
Waktu sudah menunjukkan angka 14.30wib.
Dewi kembali ke meja kerjanya setelah buru buru mengisi perutnya. Manager Arjit dan asisten Yudi keluar dari ruangan, Dewi berdiri memberi hormat.
"Dewi." panggil Arjit tanpa embel embel mbak lagi, toh Dewi juga masih 28 tahun jauh di bawahnya yang sudah 40 tahun bahkan sebentar lagi juga sudah dapat cucu.
"Iya, Tuan." jawab Dewi.
"Kita akan meninjau proyek. Kamu ikut bawa barang pribadimu biar nanti pulang dari sana saja, langsung." titah Arjit.
"Baik Tuan." ucap Dewi cepat menyambar tas kecilnya, mengejar langkah Arjit. Di dalam lift telah ada Yudi, Dewi berdiri di belakang kedua atasannya itu.
"Apa kamu bawa mobil?" tanya Arjit menoleh pada Dewi.
"Maaf Tuan, tidak ada." jawab Dewi, teringat mobilnya dibawa Damien ke bengkel.
"Mulai besok kamu gunakan mobil kantor saat pulang, besok pagi datang kamu naik taksi dulu." ujar Arjit, mengira Dewi benar benar gak ada mobil.
"Baik Tuan, terima kasih." ucap Dewi.
Ting, pintu lift terbuka.
"Dewi, kamu ikuti saya." ujar Arjit, ternyata mereka berpisah arah dengan asisten Yudi.
Di parkiran. "Biarkan saya yang nyetir Tuan." pinta Dewi segan, karena ternyata Arjit tidak ada supir.
Hm, Arjit tersenyum memang ia biasa nyupir sendiri mobilnya. "Saya lebih tenang nyupir sendiri jadi jangan sungkan, duduklah di samping saya." ujar nya.
"Baiklah Tuan." ucap Dewi.
Terima kasih ya Tuhan, akhirnya tidak sia sia aku sekolah sarjana.
__ADS_1
Batin Dewi, teringat Niah. Terpulang dari masalah dan sakit hati yang ia terima, ada hikmah yang bisa diambil.
Aku bisa mandiri dan tau dunia kerja..gak tanggung tanggung masuk group WJ.
Kalau Niah tidak datang dan menikah dengan Johan, selamanya aku akan jadi istri rumahan dan tidak tau kelakuan Johan di kantor sana ngapain aja sama Shopie...
Dalam hati Dewi merasa terangkat sedikit bebannya karena mencoba berpikiran positif.
Tenyata mobil menuju pulau reklamasi. Di rumah contoh sudah ada Damien dan Johan, ada juga Devan beserta asisten Damien nampak akur berdiskusi.
Dewi dapat melihat kedua pria yang dekat dengannya itu seketika menoleh ke arah Arjit dan dirinya. Johan dengan muka ketatnya, Damien dengan senyum lebarnya.
Kelihatan Arjit bergabung dengan mereka, di meja bulat. Dewi mengambil duduk berjarak dua meter lebih sedikit duduk di sofa.
Kira kira berapa ya harga satu unit.
Batin Dewi melihat katalog proyek tahap 3, area juga masih berbentuk tanah.
"Selamat ya, akhirnya kamu jadi wanita karier." ucap Devan.
"Hm, terima kasih." angguk Dewi.
"Kalau ada masalah pekerjaan sebagai sekretaris, kamu boleh tanya aku. Pengalaman ku sudah banyak, apalagi pengalaman kena omelan dari suami kamu."
Devan coba bercanda mencairkan suasana kaku antara mereka. Semenjak Johan bertingkah, hubungan Devan dan Dewi jadi ikut dingin.
Hm. Dewi hanya tersenyum datar tidak mau menatap Devan, mengingat Devan pasti tau perselingkuhan Johan dan Shopie namun ikut bersekongkol membodohi nya.
"Apa kalian benar benar akan bercerai?" tanya Devan suara pelan.
"Hm." angguk Dewi lagi, masih membuang muka.
__ADS_1
"Gimana program, apa masih mau lanjut?" tanya Devan, juga merasa kasihan pada anak yang akan lahir.
Dewi mengangkat bahu, "Apa dia akan membatalkan nya?" Dewi balik nanya.
"Tidak ada bicara mengenai itu, ini aku sendiri kepikiran." Jawab Devan.
"Kalau aku gak masalah, tapi kalau dia keberatan ya sudah. Minta dia konfirmasi pembatalan pada Shopie." ujar Dewi.
"Kamu yakin, akan membiarkan Shopie mengandung anak kalian?" tanya Devan seketika sadar telah salah bicara.
Hm, apa karena Shopie selingkuh Johan, desah batin Dewi.
"Apa yang kalian bicarakan?" suara Johan menghampiri mereka, tadi Johan memerintah Devan agar mendekati Dewi jangan sampai keduluan Damien.
"Ayo, pulang." ajak Johan pada Dewi.
Hm, Dewi melihat pada Arjit yang sedang berbincang dengan Damien. "Aku pulang dengan Manager."
Dewi menolak alasan, bangun dari duduk nya. Johan menahan tangan Dewi. "Arjit sudah mengijinkan kamu pulang denganku." jelas Johan.
"Aku tidak percaya." Dewi menyentak tangan Johan segera menghampiri Arjit, Johan mengikuti nya.
"Dewi, kamu pulanglah dengan Tuan Johan, kebetulan urusannya sudah selesai. Saya dan Damien ada urusan sedikit ke mansion mbak Alisha." jelas Arjit bahkan Dewi belum ngomong apa apa.
Ck, tidak ada tumpangan lain, mengingat daerah masih tanah kosong. "Baik Tuan." jawab Dewi, pasrah.
"Dewi mobil kamu sudah diambil oleh orang suruhan yang mengaku suamimu." jelas Damien merasa gak enak hati pada Dewi.
Maksud tadi setelah di pompa ban, mau diantar ke WJ pada jam pulang kerja malah keduluan Johan mengambil nya dari bengkel.
******♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, jangan lupa selalu like ya guys, 🙏