Manisnya Madu

Manisnya Madu
89


__ADS_3

Di resto hotel WJ.


Kenapa aku menyesal melepas Dewi, bukankah sudah ada Niah.


Dalam hati Johan menatap Dewi, berharap Dewi mengangkat wajahnya.


"Silahkan Tuan," seorang pelayan mendatangi meja Johan dan Devan, memberi buku menu masing masing satu.


Johan mengambil buku menunya melihat lihat namun ekor matanya tetap melirik Dewi, terlihat Dewi mengangkat wajahnya menatap ke arahnya.


Di bibir Johan tersungging satu senyuman. "Devan," panggil nya.


"Ayam tepung asam manis wijen, paket daging sapi korea, Nasi jepang dan acar," ujar Devan pada pelayan mengembalikan buku menu.


Tidak usah dilihat juga ia sudah merencanakan apa yang ingin dimakan nya di resto WJ dari tadi saat dalam perjalanan, kebetulan sekali ia belum makan siang.


"Minumnya Tuan?" tanya pelayan.


"Apa yang gratis selain air keran?" Devan balik nanya, menatap pelayan.


Hem, pelayan tersenyum dikulum, "Koktail susu dan yogurt," jawab nya.


"Berikan keduanya, jangan lupa air putih." senyum Devan, pelayan mencatat.


Alhamdulillah.


Dalam hati Devan, akhirnya kesampaian juga cita citanya makan di resto WJ.


Kemaren kemaren Johan gak pernah mau kalau diajak, ia paling anti mendengar nama WJ.


"Tiramisu untuk wanita yang di samping Tuan Arjit, katakan dari Johan." Johan memesan sambil mengembalikan buku menunya.


Pelayan sekilas menoleh pada Arjit, "Baik Tuan, ada lagi?" tanya nya memastikan.


"Hiasi dengan love love." jawab Johan.


"Semoga berhasil dengan cinta anda Tuan, permisi." ucap si pelayan menyungging senyuman.


"Buat Lima," suara Devan menghentikan langkah pelayan, Johan menoleh pada Devan tatapan ingin menelan.


"Kamu juga harus mengambil hati Yudi dan Arjit dengan yang manis manis," jelas Devan.


"Aku juga suka Tiramisu sebagai pencuci mulut," lanjut nya tersenyum mengejek.

__ADS_1


Hm, Johan menarik nafas pelan kembali memandang Dewi, gak tahan ia berdiri.


"Johan,"


Devan manahan tangan Johan tatapan memohon, khawatir proyek WJ hilang. Baru ini mereka dapat tender paling mahal, hitungan T soalnya.


"Aku mau ke toilet, itupun gak boleh!" ketus Johan.


"Kalau proyek ini lepas, aku resign," ancam Devan akhirnya melepaskan Johan.


Cis, dengus Johan menyentak tangannya kesal, akhir akhir ini Devan sering sekali menyentuh nya.


*


Di mobil online Niah gak sepenuhnya bisa duduk tenang.


Aih, kenapa aku gugup sih.


"Pak, coba lihat ada yang ngikutin mobil ini gak?" tanya Niah dada berdebar.


"Si eneng nyadar juga, itu panther hitam walaupun jaga jarak tapi kelihatan sedang ngikutin," jawab si Supir.


"Hais," keluh Niah.


Niah menatap supir melalui spion, mencari kejujuran pada wajahnya, "Bagaimana caranya?" tanya Niah.


"Tujuan sebenarnya ke mana?" jawab supir balik nanya.


Hm, bagaimana dia tau aku ada tujuan lain.


"Sebenarnya saya mau ke bandara jumpa teman, apa bisa?" tanya Niah.


"Boleh dicoba Neng. Si Neng tetap masuk market untuk menyelesaikan pesanan. Setelah itu keluarlah dari pintu belakang saya nunggu di situ, gimana?" tanya supir, menjelaskan.


Niah melihat jam, dalam hati ia berpikir pikir.


Baru setengah jam Zan terbang, ada satu jam setengah lagi baru sampai Soeta. ke bandara lebih kurang sama, hm baiklah.


"Ya udah gitu aja, Pak," jawab Niah setuju gak ada pilihan lain, berharap si supir bukan penghianat.


Penghianat!


Tapi supir sudah ditandai satpam, gimana kalau Johan mencari nya dan memberi nya sejumlah uang lalu memberitahu tujuanku yang sebenarnya, ah. Sementara aku iya kan saja dulu, nanti sampai di market baru lihat bagaimana ada peluang gak?

__ADS_1


Merasa gak tenang, diam diam Niah memesan taksi online yang lain.


*


Sekembalinya dari toilet Johan berjalan menuju meja Arjit.


Gak bisa dibilangin.


Dalam hati Devan dari mejanya, mengepal tangan geram.


"Tuan Arjit selamat hari minggu, apa anda sudah makan siang? Ayo makan bersama," ajak Johan mengambil bangku, menggesernya mendekat duduk di samping Dewi.


Dewi gak bisa pungkiri kalau jantungnya berdegub lebih kencang sedikit dia atas Normal, menyembunyikan tangannya yang tiba tiba kaku gak bisa ngetik di bawah meja.


"Kita sudah makan Tuan Johan, silahkan saja," jawab Arjit memandang kilas Dewi yang pias, lalu kembali fokus ke laptopnya.


"Dewi jam berapa boleh pulang, aku mau bicara empat mata," johan to the point pada Dewi menggenggam tangannya di bawah meja.


Dewi terkesiap seketika menoleh pada Johan, wajah mereka sangat dekat. Dewi merah padam serba salah, antara malas bicara dengan Johan terlebih lagi gak mau ada keributan.


"Mas tolong jangan ganggu, apa kamu mau memata matai laporan kerja WJ, " jawab nya menatap tajam Johan, menekan suaranya.


"Oh, enggak sayang. Aku akan tunggu kamu di situ, sampai nanti."


Unjuk Johan tersenyum pada Devan, dengan santai tangan satunya menyentuh pundak Dewi.


"Permisi Tuan Arjit, maaf bukan maksud mau memata matai. Saya hanya kangen istri saya satu malam gak pulang, ini pertama kami berpisah setelah menikah."


Ucap Johan berdiri, tangannya kesempatan menyapu lembut leher Dewi sampai ke tengkuk. "Aku mencintai mu." bisik nya.


Hah!


Dewi menahan amarahnya, memandang ia baru saja masuk kerja agar jangan terlibat masalah dulu. Bersamaan dengan itu pelayan keluar membawa tiramisu.


Johan melambaikan tangannya, setelah dekat, mengambil satu cake tiramisu meletak nya di depan Dewi. "Untuk Dewi yang ada love nya," gumam Johan yang masih bisa di dengar semua orang.


"Silahkan dimakan Tuan-tuan ini dari hati saya yang paling dalam,"


Ujar Johan setelah pelayan meletakkan cake masing masing satu di depan Arjit dan terakhir di meja Yudi, lalu ia kembali pada Devan.


******♥️


Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2