
Ha, kembali ke rumah...gak akan.
Dalam hati Dewi segera ia keluar ruangan mengejar Johan. Kelihatan Johan lagi di depan lift bersama Devan.
"Mas," panggil nya.
"Iya sayang, ada apa?" tanya Johan berbalik badan tersenyum pada Dewi berakting, soalnya ada Arjit di pintu ruangannya menatap tajam pada mereka.
Ih, Dewi kesal dengan sikap mesra Johan namun Dewi berusaha bersikap biasa seolah mereka baik baik saja. "Tuan," Dewi menunduk pada Arjit.
Hm, angguk Arjit pasang muka datar. Memandang ini jam istirahat, Dewi menoleh pada Johan.
"Aku perlu bicara," Dewi menarik Johan.
Johan membiarkan saja dirinya diseret Dewi sambil memandang pada Arjit tersenyum, begitu juga Devan mengikuti mereka setelah mengangguk hormat pada Arjit.
Maksudnya, saya akan mengurus mereka.
Begitulah pandangan Devan diartikan Arjit lalu ia masuk ke ruangannya terduduk di sofa membuka rantang bekal Olivia.
*
"Mas, kita sudah cerai. Kalau masalah Shopie, dia sudah dewasa bisa mengurus dirinya sendiri lagipula ada Niah di rumah. Kenapa bukan dia saja yang mas suruh mengurus nya." Dewi mengomeli Johan di pintu tangga darurat.
Hm, Johan menarik nafas pelan hatinya kembali sendu teringat Niah yang kabur. Memandang wajah Dewi sedikit mengurangi kesedihannya dan hatinya jadi tidak terlalu kosong.
Ternyata Dewi masih ada di dalam hatiku hanya tertutup oleh bayang bayang Niah. Ibarat gunung diselimuti awan, bukan gak ada cuma tidak terlihat namun masih bisa aku rasakan keberadaan nya.
"Niah sudah pergi dari rumah, kabur entah kemana. Naik jet pribadi dengan seorang pria muda dan tampan. Mbok Senah akan cuti, kamu jangan lepas tangan gitu aja terima bersih. Ini semua rencana kamu, Dewi!" ujar Johan suara keras di ujung kalimat. Dewi terjengkit kaget.
Oh, pantesan wajahnya berkabut, mendung seperti mau hujan. Kehilangan ku, dia gak gini gini amat hah!
"Masalah sekamar aku keberatan, walaupun pisah ranjang. Lagi pula Shopie istri sah kamu, lebih halal bagimu sekamar dengannya daripada dengan ku, maaf aku keberatan."
Ah!
Seketika tubuh Dewi terdorong ke tembok, Johan membungkam mulut Dewi dengan bibirnya. Dewi kaget matanya membulat sempurna.
Dewi berusaha mendorong Johan namun Johan semakin menarik Dewi ke pelukannya memperdalam ciumannya, sesaat Dewi terbuai.
Arhg!
Dewi mengerang saat kesadaran nya pulih, Dewi memberontak kembali mendorong Johan.
Johan semakin gairah mencium Dewi membayangkan Niah, meski begitu akal sehatnya masih ada mengingat ini di gedung perkantoran WJ ada CCTV dimana mana, seketika Johan melepaskan pagutan nya.
"Tapi aku lebih suka melihat kamu di dekatku daripadanya, keberadaannya membuat ku mual."
Bisik Johan suara berat, menjilat jarinya bekas mengusap bibir Dewi. Johan berlalu meninggalkan Dewi yang termangu dengan nafas masih memburu,
Aah ah hah! Dewi terduduk lemas di tangga.
Andai mudah bagiku melupakan kamu mas Johan, sepuluh tahun itu gak gampang ngilangin nya dari ingatan hanya dengan sebuah penghianatan. Aku bahkan masih menikmati ciuman mu.
__ADS_1
Dalam hati Dewi mengusap matanya yang berembun. Terasa perutnya lapar, Dewi menuruni tangga keluar dari pintu darurat ke kamar mandi.
Beruntung sepi.
Dewi menatap dirinya di cermin, mengusap bibirnya yang sedikit kembung. Setelah membenahi wajahnya dan pakaiannya, Dewi keluar dari kamar mandi menuju kantin terduduk di salah satu bangku di pojok.
Seseorang meletakkan makanan di meja dan duduk di depan Dewi, padahal ia belum pesan.
"Ada orang yang meminta saya membuatkan anda makanan ini, silahkan dinikmati." ujar nya mendorong bekal makanan dan satu gelas minuman warna kuning jeruk.
"Hm,"
Dewi melihat seragam kantin group WJ, di dada ada tulisan namanya, Lee seo jin.
Apa dia dari Korsel...seperti nama artis.
"Boleh saya tau siapa orang itu, pak?" tanya Dewi.
"Bu, harga sudah termasuk uang tutup mulut. Tapi saya jamin makanan ini gak ada racunnya, pamali menolak rejeki," ucap Lee seo jin.
Siapa sih,
"Maaf saya gak bisa terima, saya akan pesan makanan sekarang." Dewi berdiri.
"Anggi.
"Hah!"
Bagaimana Si Lee seo jin tau nama itu, nama panggilan ayah dan ibu padaku saat di rumah.
"Siapa kamu?" tanya Dewi, mengingat ingat.
Lee seo jin mendongak. "Duduklah dulu makan, wajahmu sangat kusut." ujar Lee seo jin meraih tangannya, pantat Dewi kembali terhenyak di bangkunya.
Dewi dapat merasakan aura kantin yang heboh, beberapa karyawan berbisik bisik tentang mereka.
Mungkinkah mereka mengagumi si Lee yang tampan.
Batin Dewi, menatap Lee lekat lekat.
Lee membuka kotak makan, kelihatan nasi dengan telur mata kerbau, ada sosis dan nugget goreng kesukaan Dewi waktu kecil sedikit mie hun dan selada. Kalau dulu selalu diberi saos, ini kelihatan nya seperti sambal bawang. Sambal yang digemari Dewi setelah dewasa.
Rasa rindu pada ibunya, kembali air mata Dewi jatuh tanpa malu malu. Lee seo jin memberi nya sapu tangan.
"Siapa kamu?" tanya Dewi lagi, sambil mengusap air matanya.
"Anggap saja aku utusan ayah dan ibu kamu dari London,"
London, berarti benar ini pasti ibu.
"Apa mereka memata matai ku?" tanya Dewi.
"Bisa dibilang begitu, orang tua mana yang melepaskan putri kesayangannya bulat bulat pada pria seperti Johan."
__ADS_1
Hm, dia juga tau Johan.
Dalam hati Dewi memperhatikan Lee seo jin.
Wajahnya halus seperti porselin, berapa biaya operasinya bisa tampan seperti artis Korea. Kayaknya aku juga perlu fermak wajah, agar cantik dan muda mirip Kim so hyun.
Kini ia percaya pada Lee seo jin mengenal orang tuanya berarti bukan orang jahat, Dewi menyeruput jusnya. Jus jeruk kesukaan nya, dulu...
Ah, segar.
Dewi makan dipandangi Lee seo jin, saat separoh makan kelihatan Yudi masuk kantin diikuti Barus dan Sabit.
Ngapain mereka?
Jadi benar Sabit akan membantu Yudi di WJ, kerja apa dia umur segitu muda banget.
Dewi berdiri saat Yudi melewati mejanya lalu menunduk hormat, sejenak Yudi mengerut dahi melihat Lee seo jin.
Lee seo jin ikut berdiri menunduk hormat. "Tuan, saya Chef pengganti sementara Chef Rony libur." ujarnya.
Hm, "Silahkan, saja." ujar Yudi, menghela nafas berlalu dari hadapan mereka.
"Barus perketat keamanan! Periksa lebih teliti orang orang yang keluar masuk WJ. Lain kali konfirmasi saya kalau ada karyawan pengganti, tidak terkecuali kantin perusahaan bahkan tukang sampah yang berubah wajah perlu dipertanyakan!"
Yudi suara tegas sambil berjalan menuju ruang makan khusus dirinya kalau kebetulan inspeksi dapur dan kantin peruahaan.
Walaupun Barus bingung, "Siap Bos!" jawab nya patuh, terbiasa dengan sikap Yudi yang spontan melirik pria yang bersama Dewi memang orang baru.
Ah, bos Yudi kenapa sangat teliti padahal datang hanya sekali sekali.
Batin Barus melihat suasana mencekam tercipta atas kehadiran orang nomor dua di group WJ itu. Jarang jarang asisten Yudi masuk kantin, beberapa Chef lain kejar menyapa nya menunduk hormat mengikuti Yudi di belakang. Dalam hati mereka deg degan, ini pasti kena omel gegara si chef pengganti.
Dewi mengerut dahi, melihat sikap Yudi lamat lamat ia mendengar perkataan nya barusan sepertinya mengenai Lee.
"Dewi," panggil Lee pada Dewi yang terbengong.
"Hm," gumam Dewi.
"Nanti pulang kerja kita ngobrol lagi, aku tau kamu penasaran."
Ujar nya meninggalkan Dewi masuk ke ruangan bergabung dengan chef dan karyawan kantin lainnya yang sudah berbaris rapi di depan Yudi.
Hm, baiklah. Aku juga sudah habis masa istirahat, nanti saja makan lagi. Tampang Yudi mengintimidasi, susah mau nelan makanan.
Gumam dalam hati Dewi menutup makanannya, melirik kilas ke ruangan transparan dimana Yudi dan karyawan kantin bertatap muka.
***** ♥️
Jumpa lagi.
Jangan lupa selalu like ya guys, vote dan hadiah juga.
Terima kasih, 👍
__ADS_1