
Dalam perjalanan pulang.
Johan dan Dewi duduk di belakang, sementara Karunia duduk di depan di samping Devan yang bertindak sebagai supir. Konsultasi berikutnya diputuskan minggu depan, itu pun kalau ada kata sepakat.
Di dalam mobil semua terdiam, Dewi duduk di pojokan pikirannya menerawang.
Kalau Niah udah gak mungkin lalu siapa, apa aku buat audisi lagi, ah merepotkan. Atau minta Shopie saja, walaupun dia belum nikah aku tau gimana si bar bar itu kalau pacaran. Delapan puluh persen aku yakin, kalau dia sudah gak perawan.
Johan melirik istri yang duduk menjauhi nya, hah!
"Apa kamu mau makan dulu sayang, aku tau di sini ada restoran enak." Johan suara lembut pada Dewi.
Dewi menoleh tersenyum sekedarnya. "Aku ingin cepat sampai di rumah mas, memangnya mas belum makan?" tanya dewi.
"Ya sudah kita pulang, mas makan di rumah saja. Kamu masak apa, Mas memang lapar belum makan siang." jelas Johan.
Dewi melihat jam di tangannya, 16.30wib. "Ya sudah kita mampir di restoran saja kalau mas lapar." ujar Dewi kembali memandang ke luar jendela, ada rasa hambar saat bertatapan dengan Johan.
Johan meraih tangan istrinya, reflek Dewi menarik tangannya. Johan menghela nafas berat. "Devan." panggil nya.
"Siap Bos." jawab Devan, mengerti.
Sebaiknya cari angin dulu sebelum pulang ke rumah biar gak sesak nafas.
Aura mencekam terasa di dalam mobil, kecuali bagi perempuan yang duduk di sampingnya. Sibuk main hape senyum senyum sendiri kayak gak ada beban.
Bagaimana si Niah bisa mempertahankan kesuciannya dalam setahun pernikahan.
Batin Devan memutar mobil masuk parkiran luas restoran yang dimaksud Johan. "Johan, meja biasa atau lesehan?" tanya nya.
"Meja biasa, Devan." jawab Johan.
"Syukurlah tidak terlalu ramai, ayo sayang kita turun." Ajak Johan pada Istrinya, setelah mobil berhenti.
Hm, Dewi mengangguk.
"Nyonya saya masih kenyang, gak ikut masuk ya." Karunia.
"Hm." angguk Dewi lagi.
"Kenyang makan apa, kamu?" tanya Johan ketus.
"Kan tadi di rumah ada makan siang, Tuan." jawab Karunia.
"Johan, aku juga kenyang. Aku tunggu di luar ya." Devan.
"Tidak ada yang di luar, semua ikut masuk!" tegas Johan, memandang sinis Devan.
"Aku tidak suka kamu berkeliaran di luar bersama laki laki lain!" lanjut nya suara di tekan, menatap Karunia tajam.
__ADS_1
"Tuan, biasa aja kali. Ini kan Tuan Devan, asisten Tuan sendiri bukan orang lain." Karunia membantah.
"Mau Devan mau setan, kamu itu istriku. Begitu kamu diajari orang tua mu, kalau sudah nikah boleh membantah pada suami!"
Hm, Dewi menghela nafas pelan.
Sialan gue disamain dengan setan, gerutu dalam hati Devan.
Gua malas duduk di depan elu.
Batin Karunia merengut memandang Devan. "Boleh ya Tuan, saya tunggu di luar saja." Karunia lagi nada memohon."
"Niah, masuklah ada yang ingin aku sampaikan." suara Dewi lembut pada Karunia.
Ck, "Baiklah, Nyonya." jawab Karunia pasrah, tidak bisa lagi membantah.
Hah! Johan mendesah.
Berempat mereka masuk ke restoran, manager resto yang mengenali Johan tergopoh menyambut mereka. "Selamat datang Tuan." ucap nya.
"Terima kasih, chef Junaidi." jawab Johan.
Chef Junaidi membawa tamu istimewa nya ke meja dekat pinggiran, ada kolam dan kelihatan ikan berenang di bawahnya.
"Karunia, kamu mau makan apa?" tanya Dewi, setelah mereka duduk di bangku masing masing.
"Tahi kerbau, mau!" ketus Johan masih kesal mengingat penolakan Niah.
"Kalau ada." jawab Karunia santai.
Prufh.
Devan menahan tawa, Johan mendelik pada Devan.
"Mas, apa sih!" sergah Dewi.
"Mas sendiri mau makan apa?" lanjut Dewi bertanya pada suaminya
"Makan kamu!" Johan masih ketus.
Kesal Johan, terbayang janda yang masih ting ting di depannya itu saat menampar wajahnya, hah! Benar benar membuat gemas.
Ck, "Mas, beneran lapar gak sih! Itu si abangnya nunggu." Dewi menunjuk abang pramusaji yang melayani mereka.
"Paket gurami goreng, sama nasi 4." ujar Johan pada pramusaji.
"Baik, Pak." pramusaji mencatat pesanan.
"Bang, bebek goreng sambal ijo satu ya." sambung Karunia.
__ADS_1
"Tadi kamu bilang kenyang, kenapa pesan!"
Johan masih ketus, Karunia diam saja malas menanggapi lebih baik lihat hape.
"Saya juga mau bebek, sama dengan mbak ini." suara Devan menunjuk Niah sambil nyengir menanggapi tatapan horor Johan.
"Ada lagi Tuan tuan, nyonya, adek yang main game?" tanya pramusaji, memandang keempat customernya bergantian.
Ah, Karunia menoleh, "Minumnya, jus mangga satu." jawab Karunia.
"Saya sama." Devan ngikut.
Johan menatap sinis pada kedua manusia di depannya. "Jusnya tambah dua lagi!" ucap nya.
"Mereka saja bang, saya jus terong belanda." sela Dewi.
Walaupun nada bicara Johan ketus, namun Dewi dapat melihat rasa sayang di mata suaminya itu pada Karunia.
Jadi gini rasanya di madu, tidak seseram yang aku bayangkan sebelumnya.
Batin Dewi teringat saat menikahkan suaminya dan Karunia, perasaan biasa saja.
Apa mungkin karena terlalu semangat ingin punya anak?
Tapi masalahnya sekarang sudah mulai terasa saat di depan mata Dewi, Johan menunjukkan perhatian nya pada Karunia. Dadanya seperti ditusuk tusuk setan dari dalam neraka sehingga hati jadi panas.
~
Seperti biasa saat makan Dewi melayani Johan, namun pandangan suaminya itu tak lepas dari Karunia yang asik menggerogoti bebeknya.
Bebek itu beruntung sekali kena bibir si janda ting ting, hah!
"Tuan mau?" tawar Karunia gak enak hati dengan lirikan Johan, Johan mengangguk.
Cis, kirain mau ngasi bibir.
Dengus Johan saat Karunia melempar bebek ke piringnya, namun begitu Johan makan juga tuh bebek ternyata dagingnya empuk dan gurih. Karunia mengkopek bebeknya dan memberi Johan hanya daging yang bagusnya saja.
Alangkah bahagianya hidupmu Johan, satu istri mengkopek gurami satu istri lagi mengkopek bebek dicocol sambel ijo, enak kali.
"Aaa, sayang." Johan menyuapi Dewi potongan kecil daging bebek dengan tangannya, dalam hati ia berdoa.
Berilah keikhlasan di hati Dewi menerima Karunia sebagai istriku kedua, Ya Allah.
****♥️
Hi, guys. Karena Othor nulisnya langsung di platform seringnya ada koreksi, maaf ya.
Jumpa lagi, jangan lupa like nya ya guys, 👍
__ADS_1