
Selesai sarapan Dewi berangkat ke kantor bareng Lee.
"Bagaimana kabar ayahmu?" tanya Lee basa basi, kan dia jelas tau selalu contact by phone dengan Tuan Tirta.
"Tidak tau, ayah enggak mau bicara dengan ku." jawab Dewi, sedih.
"Hanya 4 bulan sampai masa perjanjian, bersabarlah," pujuk Lee.
Dewi menatap Lee, "Aku gak terikat dengan perjanjian ayah kan, hak aku juga dong menolak nya. Gila aja sudah ditalak masih satu kamar, siapa yang tangung dosa!" Dewi nada gak senang.
"Ada ya, ayah yang melempar anak perempuannya ke neraka, hah!" lanjut Dewi, menghembus nafas kasar.
"Sepertinya Johan menyesal menceraikan kamu, katanya dia mau rujuk?" Lee memancing Dewi mau apa enggak, walaupun semalam Dewi menunjukkan raut tidak suka, siapa tau sekarang berubah pikiran.
"Ya gak maulah, nyesal juga gak langsung enak dong dapat pengampunan. Aku yang disakiti aja pengen cerai ku sabar sabar mau nggugat. Bagaimana dia yang dapat enak gak sabar menceraikan aku, oh tidak lah yau." ketus Dewi.
Hm, Lee tersungging. "Aku juga gak setuju kamu rujuk, hanya ulur waktu bisa kan Anggi," mohon Lee.
Dewi menatap Lee memicingkan mata, "Jujur, kamu dapat berapa dari ayah sampai mempertaruhkan dirimu menyusup ke WJ bela belain ketemu aku,"
"Itu rahasia,"
"Ya udah kalau gitu, pergilah aku gak butuh pengawalan. Aku sudah dewasa bisa jaga diri," tegas Dewi, melengos buang muka.
Lee membawa mobil ke pinggir, menoleh ke Dewi, "Anggi, ayahmu sedang sakit kamu mau dia terpuruk jatuh bangkrut."
"Bukan urusan ku, kalau aku gak lari dengan Johan juga dapat sama si Tuan Prana, gak lebih baik juga pilihan mereka."
__ADS_1
"Dia baik, Anggi. Tidak main perempuan cuma gila uang, coba kalau kamu menikah dengannya bukan kah kamu juga bisa menikmati hartanya," jelas Lee, memberi pengertian Dewi.
"Kalau iya, dia gak pelit. Kenapa dia gak main perempuan, ya karena dia pelit gak mau bayar. Dengan tampangnya yang jelek itu gak ada perempuan yang mau bahkan dikasi uang juga harus banyak dan orangnya yang benar benar butuh,"
Melihat emosi Dewi ternyata keras juga, akhirnya Lee menyerah daripada gagal proyek merayu Dewi.
"Baiklah aku jujur, Ayahmu memberi ku 50% dari saham Tuan Prana," jawab Lee menyembunyikan upah yang dia dapatkan selain saham.
"Memang nya berapa saham Tuan Prana?"
"Tiga puluh lima persen dari harta,"
"Jadi berapa, jangan berbelit belit."
"5M," jawab Lee, menelan ludah.
"Kamu dapat perusahaan, jadi bos kembali ke London." jawab Lee.
"Enggak akan aku kembali ke London, kita bagi dua upah kamu. Kan aku juga ikut bekerjasama, beri dalam berbentuk cash." tegas Dewi.
Hm, Lee menghela nafas. "Oke deal," ucap nya.
Dewi terperangah, cepat sekali dia dealnya.
"Tiga hari lagi kita ke rumah Johan,"
Lee pasang tampang serius kembali melajukan mobilnya menuju kantor WJ.
__ADS_1
*
Sementara Johan di ruang kerjanya mengamati photo photo yang dikirim intel dari Amrik tapi belum termasuk video Zan yang mabuk, karena keburu ditahan anak buah Beno.
"Niah, tunggulah kau." geram Johan.
"Devan." panggil nya pada Devan yang juga ikut terpelongo melihat photo photo Niah, memang cantik wajahnya kelihatan gembira tanpa beban.
"Hm, intel ditahan bodyguard Bernard Ludwig pemilik club, berdoalah dia tidak memberitahu siapa yang membayar nya,"
"Kenapa takut, Niah itu istriku. Wajar aku memata matai nya." sergah Johan.
Devan menepuk bahu Johan, "Kamu ingat Bernard Ludwig yang aku ceritakan padamu, dia juga pemilik Jaguk deptstore tempat di mana kita mendapatkan bahan bahan proyek jadi aku harap kamu jangan cari masalah, ngerti Johan!"
Ck, decak Johan gak nyangka istri istrinya bertemu dengan orang orang hebat. Dewi bersama WJ, gantian sekarang Niah ditangan Jaguk. Bernard Ludwig bahkan lebih hebat dari Bramasta Wijaya, ah.
Devan tersenyum manis melihat raut tak berdaya Johan.
"Apa kamu akan mempekerjakan intel lain?" lanjut tanya Devan.
"Hm pantau terus, bagaimana transfer?"
"Masih pagi, sabarlah. Kamu juga belum bisa langsung ke Amrik, setelah WJ transfer kita masih akan sibuk menyelesaikan proyek kan?"
Devan berdiri menuju pintu keluar ruang kerja disusul Johan.
******♥️
__ADS_1
Hi, jumpa lagi.