lama lama kita jadi kulkas dua pintu.


Batin Dewi, menyadari sikap dingin Johan padanya akhir akhir ini.


"Kamu kenapa belum tidur?" lanjut Johan bertanya pada Dewi yang terdiam memandang nya.


"Mas gak seganas dulu, udah hilang selera padaku?" ujar Dewi.


Oh, sudah dua malam aku tidak menyentuh Dewi yang biasanya seperti minum obat tiga kali sehari, hehe.


Batin Johan terkekeh. "Bukan sayang, mana mungkin mas hilang selera sama kamu. Mas sengaja tahan, nyimpan superma untuk program hamil tapi kalau kamu mau, ayo aja." jawab Johan mencoba tersenyum genit.


Kenapa aku bisa hilang selera bercinta, ah Karunia. Kamu membuatku mati daya kehabisan energi.


Hm, Dewi mencium di leher Johan, menyesap dan melu mat, mau gak mau Johan mendesah walaupun tidak ada reaksi apa apa pada juniornya.


Hm, "Baiklah." Johan berdiri menggendong Dewi masuk ke kamar mereka, Dewi mencium Johan agresif.


Dengan mengingat ciumannya bersama Karunia, Johan sukses memuaskan Dewi.


~


Dua hari kemudian.


Di kantornya Johan mendapatkan laporan dari petugas rumah sakit bahwa Karunia terbukti bukan putri Johan.


Hah! Johan bernafas lega. "Kamu buat salinan sebaliknya, yang menyatakan bahwa Nona Karunia adalah putriku." titah Johan.


"Baik, Pak." jawab Petugas rumah sakit.

__ADS_1


Devan yang duduk di depan Johan mendengar pembicaraan sedikit kecewa bercampur heran.


"Johan, kenapa kau lakukan itu?" tanya Devan.


"Kenapa lagi? Ya ingin mengikat Niah di sisiku, biar saja dia yakin aku bapaknya dan Dewi tidak lagi mencurigai kedekatan ku dengan Niah. Aku bebas memeluk Niah di depan Dewi, karena dia putriku, haha ha ha." jelas Johan tertawa keras gak ada beban.


"Astaga Johan, kamu sudah gila."


Hm, "Aku gila karena Karunia." ujar Johan.


~


Karunia sudah tidak sabar menunggu hasil tes namun karena Johan tidak lagi mengganggu nya, Niah sedikit tenang.


Hubungan Niah dengan Dewi juga dingin, majikan nya itu kebanyakan mengurung diri di kamarnya.


Sore hari Niah nyandar di sofa dapur habis makan rujak mangga, "Bibi, Niah bosan di sini." keluh Niah menjilat jilat bibirnya.


"Iya, bibi tau. Jadi gimana, bibi cari orang gantiin kamu mau?" tanya mbok Senah.


"Hm." angguk Niah, "Cariin ya, Bi." mohon Niah.


"Iya, baiklah Niah." ujar Mbok Senah gak tega membiarkan Niah sendirian nanti saat ia cuti, apalagi masuk Shopie, hah!


"Tapi apa kamu yakin Tuan akan membiarkan kamu pergi?" tanya mbok Senah.


"Hah!" Niah juga menarik nafas berat. "Menurut Bibi?" Niah balik nanya.


"Kamu kan tau, Tuan menyukai kamu makanya Nyonya bersikap begitu jadi acuh. Bukan hanya padamu Niah, pada bibi juga begitu. Bibi jadi enggak enak hati." jelas mbok Senah nada sendu.


Apa yang kau lakukan Dewi, anak itu tidak bersalah.


**


Dua hari berikutnya, waktunya mengantar Dewi dan Shopie ke rumah sakit dokter Bagus.


Karunia mengepal tangan, yes! Semangat, karena hari ini juga dia akan mendapatkan hasil sampel test-nya.


Program berjalan lancar, Shopie di mobil juga diam tak bersuara.


Setelah mengantar Shopie dan Dewi bergantian, Niah permisi pada Dewi meminjam mobil biar cepat sampai. Setelah mendapat ijin, Niah tancap gas ke rumah sakit.


Deg deg deg.


Sampai di rumah sakit, Jantung Niah berdebar saat membuka amplop. Dahinya mengerut bagaimana cara melihat hasilnya lalu bertanya pada petugas.


"Baiklah Nona di sini tercatat bahwa anda dan Bapak Johan memiliki kesamaan sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen yang artinya anda dan Bapak Johan adalah anak dan ayah." jelas petugas.


Ya Tuhan.


Ucap Niah meneteskan air mata.


"Terima kasih pak, saya permisi." ucap Niah.


Langkah Niah gontai keluar dari ruangan petugas, entah sedih entah bahagia ia tidak tahu mengapa ia menangis.


Di dalam mobil, Niah terdiam sejenak sebelum memacu mobilnya kembali ke rumah. Tanpa Niah sadari ada sepasang mata yang mengawasi nya.

__ADS_1


~


Sampai di rumah Niah disambut Dewi di ruang tengah.


"Berikan hasil test nya?" Dewi to the point.


Hah, Karunia terperangah. "Bagaimana Nyonya tau?" tanya Karunia gugup.


Dewi mengulurkan tangan menatap Niah tajam. Karunia mengambil amplop dari dalam tas kecilnya, memberikan nya pada Dewi.


Hah!


Gantian Dewi terkesiap melihat hasilnya. "Jadi ini maksud kamu masuk ke rumahku!" sergah Dewi.


Plak!!


Satu tamparan mendarat di pipi Niah bertepatan Johan masuk ke dalam rumah diikuti Devan berjalan di belakangnya.


"Dewi, ada apa ini?" Johan suara keras, hatinya sakit melihat Karunia meringis kesakitan.


"Lihat berani sekali anak ini membuat fitnah begini, berapa umur kamu saat menggauli ibunya?" Dewi suara keras menghardik, melempar kertas hasil test ke wajah Niah.


Johan menunduk mengambil kertas, pura pura membaca nya. "Dengan apa kamu mengambil sampel!?" tanya Johan suara keras, Niah terlonjak kaget. Walau Johan merasa kasihan namun bagaimana lagi, ia harus bersandiwara.


Devan yang melihat Niah terpojok merasa kasihan namun tidak bisa berbuat apa apa, dasar suami istri sialan. Devan hanya berani memaki di dalam hati.


"Dengan apa kamu mengambil sampel?" tanya Johan kali ini suara pelan.


"Jawab!" bentak Dewi.


"Anu, Tuan. Rambut halus dari cd Tuan." jawab Niah takut takut, menahan air matanya jangan sampai tumpah.


Mbok Senah keluar air mata melihat Niah.


Kasihan sekali anak yatim piatu itu tidak tau apa apa, dalam hati mbok senah terisak.


Lain lagi Johan, ia ingin tertawa melihat Niah ketakutan tapi ditahan, menyesal ia nanya. "Apa kamu pikir ini hasil akurat, bisa saja itu rambut istri ku Dewi."


Hah! Karunia menatap Johan, maksudnya apa? Itu arti tatapan Niah diartikan Johan.


Dewi buang muka ditatap Johan. "Istriku ini diam diam suka memakai cd ku, bisa saja itu rambutnya." jelas Johan.


"Mas!" pekik Dewi tertahan, malu banget rasanya ketahuan rahasianya terbuka, dikira nya Johan tidak tau.


Ck, Dewi berdecak kesal.


"Baiklah Niah, kita lakukan test ulang dengan sampel darah, biar afdol." tegas Johan lalu menarik Niah, keluar rumah.


Dewi mengejar mereka. "Mas, mau kemana?" jerit Dewi.


"Ke rumah sakit, kemana lagi." jawab Johan.


"Kamu tunggu di rumah, ayo Devan." titah Johan.


****♥️ Jumpa lagi.


Jangan lupa like ya guys, 👍

__ADS_1


__ADS_2