Manisnya Madu

Manisnya Madu
71


__ADS_3

Devan memandang Dewi yang terbaring pucat di kasur dan Johan yang terpejam di bahu Niah bergantian. Devan bertemu pandang dengan Niah yang terlihat gerah menahan kepala Johan di bahunya, dengan tatapan seolah minta tolong padanya.


Aku ini asisten urusan kantor, kenapa ngurusin masalah pribadi jadi ke bawa bawa.


Ck, batin Devan berdecak. Sebelum ini ia hanya nginap kalau ada proyek urgent yang perlu diselesaikan besok pagi pagi, itupun sebulan belum tentu sekali. Namun sekarang belum sebulan ia sudah nginap di kediaman Johan beberapa kali dan itu bukan untuk masalah kantor.


Hais, "Bos, pindah lah kamu ke tempat lain, jangan merusak pemandangan di sini!" sergah Devan, kasian melihat raut Niah yang gelisah merasa segan dengan perlakuan Johan.


"Tuan." panggil Niah memberanikan diri, pelan menepuk di dada Johan.


Johan membuka matanya, merah dan basah, "kapan kamu datang, mana dokter?" tanya nya melihat Devan, suaranya sengau serak serak parau.


Johan seperti orang linglung melihat pada Dewi yang terbaring sudah dipasangi infus. "Kenapa aku gak melihat ada dokter datang kemari, Devan apa kamu yang pasang infus di tangan Dewi?" tanya Johan, meracau.


Astaga!


"Johan, apa kamu tidak melihat itu ada perawat berseragam? Dokter sudah pergi, ada apa lagi dengan kalian. Yang satu pingsan yang satu lagi seperti orang gila."


"Kamu jangan berisik, nanti Dewi bangun."


"Johan, pergi bersihkan lah dirimu, apa kamu gak kasihan pada Niah sudah mau muntah mencium bau mu." Devan suara ketus, seketika Johan mencium keteknya.


"Aku gak pernah bau, dasar kau!" Johan menghardik Devan, kesempatan Niah segera bangun dari samping Johan.


Johan menghampiri kasur memandang sayu pada Dewi yang terbaring lemah dan pucat, tangannya terulur mengusap wajahnya lembut dan halus.


"Dewi, siapkan bajuku." titah nya memandang pada Niah, ia sendiri beranjak ke kamar mandi berjalan lemah.


Karunia mengernyit mendengar Johan memanggil namanya, Dewi. "Apa dia nyuruh aku nyiapin bajunya?" tanya Niah pada Devan menunjuk ke hidungnya sendiri.


Hm, "Siapkan saja, dia sudah gila hati hati saja." ujar Devan mengangguk pada Niah lalu menoleh pada si mbok yang menatap sendu pada Dewi.


"Mbok, pergilah istirahat sudah ada perawat nanti kemari lagi." ujar Devan ikut prihatin melihat Dewi.


"Iya Tuan hiks, titip Nyonya ya mba." ujar si mbok terisak pada perawat, kebetulan juga ia pingin ke kamar mandi.


"Baik, Bu." ucap perawat menunduk.

__ADS_1


Sementara Niah, di ruang pakaian di depan lemari mencari baju Johan yang pantes dipakai untuk waktu istirahat malam.


"Suamiku dulu tidak begini, akur kepada ketiga istrinya. Neh, si Johan ah! Belum sebulan, istri pingsan udah dua kali..


Belum layak beristri dua, sok mau poligami, cih!"


Gerutu Niah sambil memilih milih baju, teringat saat dia jadi istri keempat seorang pengusaha negri jiran. Karena hanya formalitas untuk menyenangkan hati bundanya, si majikan tetap komit pada perjanjian. Tidak pernah sekalipun ngambil kesempatan untuk nyentuh Niah.


Hah, desah Niah menjangkau pakaian sambil jinjit. Pilihan jatuh pada celana bahan dan atasan kaos merk buaya darat, meletakkan nya di depan lemari di gantung pada handel pintunya. Niah kembali bergabung dengan Devan dan perawat yang duduk di samping kasur Dewi.


"Niah, kamu pakai susuk apa sampai Johan sangat tergila gila padamu. Apa kamu tau aku juga menginginkan mu?" Devan mengeluh pada Niah.


Aduh!


Tiba tiba Devan terpekik, Johan menyentil tengkuknya. Dengan mengenakan jubah mandi Johan berjalan ke wardrobe.


"Johan, sialan kau!" Devan mengutuk bos nya.


"Niah, mana baju." panggil Johan dari ruang pakaian.


"Itu di depan lemari gantung." jawab Niah, suara sedikit keras agar Johan mendengar nya.


Ck, terpaksa Niah menyusul ke wardrobe lagi.


"Ini." unjuk Niah pada baju yang tadi digantung nya.


"Ambil beberapa pasang lagi, bawa ke kamar kamu. Kalau Dewi siuman aku tidur dengan mu, untuk malam ini aku akan menemani Dewi." Johan suara pelan di telinga Niah.


Niah merinding, menjauh, "Tuan, berbaikan lah dengan Nyonya saat pingsan maupun saat siuman." ujar Niah nada sedih dan miris memandang Johan.


Saat pingsan dia kelihatan khawatir dan kasihan pada Nyonya, tapi saat Nyonya mulai segar neh orang berulah lagi.


"Arrrgg!" desah Niah seketika, saat Johan menumpuk pakaiannya di tangan Niah sehingga tubuh Niah tertimbun baju baju Johan.


"Bawa, susun di lemari kamu!" titah nya.


"Ye." jawab Niah patuh, berjalan menuju pintu keluar dari kamar.

__ADS_1


Ck, Devan berdecak melihat Niah kewalahan. "Hati hati di tangga Niah." kejar Devan, membantu Niah.


Hm, desah Johan menghampiri perawat, ia telah pun berpakaian lengkap yang dipilihkan Niah, "mbak, tunggu di luar." ujar nya


"Iya, Tuan." jawab perawat keluar dari kamar Johan menarik pintunya.


Johan memandang Dewi, mengusap ubun ubun nya. Meraih jemarinya membawa ke bibirnya, tangan Dewi terasa dingin.


"Dewi, maafkan aku telah menyakiti kamu." suara Johan sendu mencium jemari Dewi.


Antara sadar antara mimpi mendengar tangisan, Dewi membuka matanya sayu ada bayangan Johan di sisi tempat tidurnya.


Apa aku sudah mati, kenapa aku ditangisi.


Desah dalam hati Dewi, namun kantuk yang berat membuatnya kembali tertidur.


*


Subuh Dewi bangun, heran melihat ada bekas perban infus di tangannya.


Hm, apa yang terjadi padaku sampai harus di jarum.


Dalam hati Dewi mencoba duduk dari baringnya. Melihat di sofa ada johan tertidur, seketika ia ingat bahwa semalam telah ditalak oleh pria yang menikahi nya 5 tahun yang lalu itu.


Itu artinya mereka bukan lagi suami istri, tahun ke 6 tidak akan ada lagi anniversary.


Hm, ya sudahlah.


Dewi beranjak dari kasur menuju kamar mandi, teringat hari ini sabtu. Walaupun weekend, kemarin Manager Arjit berpesan dia perlu masuk dikarenakan Asisten Yudi tidak punya banyak waktu di Jkt. Jadilah hari ini ia harus lembur untuk membantu atasannya itu.


Semua itu tak lepas dari pengamatan Johan yang terbaring di sofa, sebenarnya ia juga sudah bangun. Melihat Dewi ia tadi pura pura tidur.


Saat Dewi menghilang di balik pintu kamar mandi seketika Johan bangun keluar dari kamar, tujuannya mencari Niah.


Namun sebelum itu ia ingin memanggil si mbok untuk membantu Dewi kalau kalau dibutuhkan.


*****♥️

__ADS_1


Hi hi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, jumpa lagi. 👍


__ADS_2