Manisnya Madu

Manisnya Madu
40


__ADS_3

"Ayo kita pulang." Johan mengandeng Niah meninggalkan apartemen.


Karunia diam saja dirinya di seret Johan, diakui nya Johan baik dalam penciuman. Mana tampan wangi pula, tak ayal Niah terbawa suasana.


Tapi Johan suami Dewi, dia dinikahi hanya untuk hamil bukan untuk jadi simpanan. Mendapat suami dengan cara curang, bukanlah impian Niah.


Devan membawa mobil keluar dari kota reklamasi, menatap aneh pada dua orang yang saling diam. Bahkan duduk aja berjauhan.


Karunia menatap keluar jendela sementara Johan sibuk bolak balik melihat ke layar ponselnya, sebentar sebentar mendesah.


Ada masalah apa lagi si kucing garong.


~


Sementara Dewi di Mansion Damien, asik bermain dengan Farrel. Lumayan lah bisa melupakan kesedihan hatinya sejenak, setelah dua hari ini ia menangis.


Farrel mengajak nya makan es krim, padahal Dewi masih kenyang tadi makan besar dengan Shopie dan Niah. Tapi demi menyenangkan Farrel dan dirinya, Dewi coba menikmati es krim saat Farrel menyuapi nya.


"Enak?" tanya El.


"Banget." angguk Dewi, gantian menyuapi Farrel.


"Hihi." Farrel tertawa, memamerkan gigi nya. Dewi mencubit pipi El, gemas.


"Kamu darimana Dewi?" tanya Damien heran Dewi nyetir sendiri mobilnya, tiba tiba sudah di depan mansion.


"Aku dari pulau reklamasi kota baru bersama teman ku. Treatment di salon viral milik keluarga Wijaya dan aku beruntung bisa bertemu langsung dengan Nyonya Alisha." jelas Dewi.


"Apa kamu sudah pernah kesana Damien?" lanjut Dewi bertanya.


"Sudah. Perusahaan ku diminta mengatur jaringan sistem keamanan proyek tahap 2. Mungkin akan lanjut ke tahap 3." jelas Damien.


"Wah, hebat dong." puji Dewi.


"Presdir WJ group yang hebat, baru 20-an sudah sukses." Damien merendah, mengingat usia nya sudah 30-an baru sekarang berhasil merintis usahanya sendiri di bidang IT.


"Apa kamu berteman dengan presdirnya?" tanya Dewi.


"Tidak Dewi. Dalam urusan bisnis aku hanya bertemu dengan Manager perencana yang namanya Arjit. Menurut kabar, Presdir WJ di Amrik. Dia terkenal dikalangan pebisnis karena susah dijumpai. Semua urusan dipegang oleh asistennya." jelas Damien.


"Boleh kamu rekomendasikan aku Damien, aku ingin bekerja. Jauh jauh kuliah di London hanya jadi ibu rumah tangga mana gak punya anak. Bagaimana kalau tiba tiba suamiku membuang ku."


Hm, Damien mengerut dahi mendengar ucapan Dewi.


Ah, tapi terakhir jumpa, Johan sangat posesif pada Dewi.


Dalam hati Damien menepis kecurigaan nya. "Apa ada gelagat ke arah situ?" tanya Damien tak mampu menahan rasa penasaran nya.

__ADS_1


"Mana tau, buat jaga jaga. Mertuaku tidak menyukai ku Damien, karena belum bisa memberi nya cucu." Dewi alasan.


"Bagaimana dengan program?" tanya damien.


"Minggu ini mulai, bulan depan baru bisa ketahuan hasilnya." jawab Dewi.


"Sebaiknya kamu urus program dulu, kalau kesulitan uang beritahu aku." ujar Damien.


"Cis." Dewi merengut, imut.


*


Devan memutar mobil masuk pekarangan hunian indah Johan.


"Johan, aku pulang." pamit Devan saat Johan hendak keluar dari mobil. Sudah dua malam ia tidur di rumah Johan, jadi pingin santai di Apartnya sejenak.


"Baiklah Devan, terima kasih." ucap Johan lemah.


Johan turun dari mobil, melihat pada Karunia yang telah masuk ke dalam rumah duluan menghilang di balik pintu. Johan baru ingat sepanjang jalan pikirannya penuh pada Dewi.


Kenapa bisa aku gak ingat Niah, apakah ini cinta atau obsesi semata. Apapun itu aku gak mau kehilangan Dewi maupun Niah.


Johan melangkah masuk ke rumah, langsung ke kamarnya di lantai dua. Sementara Karunia ke dapur, ingin memberi bibinya oleh oleh martabak.


"Bibi." panggil Niah ke kamar mbok Senah.


"Iya bentar, bibi keluar Niah." jawab mbok Senah terjaga karena memang dia sudah terlelap dari tadi.


Ada Niah artinya Nyonya Dewi juga sudah pulang.


Batin Mbok Senah mau setor muka dulu siapa tau ada pesan untuk dikerjakan besok.


"Apa Nyonya sudah naik?" tanya si mbok pada Niah.


Niah mengernyit. "Apa Nyonya belum pulang?" Karunia balik nanya.


Hm, mbok Senah melihat jam 22.30wib. Jarang banget Nyonya Dewi, jam segini masih di luar rumah.


"Kamu gak pulang bareng Nyonya?" tanya mbok Senah nada khawatir


Karunia menggeleng. "Niah pulang dengan Tuan." jawab nya.


Astaga!


Mbok Senah dapat merasakan hawa perang antara suami istri akan meletus sebentar lagi.


*

__ADS_1


Johan di kamarnya terduduk di tepi ranjang, menatap layar ponselnya.


Ini kedua kali Dewi mengunjungi Mansion itu. Apa dia sudah bosan jadi istriku, awas saja kalau pulang. Akan ku kunci dia di kamar gak bisa kemana mana.


Geram Johan melempar ponselnya, baru terasa perutnya lapar. Johan keluar kamar lalu ke dapur mencari makanan.


Mendapati Karunia baring lemas di sofa menonton tv dan si mbok yang lagi menikmati martabak.


"Geser." ujar nya menepuk kaki Karunia.


"Tuan, mau disiapkan makan?" tanya mbok Senah, berhenti mengunyah.


Hm, angguk Johan.


Ck, Niah bangun memberi tempat bagi Johan duduk.


"Mau kemana?" Johan menahan tangan Niah yang hendak beranjak dari sofa.


"Bantuin bibi nyiapin makan." jawab Niah.


"Temani aku." Johan menyentak Niah kembali duduk, tangannya terulur mengambil martabak lalu makan.


"Mana ponsel kamu!"


Ujar Johan pada Niah. Niah merogoh sakunya memberi ponsel pada Johan.


"Buat panggilan pada Dewi." ujarnya.


Ck, Karunia mencari kontak nomor Dewi. "Memangnya Tuan gak punya ponsel." gerutu Niah.


"Ahh!" lalu menjerit saat Johan menyumbat mulutnya martabak.


"Hallo Niah, ada apa." jawab Dewi saat panggilan berhasil tersambung, Johan bisa mendengar karena Niah menyalakan tombol mic.


"Nyonya kenapa belum sampai rumah?" tanya Karunia.


"Aku mampir ke rumah teman Niah, ini sudah di pintu gerbang?" jawab Dewi memasuki pekarangan rumah nya.


"Sudah di depan, Tuan." ujar Niah pada Johan. Dewi di ujung panggilan bisa mendengar nya.


Hm, mau telpon saja pakai ponsel Niah.


Batin Dewi masuk ke rumah langsung nak ke lantai dua, sampai di kamarnya kaget melihat ada ponsel terburai di lantai.


******♥️


Jangan lupa Like, vote dan hadiahnya juga ya guys, jumpa lagi. 👍

__ADS_1


__ADS_2