
Dewi tetap diantar Barus, Arjit satu mobil dengan Olivia. Mereka ke salon dulu sebelum ke kampung Koneng.
"Aku nunggu di luar ya," ujar Barus segan pada Arjit.
Kan tadi bilangnya harus nungguin kayak pengemis kalau boleh se-sedih mungkin.
"Barus, ayo ikut masuk." ajak Dewi saat Barus memilih menunggu nya di mobil.
"Kamu bantuin aku milih gaun mana yang cocok, oke. Tuan Arjit akan sibuk dengan Nyonya Olivia, aku sendirian siapa yang mau menilai, ayolah!"
Dewi memaksa Barus masuk, ia segan gak ada teman di dalam sementara Arjit akan fokus ke Olivia. Lagian entah kenapa Dewi merasa nyaman bersama Barus.
Dalam hati Barus kesenangan, Dewi memaksa nya ikut masuk menilai penampilan nya.
Lumayan juga ide si Bos. Kalau dia maksa artinya aku penting baginya, hihi.
Barus tersenyum dalam hati.
"Kamu body maskulin, jiwa feminim. Wajah bengis hati melankolis, hihi. Ayo semangat!" bisik Arjit nyengir di telinga Barus menjejeri langkah nya, tangan Arjit memeluk di pundak Barus.
Dasar kejam si Arjit, bilang Wajahku bengis. Biar wajah Devil tapi hati angels dan aku masih ting tong. Dadaku yang berbulu ini ibarat hutan lindung, belum terjamah oleh perempuan manapun kecuali ibu, suka jambak suruh cukur kalau lagi kesal karena gak pulang pulang sampai sebulan. Lagian, gimana mau pulang ditagih mulu, kapan bawa istri. Serba salah, pulang salah gak pulang salah, hah!
Keluh dalam hati Barus.
Olivia berjalan bersama Dewi, menggandeng tangannya. Ia sudah tau modus makan malam suaminya adalah ingin mencarikan jodoh untuk Dewi agar tidak diganggu lagi oleh mantan suaminya dan bisa move on dari rasa kecewanya cuma masih dirahasiakan dari Dewi biar natural bukan karena perjodohan.
"Dewi, kamu tau. Teman Arjit orangnya sangat tampan dan tajir, awas lho kamu jangan sampai kepincut. Bukankah kamu masih belum sah bercerai dari suami." Olivia memberi sinyal Dewi.
"Ah, saya belum mau cari pasangan dalam waktu dekat Nyonya. Kalau nanti saya mau gak akan lihat tampan, saya yang penting hatinya mau menerima saya apa adanya. Mantan suami juga tampan tapi saya kecewa." jelas Dewi.
"Iya, tapi jangan lama lama Dewi, usia sekarang adalah golden time kamu untuk menikmati hidup. Jangan fokus pada satu pria seperti diriku, sia sia waktu 15 tahun, hah!" keluh Olive teringat penantian nya pada Yudi.
"Tapi sekarang anda bahagia mendapat orang baik seperti Tuan Arjit dan itu buah dari kesabaran anda." jawab Dewi.
Hm, angguk Olivia membenarkan Dewi. "Tapi teman Arjit ini juga baik, dia tidak pernah menyentuh perempuan," jelas Olivia. "Sampai dikira homo," lanjutnya.
Oh, jangankan Dewi, Olive juga kaget mendengar ucapannya sendiri. "Jangan jangan...memang iya." desis Dewi di wajah Olive.
Olive mendelik melirik Arjit yang berjalan dengan Barus agak jauh dari mereka. Sejauh mana suaminya itu mengenal temannya, hem.
"Bisa benar tapi bisa juga tidak, kita lihat saja. Pokoknya jangan lama lama menutup diri, deh. Sekarang kita datang fokus untuk makan, restoran Seroja terkenal dengan seafood nya karena dekat dengan pasar induk. Makanan lautnya yang fresh dan terbaik, kualitas ekspor." Olive menyemangati Dewi.
__ADS_1
"Tapi, kenapa si Hulk itu ikut?' bisik Olivia bertanya melirik Barus.
"Ehm," Dewi menarik ujung bibirnya.
Sudah dua orang menyebut Barus Hulk, pertama Johan sekarang Olive. Tapi kan wajahnya manis, good looking. Modis lagi, lebih ganteng dari aktor vin Diesel saat masih muda.
*
Di ruangan VIP restoran Seroja, meeting antara Devan dan wakil ketua Seroja.
Johan melamun sendirian, mendapat laporan dari intel yang ditugaskan nya mengawasi Dewi. "Apa, Ke salon!?" Johan geram.
"Ikutin terus?" titah nya.
"Ada apa Johan?" tanya Devan melihat raut kesal bosnya.
"Untuk apa dia berdandan pergi dengan bodyguard si Yudi? Awasi juga dia, ah! Aku sudah curiga waktu di kantor WJ mereka duduk berdua saling tatap, sepertinya si Hulk itu juga berminat pada Dewi." Johan marah mukanya ketat.
Hm, Devan menarik nafas kasar. "Dewi masih menarik dari segi penampilan dan usia masih muda, wajar banyak yang berminat. Makanya kamu ngapain kepedean main talak aja, dia seharusnya yang menggugat kamu mengingat perbuatan kamu padanya sangat menyakitkan."
"Sudahlah, yang lalu jangan diungkit. Bantu aku merebut hati Dewi lagi dengan menjauhkan kambing kambing congek itu dari nya. Standby Devan, kita susul Dewi." tegas Johan.
"Iya, sebentar. Kan belum tau kemana tujuan mereka." Devan.
"Tidak apa, masalah asmara," Devan.
"Oh," wakil ketua.
Ck, decak Johan.
*
Di salon, Olive dan Dewi pilih pilih baju Arjit dan Barus yang jadi juri nilai.
Setelah mendapatkan gaun, Olive dan Dewi make up. Arjit dan Barus menunggu dengan setia di sofa.
Baru ini pertama kali Arjit nungguin istri dandan di salon. Istri pertama dulu pintar make up atau kalau ingin agak serius memanggil juru make up ke rumah.
Hm, lumayan seru juga tapi beruntung Barus ikut. Kalau tidak, serasa kambing congek nungguin perempuan dandan kayak gak ada kerjaan.
Cis, sinis Arjit. Apalagi Barus.
__ADS_1
Jangankan istri, pacar pun ia gak punya. Sibuk latihan beladiri sejak masih belia dan jadi bodyguard WJ setelah mengantongi sejumlah sertifikat, sampai akhirnya diangkat jadi asisten Yudi.
"Arjit apa kamu kenal betul dengan temanmu ini, jangan jangan dia gak doyan tempe?" tanya Olivia to the point suara gak ngerti pelan.
"Hei, tentu saja dia normal. Dia patah hati, kekasihnya meninggalkan nya di hari pernikahan mereka,"
Arjit teringat temannya itu saat mereka masih usia 20-an pada lomba lomba siapa nikah duluan takut dikatain bujang tak laku. Padahal sekarang usia 40-an jangankan lelaki, perempuan pun ada yang belum nikah, biasa aja tuh. Apalagi wanita karier, hm.
"Ada yang seperti itu di dunia nyata, lari di hari pernikahan kirain cuma di drama. Terus dia gak belok kan?" tanya Olivia lagi, meyakinkan.
Gleg, mana ku tahu.
Dalam hati Arjit menelan ludah. "Sudahlah, gak usah pikir ke sana dulu. Aku sudah janji mau makan malam, kalau gak suka gak apa tidak dipaksa tapi nolaknya secara halus, ya." Arjit.
Yes, Barus.
*
Selesai make up dan memakai gaun, Dewi dan Olive keluar dari ruang ganti baju. Barus dan Arjit terpelongo menatap Dewi, gak ada yang melihat ke Olive.
"Ehm..ehmm,"
Olivia berdehem, barulah Arjit melihat ke istrinya, Olive membuang muka merajuk.
Hehe. "Maaf sayang, kamu sangat menyilaukan. Mata tuaku ini gak sanggup memandang langsung. Ayo kita berangkat." Arjit terkekeh malu ketahuan, segera menggandeng Olivia.
Cis, dengus Olivia berjalan menegakkan wajah sombongnya.
"Dewi, kamu sangat cantik. Mau gak aku kenalin ke ibu sebagai calon menantu?" Barus menggencarkan rayuan nya.
Ck, "Barus...aku masih ingin sendiri, ngerti! Tunggulah lima tahun lagi."
Aish!
"Lima bulan aja ya, lima tahun kelamaan." tawar Barus.
Dewi mendelik Barus. "Barus...kamu carilah gadis, ngapain mau sama janda gak bisa beranak. Yang ada aku akan dilempar lagi dari rumah kamu, seperti si Johan. Kamu mau, aku dilempar ibumu karena gak bisa memberi nya cucu."
Ucapan Dewi menyakiti perasaan Barus, hatinya pun sedih.
Aku sih bisa terima tapi ibu, nyuruh nikah cepat kan karena ingin segera mendapatkan cucu, hah!
__ADS_1
*******♥️
Jumpa lagi, don't miss to push the button like ya guys, Thanks, 👍