
Setelah sadar sepenuhnya, Johan mencari cari di mana Dewi lalu menoleh ke belakang merasa ada mobil lain parkir lampunya terang. Benar saja, ada Dewi di sana, hah!
"Johan, biarkan Dewi malam ini pulang ke rumah besar. Aku antar kamu pulang ke rumahmu," tahan Devan, melihat Johan hendak turun dari mobilnya.
"Aku perlu bicara dengan Dewi," Johan ngotot.
Melihat itu Lee menahan pintu mobil sebelah Johan.
"Pinggir," bentak Johan pada Lee karena menghalangi jalannya.
"Sudahlah Johan, ayo kita pulang." pujuk Devan.
Ah, kesal Johan. "Kamu di pihak mana sih, Devan!" bentak nya melotot pada Devan.
Lee yang berdiri di luar menahan pintu, berbicara lewat jendela. "Tenanglah Tuan Johan, saya akan pujuk Dewi agar besok dia mau pulang ke rumah anda untuk 4 bulan ke depan. Kalau mau lebih lama, berusaha lah baik baikin dia, ngerti." ujar nya pada Johan.
"Siapa kamu ngatur ngatur! Kenapa harus besok, kenapa gak sekarang." protes Johan, mencoba mendorong lagi pintu mobil.
Lee bergeming. "Johan, semakin kamu memaksa, Dewi akan semakin takut padamu. Jadilah penyejuk hatinya, bisa tidak kamu jaga bibirmu itu jangan sembarangan selama 4 bulan." lanjut Lee melihat bibir Johan, ia tau Sabit sudah menceritakan nya.
"Sembarangan apa?" tanya Johan.
"Bibir kamu pecah, Johan. Kamu barusan mencium nya paksa, dia takut padamu." Devan yang jawab.
Ah iya.
Johan tiba tiba teringat. "Siapa yang menepuk pundak ku!" tanya Johan ketus.
"Aku," jawab Lee cepat, ingin melindungi muridnya.
"Johan, jaga sikap kamu kalau mau Dewi pulang ke rumahmu. Kalau kamu ulangi maksa maksa Dewi melayani nafsu bejatmu, maka aku akan membawa Dewi ke London langsung ke rumah Tuan Prana. It's nothing to loose for me." jeda, Lee menghela nafas.
"Devan, apa kamu tidak memberitahu bos kamu ini?" lanjut Lee bertanya pada Devan.
Maksudnya mengenai perjanjian Tuan Prana dan ayah Dewi, Lee sudah memberitahu Devan. Walaupun Lee ada kerjasama pada kedua belah pihak namun Lee lebih berat ke Ayah Dewi. Kayak ular kepala dua, gitulah.
"Memberitahu apa?" tanya Johan memandang kedua orang, bergantian.
"Wah, Devan! Kamu sudah mulai berani main rahasia sekarang, apa yang kamu rencanakan di belakangku. Dengan si kambing ini lagi!" sental Johan pada Devan.
"Sialan, gua dikatain kambing," sinis Lee.
"Bentar lah Johan, aku juga berniat memberitahu kamu setelah selesai urusan Seroja. Maksudnya biar fokus satu satu dulu," jelas Devan alasan.
"Kita bicara di rumah. Oke!" lanjut nya start engine.
"Sudah Lee, pergilah." Devan pada Lee.
"Awas kamu, kalau gak bawa Dewi besok pulang ke rumahku. Aku akan menculik nya." kecam Johan menunjuk pada Lee, menoleh ke mobil belakang di mana ada Dewi.
Hah! Kenapa dia semakin cantik sih.
Sementara Sabit sembunyi tepat saat Johan ngadap belakang dengan jantung berdegub lebih cepat dari normal.
Hum.
Lee menghela nafas membiarkan Devan membawa Johan lalu menelpon Yudi. Banyak panggilan masuk di ponselnya belum sempat ngangkat gara gara berantam.
*
Barus kembali ke restauran, jumpa Arjit dan Iskan di parkiran. Tidak ada Lee dan Sabit, Olivia di dalam mobil kelihatan gelisah.
"Sabit menyelinap ke mobil Johan, Lee sudah menemukan nya. Jangan khawatir, aku juga sudah memberitahu Yudi, barusan dia juga nelpon aku." jelas Arjit.
Ah, syukurlah.
__ADS_1
"Dewi, ikut siapa?" tanya Barus lagi, jangan bilang ikut si Johan.
"Ikut bersama Lee, mereka menuju rumah besar." jelas Arjit.
Ck, jadi Lee berhasil menyelamatkan Dewi, Arhhh.
Kesal Barus sedih atas kekalahan dirinya dari Lee dalam melindungi Dewi.
Arjit menoleh pada Iskandar. "Iskan, kita pulang sekarang. Kamu ikut nginap di rumahku atau di hotel WJ?" tanya Arjit menawari Iskan.
"Tidak apa Arjit, aku akan begadang nungguin asistenku mengurus masalah Seroja. Aku ingin semua beres malam ini juga, pindah tangan." tolak Iskan, halus. Segan harus merepotkan Arjit lebih banyak lagi.
"Hei, apa kamu tidak percaya pada asisten mu, ayolah! Atau kita ke rumah besar jumpa Yudi, aku juga mau laporan. Dia sudah ada di sana." tawar Arjit yakin Iskan akan setuju, siapa orang yang gak penasaran ingin melihat Yudi.
Iskan sudah lama mendengar nama Yudi dari walikota dan Iskandar memang penasaran bagaimana orang nya.
Ah, si misterius man. Akhirnya kesampaian juga aku bertemu dengannya.
"Ehm, boleh juga." angguk Iskan setuju.
Yes!
"Oke Barus, kamu bawa Tuan Iskan ke rumah besar. Aku ngantar Olivia pulang dulu, entar baru nyusul." senyum Arjit.
Mendengar suaminya, Olivia merengut, "Arjit, kenapa gak sekalian saja aku ikut ke rumah besar, baru kita pulang bareng," protes nya.
Arjit menatap Olivia, "Bukannya aku gak mau dan aku juga gak mau repot. Tapi aku lebih gak mau lagi kalau Yudi mengomeli aku sayang, oke. Kita pulang sekarang." jelas Arjit tau akal bulus Olive pasti mau kesempatan jumpa Yudi.
Cis, dengus Arjit dalam hati.
Ck, decak Olive kesal masuk mobil Arjit, angan angannya jumpa Yudi gagal total.
"Ayo Barus, tunggu apa?" Arjit membuka pintu mobil Barus.
"Silahkan Tuan Iskandar Leonard yang terhormat." Arjit mempersilahkan Iskan.
Sekali tepuk dua lalat, jumpa Dewi dan Yudi sekaligus. How lucky I am, hum.
Ah, desah Barus masuk ke mobil duduk di bangku kemudi.
Tuan Arjit gak pengertian banget sih, tau aku suka pada Dewi malah bawa rival ke rumah besar. Maksudnya apa, ya apalagi kalau bukan mendukung Dewi sama si Tuan ini...
Apa tadi, Diplomat! Duta besar, hah!
Mentang mentang jabatan nya lebih tinggi dari aku, tampan pula lagi. Aku pasti kalah dari segi apa pun kalau dibanding kan Tuan ini..
*
Di rumah besar Dewi terhenyak di sofa dapur, ada Dwi menonton TV.
"Bu," sapa nya
"Capek?" tanya Dwi pada Dewi.
"Hm," angguk Dewi.
"Tapi, besok masih bisa jalan bareng Bu Dwi kok." senyum nya pada Dwi.
"Bibi," sapa Sabit menyusul masuk ke ruang dapur, ingin segera masuk kamar mau mandi langkahnya tertahan suara Dwi.
"Sabit, ayah kamu di kamarnya di belakang. Tadi sepertinya gelisah mondar mandir." jelas Dwi, heran.
Tumben banget Yudi ke rumah besar, biasanya kalau gak di hotel WJ ya di Mansion Alisha, kota reklamasi.
"Iya, sudah. Barusan Sabit nelpon ayah." jawab Sabit.
__ADS_1
"Ayah," panggil nya seketika melihat Yudi juga masuk ke dapur.
Aarrghhh.
Sabit sesak Yudi memeluk nya erat.
"Kamu gak apa apa kan?" tanya Yudi meraba raba wajah Sabit dan memeriksa seluruh tubuh putranya dari atas sampai bawah.
Ah haha, "Ayah, geli ah." ujar Sabit sambil tertawa, mendorong Yudi.
Lee masuk dapur melihat interaksi anak dan ayah hati nya iri.
Yudi baru 36 tahun punya putra sebesar sabit usia 15 tahun. Hm, umur berapa Yudi udah nikah, 20 tahun? Cepat amat dia gatalnya. Aku kenal perempuan usia 25 tahun, itu pun 3 bulan langsung putus gegara sibuk jadi agen, hah!
Desah Batin Lee teringat mantan kekasihnya.
"Lee, aku minta kamu ngajarin putraku bela diri. Kenapa kamu bawa keluyuran, menentang bahaya." marah Yudi pada Lee.
Mendengar itu. "Ayah, kita bukan keluyuran! Ini misi kemanusiaan dalam rangka mengawal Nyonya Dewi, aku suka. Bisa praktek langsung ilmu yang diajarkan guru Lee."
Sabit membela gurunya, tersenyum pada Dewi teringat tadi saat ia meng-karate Johan. Walaupun dengan jantung yang hampir copot karena takut Johan kenapa napa.
Ck, decak Yudi kesal membaca Sabit, sepertinya putranya ini sangat menyukai Lee.
"Baiklah, kebetulan kita jumpa Tuan Yudi. Dewi akan pulang ke rumah Johan, aku akan menemani nya dan membawa Sabit ikut dengan ku." ujar Lee sekalian permisi minta ijin pada Yudi.
"Hei, tidak boleh. Sabit tidak boleh kemana mana," larang Yudi cepat, ia keberatan.
"Belum waktunya Sabit terjun langsung kelapangan menentang bahaya." tegas Yudi.
"Ayah," Sabit merengek pada Yudi.
"Lagian aku gak akan ke rumah Johan," sambung Dewi mendelik Lee.
Ih, amit amit, di mobil yang terang ia berani apa lagi satu kamar, tidak tidak.
Mendengar itu, Lee menghela nafas. "Dewi, kasihan lah pada Ayah dan Ibu kamu. Aku juga punya perjanjian pada Prana, gak akan rugi apa apa tapi pikirkan ayahmu. Lagian mau ngasi pelajaran ke si Prana agar jangan suka menipu para imigran." jelas Lee lagi, memberi pengertian Dewi.
Ehmm, Lee berdehem. "Mengenai di mobil, Johan sudah berjanji gak akan mengulangi. Devan akan mengatur kalian kamar terpisah, kalau kamu gak pulang justru dia akan maksa bila perlu menculik kamu. Apa kamu gak mau hidup tenang menghadapi Johan tanpa perlu sembunyi," lanjut Lee lagi.
Cis, tapi Johan itu tidak bisa dipercaya, pembohong. Maniak!
Dalam hati Dewi teringat tadi di mobil dan selama lima tahun hidup berumah tangga dengan Johan dirinya seolah mesin pemuas nafsu.
Enggak cukup denganku, pake selingkuh dengan Shopie bahkan mau nambah Niah lagi kalau anak itu gak keburu kabur.
"Tidak mau!" tegas Dewi udah mau keluar air mata
"Dewi, hanya empat bulan." mohon Lee suara pelan kasian juga pada Dewi.
Yudi membaca Lee, memang dia suka uang tapi masih punya hati. Tuan Prana juga membuat kesepakatan dengan Lee jika berhasil membuat Dewi cerai dengan Johan sebelum waktu kontrak, Lee bahkan mendapat lebih banyak dari yang dijanjikan ayah Dewi.
Hah, serba salah.
*
Dewi masuk ke kamarnya dilema, setelah mendapat penjelasan dari Lee hatinya galau.
Empat bulan bukan waktu yang sebentar, bagaimana kalau aku pinjam El tidur di kamar ku nanti saat di rumah Johan...
Kira kira Damien kasi enggak ya,..
Lihat besoklah, baik aku bersenang senang dulu dengan Bu Dwi dan Barus.
******♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, jangan lupa like nya guys. 👍