Manisnya Madu

Manisnya Madu
79


__ADS_3

Di ruangan Bagus, Niah di pangkuan Johan.


"Tuan, ngapain kita di sini. Ayo lihat Shopie, dia lagi medikal cek up itu," suara Niah gelisah, ditatap Johan gak berkedip.


"Biarin, dia bisa urus diri sendiri. Ada Devan dan Bagus ini," jawab Johan mata sayu, menempelkan kening mereka mengendus endus di wajah Niah.


Niah menarik wajahnya namun Johan semakin memeluk nya erat mengendus endus turun di leher Niah, mana tangan bajunya you can see the ketek, ya udah. Dengan mudah bibir Johan menyentuh teti Niah.


Ah! Niah mendorong wajah Johan. "Diamlah, sayang! Siapa suruh kamu pakai baju terbuka gini," Johan menatap tajam Niah, agar nurut saja menerima takdirnya.


Cis, "Tadi Shopie pesan kalau Tuan gak datang menemani nya, dia akan batalkan program," Niah merengek kesal.


"Mana berani dia, lagian kita kan bisa buat sendiri anak kita. Coba lihat, apa kamu benar benar belum bersih," Johan meraba belahan pantat Niah, aih!


"Jangan, nanti ada yang lihat," sergah Niah menahan tangan Johan, ingin turun dari pangkuannya.


Hm, "Ya udah enggak, jadi bagaimana Dewi sayang. Jam berapa dia pulang kerja, kita akan menjemput nya." ujar Johan kembali mengendus Niah.


"Jam delapan malam." jawab Niah bohong bercampur geli. "Ah!" Jerit nya seketika Johan menjepit daging tumbuh di dada Niah dengan bibirnya.


"Kamu berani bohong, Niah." gertak Johan, giginya menggeram.


"Ya biasalah Tuan, pulang kantor emang jam berapa!" ketus Niah pasrah.


Johan membaringkan tubuh nya di sofa, terhimpit tubuh Johan yang lebih besar dua kali lipat dari tubuhnya.


*


Di kantor WJ, waktu menunjukkan pukul 15.30.

__ADS_1


Dewi masih di ruangan Arjit mereka bertiga fokus dengan laporannya masing masing.


"Yudi aku ada acara di perumahan yang dihadiri oleh walikota, mbak Alisha juga diundang. Kamu ikutlah, kita makan malam di sana," suara Arjit tiba tiba menoleh pada Yudi.


"Hm, terserah saja," Jawab Yudi masih menunduk.


Betah amat, apa gak pegel tuh leher.


Batin Dewi ikut memandang Yudi, kesempatan.


"Jadi kita sudahi saja sampai di sini dulu, ya," Arjit menutup laporannya.


Yudi mendongak mendelik pada Arjit. "Katanya makan malam, ini baru jam berapa Manager!?" tanya nya suara ketus melihat jam, baru juga makan bekal dari Olive.


Hehe, Arjit terkekeh.


Ck, kenapa bawa nama Laras sih! Kan aku jadi lemah, ah.


Batin Yudi, mau gak mau nurut sama Arjit menyudahi kerjaannya.


"Dewi sudah simpan saja tabletnya, kita pulang. Besok kita sambung lagi, datanglah tengah hari pas makan siang ke hotel WJ. Kita lembur di sana." Arjit suara tegas pada Dewi.


"Baik Tuan." jawab Dewi.


Akhirnya aku bebas, bisa pergi ke rumah sakit mau tau kabar program.


Dalam hati Dewi segera berkemas, setelahnya mereka bertiga meninggalkan ruangan Arjit. Mereka berpencar, Arjit menuju lobby sementara Dewi berjalan di belakang Yudi, soalnya mereka searah menuju parkiran VIP.


Masuk telpon lagi dari Damien saat Dewi berjalan di lorong rahasia menuju Vip park, hm.

__ADS_1


"Hallo," jawab Dewi.


"Kamu sudah mau pulang?" suara Damien dari dalam telepon.


Karena Damien sedang berada di ruangan CCTV gedung WJ, jadi dia dapat melihat jelas di mana posisi Dewi.


"Auntie." jerit Farrel kesenangan melihat Dewi di layar.


*


Shopie telah memasuki ruangan khusus rawat inap kelas Vip, ia akan mendapatkan serangkaian cek kesehatan sampai hari senin pagi hingga proses transfer berhasil.


"Mana Johan, kenapa tidak kemari Devan?" tanya Shopie nada kesal, dari tadi gak nongol nongol batang hidungnya.


"Ada Shopie, lagi bersama Bagus mengurus segala sesuatunya." jawab Devan, duduk si sofa sibuk dengan ponselnya.


"Aku sudah bilang kalau dia gak datang, aku gak mau melanjutkan program." ujar Shopie sok ngancam.


"Terserah kamu," suara Johan tiba tiba masuk ruangan.


Shopie menoleh, mengerut dahi melihat cara Johan menggandeng Niah.


"Tinggallah di sini selama 3 hari ke depan untuk berpikir pikir, kalau senin kamu berubah pikiran gak mau lanjut program, gak apa. Aku juga akan bebaskan kamu, silahkan keluar dari Apart juga dari kantor." Johan suara datar dan dingin, menatap sinis pada Shopie,


"Kau, benar benar keterlaluan Johan!" geram Shopie.


*******♥️


Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys. Vote dan hadiah juga, terima kasih. 👍

__ADS_1


__ADS_2