
Sepeninggal Johan keluar dari kamar, Dewi terduduk lemas. Air matanya jatuh berhamburan.
Benar benar putus sudah tali ikatan. Baru hitungan minggu Niah datang, hidupku langsung hancur berantakan...
Dewi terkulai di lantai tak sadarkan diri.
~
Karunia dan si mbok seketika keluar dari kamar mendengar keributan dari lantai dua, para asisten rumah tangga baru juga tidak mau ketinggalan namun hanya berani mengintip dari balik pintu dapur
Johan turun menghampiri Niah dan mbok Senah yang berdiri mematung di bawah tangga dengan wajah memucat, khawatir dengan keadaan Dewi.
Mbok Senah bahkan sudah keluar air mata. "Mbok, pergi lihatlah Dewi di kamarnya." ujar Johan suara bergetar.
"Baik Tuan, hiks," jawab si mbok terisak, segera berlari naik ke lantai dua ingin secepatnya melihat keadaan Dewi.
Dua orang satpam tergesa menghampiri Johan. "Kalian berjaga malam ini di depan kamar Nyonya." titah Johan berkacak pinggang sembari menggusar rambutnya.
"Siap Tuan," jawab Satpam menunduk hormat, segera siaga di depan kamar Dewi.
Johan menghela nafas, memandang Niah dengan mata sayu. Bibirnya merah bekas lipstik dan remah remah makanan di mulutnya. Johan, jakunnya menggulung.
"Kamu, ikut aku." tegas nya menarik Niah menyeret nya ke dalam kamar. Di dalam kamar Johan menyentak Niah ke dalam pelukannya...umph.
Niah belum sempat bernafas, mulutnya telah pun dibungkam. Dengan air mata berlinang Johan mencium Niah, melu mat bibir memperdalam ciuman, mendesah, mengerang dan merintih. Rasa asin dari garam remah remah bercampur dengan air mata, Johan mencium semakin liar dan tubuh kecil Niah tenggelam di dekapan Johan bernafas susah payah.
Bayangan Dewi berkelebat di benak Johan...argh! Desah nya melepaskan pagutan teriak menangis seperti bocah, Niah masih dalam pelukannya.
Hah!
Niah terdiam membiarkan saja Johan menuntaskan emosinya.
*
Mbok Senah menghempas pintu saat mengetuk ngetuk tidak ada jawaban, matanya menyipit terlihat Dewi yang terlungkup di lantai.
Mbok Senah tergesa, "Nyonya." panggil nya, menghampiri.
__ADS_1
Dewi bergeming. "Ya, Tuhan."
"Nyonya!...Nyonya!" mbok Senah mengguncang guncang tubuh Dewi yang lemah tidak ada reaksi.
"Tolong! Tolong!" si mbok menjerit.
Dua Sekuriti yang baru sampai termangu di depan kamar, berdua pandang pandangan.
"Tolong, tolong Nyonya...hiks hiks." air mata si Mbok mengalir deras.
Di putuskan satu orang berlari memanggil Johan satu lagi memeriksa nadi, denyutnya lemah.
*
Di kamar Niah.
Johan di pelukannya, melamun seperti orang linglung.
"Hah!" terdengar Niah mendesah kasar.
"Niah, ikutlah ke Apart. aku sudah janji pada Dewi akan keluar dari sini dengan mu. Aku terpaksa melakukan nya, agar Dewi tidak pergi." jelas Johan seperti anak kecil ngadu ke ibunya.
Heh, Johan mengerut dahi mengurai pelukan menatap nanar Niah, Johan curiga, jangan jangan Niah...
'Tolong, tolong!' terdengar jeritan minta tolong.
"Bibi!" ucap Niah. Johan bergegas membuka pintu.
Cekklekk.
Pintu dibuka, satpam berdiri baru mau mengetuk. "Tuan, Nyonya p...ah!" Belum habis dia bicara, Johan mendorong nya.
Seperti dikejar setan Johan menaiki tangga dua dua sekaligus. Dengan nafas ngos ngosan, ia mencapai pintu kamar terlihat Dewi tergeletak di lantai terkulai. Si mbok menangis pilu di sampingnya.
"Nyonya pingsan, Tu..." Sekuriti.
"Keluar!" titah Johan pada sekuriti, si mbok bingung mengartikan apakah dia harus keluar juga namun begitu ia tetap terduduk di samping Dewi.
__ADS_1
Johan menghampiri Dewi, mengangkat nya ke kasur dibantu mbok Senah lalu membuka ponsel menghubungi dokter, si mbok menyelimuti Dewi.
Johan terduduk lemas di sofa, melihat Niah di depan pintu berdiri mematung. Johan mengulur tangannya agar Niah mendekat.
Namun Niah menghampiri kasur berdiri dekat si mbok yang duduk di sisi tempat tidur memicit micit kaki Dewi. Niah mengambil alat pembersih dari balik lemari yang jelas terlihat, inisiatif mau membersihkan lantai yang berantakan.
"Niah." panggil Johan.
"Ha." jawab Niah, Johan menggeleng.
"Bi, panggilkan betugas kebersihan." titah nya pada mbok Senah.
"Baik, Tuan." jawab si mbok meraih gagang telpon dinding membuat panggilan ke dapur.
Johan mengulur tangan lagi pada Niah, artinya agar ia mendekati nya. Niah menghampiri Johan, terduduk di samping pria itu karena disentak olehnya masuk ke dalam pelukan Johan.
Niah malu, Johan menunjukkan kemesraan nya di depan Bibi namun tidak berani membantah.
Petugas bersih bersih masuk kamar dengan dada berdebar, apa dia akan dipecat. Terlihat Niah duduk di pelukan Johan sementara Nyonya terbaring di kasur, si mbok menangis memicit micit kakinya.
Apakah ada gempa, kenapa kamar seperti kapal pecah.
Dalam hati si asisten bagian bersih bersih melihat lantai ia segera mengerti maksudnya lalu mengambil alat pembersih dan mulai bertugas.
Gak lama dokter datang juga Devan kaget melihat kekacauan kamar dan untuk kedua kalinya Dewi pingsan.
Kali ini dokter memasang Dewi infus, karena kondisi Dewi yang sangat lemah. "Habiskan dua kantong, saya akan meninggalkan perawat untuk melepas nya nanti." ujar dokter pada Devan.
"Terima kasih dokter." ucap Devan.
"Saya permisi, Tuan Johan." ujar dokter pamit pada Johan yang duduk di sofa mengendus ngendus Niah di telinga dengan mata terpejam. Di benaknya terbersit ketidaksukaan walaupun wajah Johan kelihatan stress dan berantakan, gak pantes juga dia duduk bersanding di depan istrinya yang pingsan.
Bagaimana kalau Nyonya bangun dan melihat pemandangan ini, apa gak pingsan lagi. Sekilo obat pun gak ada gunanya..Aih otak, mana otak!
Batin dokter keluar dari kamar.
******♥️
__ADS_1
Hi, jangan lupa selalu like ya guys, Vote dan hadiah juga.
Jumpa lagi, 👍