
Niah membawa nampan ke ruang kerja, Johan di depan pintu sudah menunggu nya.
"Ayo masuk." Johan meraih nampan, menunggu Niah masuk baru kemudian menutup pintunya. Cklekk, kedengaran pintu dikunci.
"Tuan, kenapa makan di sini." tanya Niah jalan diikuti Johan.
"Aku ingin berdua denganmu, sambil kerja kamu suapin aku. Karena kamu aku bolos setengah hari, banyak kerjaan yang terbengkalai." ujar Johan, meletakkan nampan di meja sofa.
"Kenapa aku yang disalahkan, ini kan untuk kepentingan Tuan agar segera mendapatkan anak." jawab Karunia, gak senang dirinya dijadikan alasan.
"Aku tidak mempermasalahkan anak ada atau tidak, Dewi yang mau." jawab Johan, meraih Niah duduk di sofa.
"Astaga Tuan, kenapa menyalahkan Nyonya. Seharusnya anda mendukung nya, saat ini Nyonya membutuhkan anda di kamar berdua dengannya memberi nya dorongan semangat. Bukan membuat modus agar bisa berdua denganku." Karunia, nada kesal mengomeli Johan.
Johan melotot pada Niah. "Kenapa kamu sangat cerewet, seharusnya kamu senang aku lebih menyayangi mu. Aku datang ke rumah sakit, apa kamu gak anggap itu sebagai dukungan? Ayo suapin aku, cepat!" sergah Johan mulai habis kesabaran.
"Apa Tuan lagi puber kedua, norak banget minta disuap." Karunia ketus gak mau kalah.
Ehm, Johan tersipu malu, "Aku memang sedang jatuh cinta, jatuh cinta padamu." jawab Johan mencubit pipi Karunia pelan.
Uwek!
Karunia berlagak mau muntah, "Makan sendiri lah, aku juga lapar belum makan malah disuruh nyuapin kamu." bibir Karunia maju satu inci lalu ia berdiri, Johan menangkap tangannya kembali Niah duduk terhempas di samping Johan.
"Ya udah aku suap kamu, sini." Johan menarik Niah ke pelukannya, menekan tengkuk ingin meraih bibir.
Ups, "Ngapain?" tanya Niah buang muka menahan wajah Johan dengan tangannya.
"Cium, tadi belum puas kamu membalas hanya sekedar."
Arhg!
Pekik Niah, tiba tiba dirinya terangkat ke pangkuan Johan. Kembali Johan mendekatkan wajahnya, mengecup Niah di wajah sedapatnya. Johan mengeratkan pelukannya, tubuh mereka menempel tak berjarak. Menunggu Niah mencium nya, Johan memajukan bibirnya.
Karunia menatap bibir yang beberapa hari ini suka bertengger di mulutnya, mengalung lengan di leher Johan dengan manja.
Ha! Niah mendesah dalam hati, ia yang lagi datang bulan merasakan darahnya ser seran di bawah duduk nya. Keintiman ini tak ayal menggoda imannya.
Dasar setan.
__ADS_1
Dalam hati Niah, "Pergilah pada Nyonya Tuan, saat ini dia lagi butuh anda di sampingnya. Dukungan moral, cinta dan kasih sayang. Aku janji gak akan kemana mana, asalkan Tuan tidak mengabaikan Nyonya karena saya." Karunia suara lembut menangkup pipi Johan kiri dan kanan.
Johan manyun menarik bibirnya, memeluk Niah di pangkuannya dengan sayang mengusap punggungnya.
"Ya, sudah. Bawakan makanan ke kamar, kamu suapin aku di depan Dewi." Johan suara pelan namun seperti petir menyambar di telinga Karunia.
"Apa! Kamu sudah gila!" teriak Niah, ingin turun dari pangkuan Johan, malas melayani orang tua puber kedua.
Johan masih menahan nya. "Sesuai permintaan kamu, aku ke kamar memberi dukungan pada Dewi. Jadi datanglah bawa makanan saat ku panggil, ini perintah." tegas Johan menurunkan Niah dari pangkuan nya lalu keluar dari ruang kerja.
Ya Tuhan, cabutlah nyawa orang yang tidak punya hati nurani itu.
Niah terduduk lemas, tergolek di sofa dengan kaki menjuntai ke bawah.
****
Di kamarnya
Walaupun dengan air mata berderai, dewi tetap mencoba makan agar dia ada tenaga menghadapi ujian hidupnya yang tiba tiba datang tanpa peringatan dari alam.
Di mana silapnya.
Rasa masakan si mbok yang enak membantu Dewi menghabiskan makanan nya perlahan lahan akhirnya ludes sak tulang tulangnya dikunyah.
Selesai makan, Dewi berjalan menuju balkon mencari angin membantu pencernaannya bekerja menggiling makanan.
Hah, Dewi menghirup udara dalam dalam.
Terdengar samar samar bunyi ponsel, Dewi masuk ke ruang tidur. Meraih ponselnya di nakas melihat ke layar, panggilan dari Elfarrel, Damien gumam Dewi.
"Hallo." Dewi menjawab panggilan sambil berjalan ke balkon.
"Hallo, Dewi. Aku memikirkan mu, saat pulang malam kemaren apakah suami kamu tidak memarahi mu?" tanya Damien nada khawatir di ujung sambungan.
"Tidak Damien, aku baik baik saja. Maaf aku sibuk tadi siang mulai program, mudah mudahan minggu depan sudah bisa di tanam ke rahim pengganti." jawab Dewi.
Damien di ujung panggilan mengerut dahi. "Rahim pengganti, maksudnya?" tanya Damien.
"Oh, aku belum cerita bahwa embrio hasil bayi tabung di tanam di rahim pengganti bukan di rahimku." jelas Dewi.
__ADS_1
Hm, "Begitu,...."
Kelihatan Johan memasuki kamar, serta merta Dewi mematikan telponnya, memasukkan ke dalam saku sambil berbalik badan.
Damien di ujung sambungan merasa aneh, ada apa dengan Dewi?
Ah!
Desah Dewi dalam hati tiba tiba Johan memeluk nya dari belakang.
"Kenapa berdiri di luar dengan baju tipis, angin malam sungguh jahat nanti kamu kedinginan bisa masuk angin." Johan berbisik di telinga Dewi, menekan tengkuk dengan bibirnya. Menghirup wangi tubuh istrinya, ada rindu di hati Johan.
Dewi terdiam mematung, tubuhnya makin beku dipeluk Johan. Genggaman Dewi di besi pembatas balkon semakin erat, manakala Johan mengendus endus di lehernya.
*
Devan sampai ke kediaman Johan membawa soup tulang kaki sapi pesanan si bosnya yang sialan dan menyusahkan.
Devan menuju dapur bertemu mbok Senah. "Mbok, ini pesanan Tuan." Devan menyerahkan bawaannya meletak nya di meja makan dapur.
"Dan ini buat Niah, martabak bangka hulu." senyum Devan.
"Buat si mbok gak ada." mbok Senah merengut.
"Ada ini." ujar Devan menyatukan tangannya di atas kepala, sebagai bentuk love ala ala Korea
Cis, "Gak mau itu, mau martabak." si mbok semakin monyong.
Hehe, "Ini kongsi dengan Niah, mana anaknya mbok?" tanya Devan, tersenyum geli melihat si mbok, ternyata ngerti ngambek juga.
"Di ruang kerja menemani Tuan makan." jawab si mbok nada gak senang.
"Baiklah mbok, aku kesana dulu." ujar Devan pamit dari hadapan si mbok, membawa martabaknya.
"Pergilah pergokin mereka, lagi apa." desis si mbok pelan, Devan sudah tidak mendengar lagi.
Mbok Senah merasa bawaan Devan terasa hangat. "Hm, Tuan Devan membawa soup kaki sapi matang pas banget kalau dimakan sekarang." gumam si mbok segera memindahkan soup ke wadah lalu membawa nya berjalan ke tangga belakang mau ke kamar Dewi.
******♥️
__ADS_1
Hi, jangan lupa like ya guys. Vote dan hadiah juga, jumpa lagi. 👍