Manisnya Madu

Manisnya Madu
26


__ADS_3

Di bandara.


Karunia masih sempat bertemu Lestari lima belas menit sebelum boarding, lumayanlah bisa ngobrol bentar.


"Gimana ceritanya kamu menikahi majikan mu sekaligus bapak biologis mu, Niah! Bisa jelaskan lebih simpel, kamu tau aku cuma lulusan SMP." ujar Lestari.


"Aku juga gak terlalu jelas, dulu ayah selalu menuduh ibu menjebak nya bahwa aku ini bukan anak ayah tapi anak majikan mereka, yang bernama Johan Alamsyah." jelas Karunia.


"Kenapa ayah kamu bisa asal nuduh gitu?" tanya Tari lagi.


"Karena golongan darah aku gak sama dengan ayah maupun ibu. Ayah A, ibu O dan aku AB." jelas karunia.


"Kamu menduga bahwa Johan adalah bapak biologis kamu tapi kenapa masih mau menikah dengan nya, hayo!"


"Aku kira cuma jadi ibu pengganti, mana aku tau akhirnya begini."


Hm, mulut Niah maju satu inchi.


"Astaga, apapun itu dosa tau Niah! Kita boleh gak sekolah tapi jangan bodoh!"


"Aku gak bodoh, aku ingin balas dendam pada mak lampir yang ngusir ibu."


Ck, Lestari berdecak. "Memangnya Johan golongan darah apa?"


"Itu dia yang mau aku cari tau. Tenang Tari, aku sudah ada sampel untuk membuktikan bahwa aku anak Johan. Ini aku dapat dari cd nya." Karunia memberi sampelnya.


"Apa ini?" Lestari melihat ke plastik kecil hanya ada sehelai bulu halus mirip jemjem.


Hahaha, gak tahan Lestari tertawa. "Oalah Niah!!!" jerit Tari, mendorong kening Niah dengan telunjuknya geram.


Hehe, "Aku pintar kan!" ujar Niah.


Hm, "Kamu memang pintar, diantara anak anak esde." ketus Tari.


"Sialan." Karunia mengumpat kesal.


"Ya sudah, semoga sukses Niah. Aku mau boarding sekarang." ucap Lestari, sesaat melihat jam di tangannya sudah waktunya berpisah.


"Nanti sampai kabari ya." ujar Karunia.


"Asiap!" jawab Lestari. Kedua teman itu pun saling berpelukan, cipika cipiki.


"Dah, Niah."


"Dah, Tari."


Tinggallah Niah sendirian. "It's time to go home." gumam nya.


~


Johan dan Devan sampai di bandara langsung menuju ruang CCTV, mencari mobil online yang membawa Karunia.

__ADS_1


Setelah menemukan posisi Karunia, Johan berlari menyusul sementara Devan masih di ruang CCTV memantau posisi sambil memandu Johan.


Atas arahan Devan, Johan menemukan Karunia di toko yang menjual oleh oleh dari palembang.


"Tuan." seru Karunia kaget.


"Ngapain kamu di sini?!" tanya Johan nada marah, wajahnya menakutkan bagi Karunia.


"Beli mpek mpek, Tuan sendiri ngapain?" jawab Karunia balik nanya.


"Ngantar klien." jawab Johan berbohong.


Niah mencibir, "kebetulan sekali, bandara gitu luas Tuan bisa menemukan saya."


"Ahk!!" pekik Niah Tiba tiba Johan memeluk nya.


"Jangan membuat ku khawatir, Niah." Johan suara lembut, membelai tubuh kecil di pelukannya.


"Tuan jangan main peluk aja, ini tempat umum!" sergah Karunia mendorong Johan, namun Johan semakin erat mendekap Niah, ah!


"Johan." panggil Devan setelah berhasil menemukan mereka.


"Ayo kita pulang." ajak Johan pada Karunia.


"Nunggu itu." unjuk Karunia ke kasir.


"Biar Devan yang urus." ujar Johan menarik tangan Niah.


Cis, Devan mendengus melempar kunci pada Johan.


*


Dewi termenung di ruang tengah sementara Shopie gelisah, deg degan, Khawatir kalau kalau Johan menghindari pernikahan dengan nya.


"Kemana sih, tadi sudah pulang duluan." gerutu Shopie.


"Dewi, kamu sudah telpon Johan?" tanya Shopie pada Dewi yang diam, melamun.


Wali nikah sudah datang namun Johan belum pulang, sebagai sekretaris tentu Shopie tau jadwal Johan, lalu kemana. Karunia juga sedang ada di luar, apa ini akal akalan mereka berdua mengelabui aku.


Dewi memicit micit keningnya yang belakangan ini sering keram dan menambah kerutan di wajahnya.


"Dewi." panggil Shopie, menyentuh Dewi.


"Sabarlah Shop, segitu cintanya kamu pada suamiku!" ketus Dewi ekspresi jijik menepuk pundaknya yang disentuh Shopie.


Shopie terdiam.


Cis, tunggu saja, aku akan membuat kamu lebih sakit hati dari ini.


*

__ADS_1


Di mobil di parkiran bandara.


Johan terdiam menunggu Devan membawa mpek mpek pesanan Karunia, jemari Karunia tak lepas dari genggaman nya.


"Aku takut sekali tadi, aku kira kamu mau kabur dariku." suara lembut Johan setelah lama membisu.


"Kenapa Tuan menyusul saya, bukankah Tuan seharusnya di rumah menikah dengan Shopie."


"Itu bukan mau ku, biar saja mereka menunggu." jawab Johan.


"Tuan serius ngapa sih, Nyonya berusaha sabar mempertahankan rumah tangga kenapa Tuan seolah tidak menghargai nya."


"Kamu tau apa soal rumah tangga." desis Johan.


"Aku sudah pernah menikah!" ketus Karunia.


Hm, Johan menghela nafas pelan. "Kenapa kamu masih perawan, Niah?" tanya Johan.


Aku gak pernah ngengeng, gimana bisa jebol.


Batin Karunia. "Aku operasi lagi, selaput." Niah asal jawab.


Akh! Jerit Niah, Johan menjepit bibirnya.


"Kapan kamu siap, kita buat anak?" tanya Johan, menjeling nakal.


"Tidak akan!" tegas Niah.


Hm, "Niah! Selesai program anak Dewi, aku akan meminta hak ku sebagai suami. Sebelum itu siapkan lah dirimu." Johan nada serius menatap sayu Niah.


Hais gawat! Aku harus segera mendapatkan bukti bahwa aku adalah anak perempuan si cabul ini.


Pintu mobil dibuka, Devan masuk di bangku kemudi. "Johan, Dewi menelpon aku." ujar nya.


"Santai saja Devan, jangan ngebut." jawab Johan.


*


Mereka tiba di rumah, pukul 23.00wib lewat sedikit.


Karunia turun dari mobil Johan, begitu juga Devan. Sengaja Devan diajak masuk oleh Johan buat alibi bahwa mereka gak sengaja jumpa Niah di bandara waktu jumpa klien.


"Sayang." Johan merangkul Dewi.


"Cepatlah bersiap, calon istrimu sudah tidak sabar." ujar Dewi nada sinis.


Hehe, Johan cengengesan.


*****♥️ jumpa lagi


Jangan lupa like ya guys, 👍. Vote juga hadiah, terima kasih 🙏

__ADS_1


__ADS_2