Manisnya Madu

Manisnya Madu
101


__ADS_3

Hah.


Niah menghela nafas dalam setelah Zan keluar dari kamarnya, segera ke kamar mandi membersihkan diri.


Berapa biaya nginap di sini satu malam?


Niah berpikir pikir, sambil melihat lihat setiap sudut kalau kalau ada CCTV yang tersembunyi. Padahal ini hotel mewah, tapi bisa saja kan. Akhirnya diputuskan Niah mandi memakai salah satu handuk hotel.


Persediaan banyak ini.


Dalam hatinya, selesai mandi Niah ke lemari pakaian memang ada beberapa baju kelihatan lumayan mahal dan sopan pula.


Selesai berpakaian Niah meraih ponselnya, lalu menekan tombol On. Di layar ada beberapa panggilan tak terjawab dari Johan dan Bibi Senah.


"Kalau bibi Senah jadi pulang kampung, tinggallah 3 asisten baru. Merdeka lah mereka gak ada yang atur, semoga Johan berhasil membawa Nyonya Dewi pulang," gumam Niah, lalu terdengar pintu diketuk.


Tok tok tok.


"Niah!" suara Zan.


"Iya!" jawab Niah, bergegas membuka pintu untuk Zan.


"Sudah siap?" tanya Zan memandang Niah dari atas sampai bawah seolah berpikir.


"Sudah," jawab Niah, ikut memandang dirinya.


Apa ada yang aneh kenapa Zan melihat nya gitu amat.


"Niah, mundur kejab," Zan raut serius.


Walau bingung Niah nurut. "Ada apa?" tanya nya sambil mundur.


"Kamu cantiknya, kelewatan,"


Selesai bicara Zan langsung kabur dari hadapan Niah sambil terkikik geli karena telah berhasil menggoda nya.


Hm, Niah menggeram. "Aku lapar kau becandain? Habislah kau, aku makan!" Niah merengut mengejar Zan yang berjalan cepat cepat.


*


Nun jauh di sana di sebuah restoran di Jkt, ponsel seseorang juga bergetar. Terlihat senyuman yang samar tersungging di bibirnya.


Tunggulah Niah, aku akan menjemput kamu.

__ADS_1


Batin Johan memandang ke Dewi, mereka telah selesai makan bersiap hendak pulang.


"Dewi, bersiaplah. Kamu pulang ke rumah paling lama tiga hari sebelum Shopie pindah, oke."


Johan suara lembut pada Dewi, bahkan tangannya juga lembut terulur mengusap pucuk kepala Dewi.


Huh, desah Dewi melengos.


Demi ayah semoga waktu 4 bulan cepat berlalu.


Saat nya mereka pulang, Johan bersikeras mau mengantar Dewi ke rumah besar Wijaya sekalian dia pengen mampir.


Namun setelah sampai ia harus menelan rasa kecewa karena ternyata satpam tidak memperbolehkan nya masuk.


"Sudahlah Johan, ayo kita pulang!" ajak Devan melihat raut kecewa Johan. Atau jangan cari masalah dengan WJ, itu yang lebih dikhawatirkan Devan.


Dengan berat hati Johan meninggalkan Dewi yang telah masuk rumah tanpa menoleh padanya.


Seketika Johan memutar lagi tubuhnya. "Pak, boleh saya numpang solat di situ," mohon Johan gak putus asa menunjuk mesjid di depan halaman rumah besar.


Hais, kesal Devan. Sejak kapan dia jadi alim, batin nya.


"Maaf Tuan, sudah dikunci. Datanglah Jum'at biasanya terbuka untuk umum." Satpam alasan menolak.


"Iya, sudah tau. Intel akan segera bergerak," jawab Devan.


"Beritahu mereka cukup mengawasi Niah, jangan mencolok. Takut nya dia kabur semakin jauh!" tegas Johan.


"Siap, Bos!"


"Kapan WJ transfer langsung beli jet," titah Johan lagi.


"Siap Bos!" jawab Devan lagi.


*


Di dapur Dewi bercengkrama sebentar dengan Ibu Dwi.


Ada juga Lee yang telah bersedia melatih Sabit bela diri. Dengan senang hati ia menerima tawaran Yudi tinggal di rumah besar satu kamar dengan Sabit, menggantikan Samsir yang telah ikut Alisha ke Mansion kita Baru.


Tidak tanggung tanggung Yudi memberi Lee waktu 4 bulan paling tidak, Sabit sudah harus lulus ban hitam untuk salah satu cabang olah raga bela diri.


Hais, ampun. Kalau berbakat, kalau gak?

__ADS_1


Batin Lee memandang raut Dewi yang sendu.


"Maaf Bu, kita sudah makan di luar sebaiknya ibu makan aja duluan tadi kalau sudah malam gini," ucap Dewi gak enak hati pada ibu Dwi yang ternyata sengaja menunggu nya makan malam.


"Tidak apa, biar nanti ibu makan sendiri. Kamu pergilah istirahat," ujar Dwi tersenyum ikhlas melihat raut Dewi yang kusut.


Karena memang capek dan badan rasanya udah lengket, Dewi memang ingin segera masuk kamar lalu ia permisi.


Di kamarnya Dewi bukan nya segera mandi, justru meraih ponsel jadulnya gak sabar ingin menelepon orang tuanya. Ada dua kali sambungan barulah panggilan Dewi diangkat.


"Hallo," jawab suara perempuan yang sangat dikenal Dewi. Suara perempuan yang telah melahirkan nya, terdengar masih sama seperti dulu, lembut dan halus.


"Hiks, hiks," Dewi malah menangis, tak sanggup berkata kata.


"Anggi," panggil ibunya lagi.


"Hiks hiks,..." isak Dewi semakin sedih.


"Kamu sehatkan, nak?" suara ibunya lagi.


"Hiks, sehat Bu," jawab Dewi tambah sedih, ingusnya keluar masuk. Dewi mengambil tisu mengusap air matanya.


"Maafkan Anggi, Bu." ucap Dewi.


"Ibu sudah lama maafkan," jawab Kumala (ibu Dewi).


"Bagaimana Ayah, Bu?" tanya Dewi langsung saja ingin tau kabar ayahnya. Dari tadi itu yang dikhawatirkan Dewi.


"Masih belum bisa bicara, bibirnya miring ke samping."


"Uwaaaaa!"


Jawaban ibunya membuat Dewi semakin teriak bahkan Ibu Dwi bisa mendengar nya dari luar.


Suasana rumah besar yang hening, sehingga suara tangis Dewi terdengar semakin nyaring. Lee dan Sabit keluar dari kamar mendengar suara teriakan pilu malam malam. Siapa?


Bertiga mereka, Bu Dwi, Lee dan Sabit pandang pandangan lalu menoleh ke kamar Dewi.


******♥️


jumpa lagi.👍


Jangan lupa selalu like, vote dan juga hadiah ya guys, terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2