Manisnya Madu

Manisnya Madu
86


__ADS_3

Minggu Dewi bangun.


Selesai subuh karena sudah biasa membantu si mbok di rumah Johan, tanpa canggung ia ke dapur seolah rumah sendiri.


"Masak apa, mbok?" tanya Dewi pada Bu Dwi yang membelakangi nya.


"Sudah bangun, Dewi?" jawab Dwi balik nanya, menoleh pada Dewi.


Oh.


Dewi kaget ternyata dia halu, kirain mbok Senah ternyata Ibu Dwi. Dewi tersenyum malu. "Maaf Bu, kebiasaan di rumah ada si mbok." ucap Dewi.


"Gak apa, panggil aja suka suka asalkan sopan saya gak masalah," jawab Dwi.


"Iya, Bu. Jam berapa Nyonya Alisha datang?" tanya Dewi.


"Masih lama, sekitaran jam dua belas ke jam satu gitu sekalian makan siang," jawab Dwi.


"Yah, siang saya diminta lembur sama Tuan Arjit di resto hotel WJ," ujar Dewi, melihat lihat apa ada yang bisa ia lakukan membantu si mbok eh Ibu Dwi.


Hm, "Sayang sekali kalau gak, kamu bisa jumpa Nyonya Alisha?"


"Saya sudah dua kali jumpa Bu, beliau sangat ramah dan baik hati." jelas Dewi.


Hm, gumam Dwi.


"Bu, saya biasa bantuin si mbok masak saat di rumah. Apa ada yang bisa saya kerjakan?" tanya Dewi, daripada bosan.


Dwi melihat lihat. "Itu ada kentang dan telur rebus mau dikupas, kalau mau silahkan saja." ujar nya menunjuk panci, memajukan mulutnya.


"Oke,"


Jawab Dewi mengangkat panci mengambil wadah bersih, membawa nya ke meja dapur, duduk santai sambil ngupas ngupas kentang.


Si mbok lagi apa ya, sudah ada tiga asisten baru pastilah dia bosan gak ada kerjaan. Tapi kan bisa juga ngobrol ada bapak suami setia.


Batin Dewi teringat Johan hari minggu biasanya ia pergi futsal sarapan di luar bersama Devan.


Sejak Niah datang, sebentar saja hancur rumah tanggaku..

__ADS_1


kena badai aku yang terhempas keluar dari rumah...


Tapi dengan kehadiran Niah juga aku jadi bisa tau kebusukan mas Johan...hiks hiks.


Tidak terasa, Dewi keluar air mata.


Bukan lagi ngupas bawang, kok nangis.


Dalam hati Dwi memilih diam gak mau ganggu atau nanya nanya, lebih baik fokus memasak.


*


Subuh juga, di kediaman Johan.


Niah buat teh dan sarapan sendiri. Satu malaman ini Johan tidur dengannya, sebel bikin sempit aja gak bisa gerak badan Niah jadi kaku. Selagi pria cabul itu belum terlelap selama itu pula Niah gak bisa tidur.


Habis nge-teh Niah baring di sofa, masih ngantuk soalnya. Mau tidur di kamar masih ada Johan, hooamm...


Niah nguap memejamkan matanya.


Mbok Senah keluar dari kamar bareng Pak Dadang, ck ck ck, keduanya berdecak.


"Niah," panggi mbok Senah, Niah udah gak dengar.


"Hm, gak biasanya dia tidur lagi setelah subuh," gumam si mbok.


"Kamu dulu lebih parah, waktu kita penganten baru. Malas bangun, sarapan disuapin sambil merem." ujar Pak dadang teringat masa lalu.


Ck, si mbok mendelik. "Pergilah sana." ketus nya mengusir suaminya.


*


08.00wib Di rumah besar, Dewi, Dwi dan Sabit lagi sarapan.


"Di Amrik ini jam sembilan malam, kita telpon mama Laras ya Bu, kangen liat trio baby Lara,"


Sabit meletakkan ponselnya di holder posisi berdiri.


"Iya, setelah itu Kiara ya," ibu Dwi semangat.

__ADS_1


Dewi juga antusias, penasaran dengan wajah istri asisten Yudi. Kalau istri Presdir udah pernah lihat di TV waktu nikahan dan photo nikah juga ada di ruang tengah, bingkai gede.


"Mana Sabit, gak diangkat?" tanya Dwi menunggu gak sabar.


"Masih memanggil, menunggu sambungan. Sabarlah, Amrik kan jauh Bu!" jawab Sabit padahal dia juga udah gak sabar.


Tidak lama kelihatan di layar, wajah Laras sedang memegangi dodot di mulut dua bayi.


"Sabit," panggil nya tersenyum lebar.


Oh, Dewi terperangah. "Cantiknya, senyumnya manis amat." gumam Dewi.


Masih muda, kirain entah seumuran aku gitu, ternyata gadis belia. Aih, pantes saja Olivia, walau pun cantik dari segi usia pastilah kalah.


Batin Dewi, teringat Niah juga lebih kurang seumuran Laras.


Pantes aja Johan memilih Niah dan gak sabar menceraikan aku. Hah, semua Lelaki tampan sama saja gak perduli betapa wibawanya mereka, ada yang muda ngapain lagi sama yang tua.


Batin Dewi, akhirnya ngerti gak akan mengharap pada Johan lagi mau kembali padanya.


Baik aku siapkan mental dan besok senin ke kantor pengacara agama.


"Baby Duta, Ma!"


Suara Sabit menyadarkan Dewi dari lamunan.


"Ini, udah tidur habis berenang mimik cucu, ngantuk deh." jawab Laras, mengarahkan kamera ke baby box. Kelihatan wajah bayi yang terpejam.


"Laras." panggil Dwi.


"Iya, Bi." jawab Laras, mengarahkan lagi kamera ke depannya.


"Kiara kan? Besok Laras pesan biar dia yang telpon Bibi kalau sekarang ada Tuan muda, segan mau manggil," jelas Laras mengerti maksud Dwi.


Cis, dengus Dwi.


Hm, desah Dewi meraba bibirnya teringat lagi pada Johan saat terakhir mencium nya padahal sudah dicerai.


Anggap saja ucapan selamat tinggal, hah!

__ADS_1


*******♥️


Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, terima kasih, 👍


__ADS_2