
Di dapur, Dewi bantuin Dwi membereskan meja utama.
"Kita pergi diantar Barus, ada yang ingin ibu kunjungi selain ke Mall?" tanya Dewi, berbisik pada Dwi.
"Kita ke Krisan Cluster sebentar, ke rumah saya." jawab Bu Dwi.
"Iya, saya mau." angguk Dewi cepat.
"Kemana saja jalan gak apa, biar gak kepikiran masalah hidup yang lagi terpuruk," lanjut nya tersenyum hambar.
Hm.
Dwi menarik ujung bibirnya teringat dirinya saat mengetahui anak yang diasuhnya adalah darah daging mendiang suaminya dengan perempuan lain.
Walaupun itu adikku sendiri dan sudah meninggal tetap saja sakit hati, apalagi ini masih hidup. Tidak gila saja sudah syukur.
Deerrrt, deerrrt.
Panggilan masuk di ponselnya, Shopie? Hm, ada apa dia?
Gumam Dewi mengangkat panggilan. "Ada apa, Shop?" tanya nya tanpa basa basi.
"Johan meminta ku pindah ke rumah kamu, besok. Aku pikir mau melangsir beberapa barang keperluanku sekarang. Boleh tidak Dewi, tolong tanya Johan dong?" suara Shopie di ujung sambungan.
Ck, "Kamu tanya Devan aja Shop atau kamu telpon Johan aja langsung, aku sedang di luar ya. Bye."
Hah! Dewi segera memutus sambungan.
Shopie di apartemennya tersenyum senang, semakin yakin kalau Dewi dan Johan benar benar sudah berpisah.
Aku akan merebut Johan untukku dan si Niah akan aku urus setelah pindah ke rumah Johan, yes.
Dalam hati Shopie mengusap perutnya, bibir menyeringai.
*
Sabit di kebun bantuin Danu mengurus tanaman, Lee ikutan namun cuma duduk doang di saung berangin angin sambil ngerokok.
"Jam berapa sih mereka pergi?" gerutu nya.
Mendengar itu, "sabarlah guru kita juga baru sarapan, Mall juga belum buka." ujar Sabit menenangkan gurunya.
Ck, decak Lee memandang ke Barus yang sedang mengobrol dengan Satuan pengaman (bawahan Barus yang sedang bertugas di rumah besar).
"Huh, lihatlah bibir si Barus itu gak berhenti tersenyum. Gaya amat sampai beli baju baru, mentang mentang mau jalan dengan Dewi." Lee bersungut sungut.
Hehe. "Guru, cemburu tandanya cinta." jawab Sabit mendengar gerutuan Lee.
"Hm, tau apa kamu tentang cinta Sabit. Sekali sekali jangan percaya dengan yang namanya cinta. Itu semua mainan perasaan, nanti kamu kecewa." jelas Lee.
Sabit dan Pak Danu pandang pandangan.
"Kecewa kalau kita dikhianati cinta tapi kalau kita ngikutin jalan yang lurus, cinta membuat bahagia dan hidup jadi lebih indah." Pak Danu ber-pujangga.
"Apa itu jalan yang lurus?" tanya Lee.
"Kalau bertemu perempuan yang mencintai mu, sayangilah dia. Jangan selingkuh, walaupun istrimu banyak kekurangannya. Karena kamu juga belum tentu sempurna di hatinya karena pada dasarnya tidak ada manusia yang sempurna." jelas Pak Danu bangga dengan rumah tangganya yang awet sudah 20 tahun pernikahan.
Cis, "Dasar orang tua, itu cinta jaman dulu. Kau dan aku satu, mangan ora mangan asal ngumpul. Sekarang tidak lagi begitu, cinta itu harus ada dua. Nafsu dan uang. Dan masalah selingkuh bukan hanya pria tapi perempuan juga banyak kalau zaman sekarang. Suami kalau punya uang tapi miskin urusan ranjang, istri juga bisa selingkuh. Suami di ranjang mulu tapi miskin uang, cinta istri pun hilang."
Keluh Lee Teringat mantannya, betapa kagetnya ia saat datang ke Apartemen pacarnya itu sedang bersama pria lain. Padahal tampangnya polos dan ia sangat memanjakan nya dengan uang cuma yaitu jarang bisa datang bermesraan karena tugas.
"Hah!" keluh nya menarik nafas dalam, menghembuskan nya pelan. Asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
Sabit garuk garuk kepala gak ngerti.
*
__ADS_1
Iskan dan Arjit ngobrol di ruang keluarga, ada juga Yudi. Mengetahui Dewi akan jalan ke Mall kota reklamasi kesempatan Arjit menawarkan diri berangkat bareng.
Apa!
Dewi memandang atasannya itu. "Tuan Manager Arjit, Bu Dwi sekalian ingin pulang ke rumahnya di Krisan cluster." jelas Dewi alasan ingin menolak.
Melihat Dewi sepertinya keberatan. "Maaf Dewi, saya meminta kamu lembur mendadak. Tuan Iskan ingin melihat proyek tahap 3, kamu temani aku oke." Arjit pada Dewi alasan.
"Dwi, kamu ikutlah! Setelah dari proyek, baru pergi ke Mall. Tuan Iskan juga mau melihat lihat, dia baru datang dari melbourne. Mengenai ke Krisan, besok saja pergi nya." tegas Arjit memaksa karena ia sudah setuju membantu Iskan melakukan pedekate pada Dewi.
Jadi bagaimana janji dengan Barus, aish. Mana dia sudah bergaya lagi..ck kasian nya, dia pasti kecewa.
Yudi membaca Dewi sepertinya ada perhatian juga pada bawahannya si hulk itu.
"Arjit kalian berangkatlah duluan, nanti aku nyusul bersama Barus." ujar Yudi.
Hm, "Baiklah Yudi, kalau begitu sudah diputuskan. Ayo Iskan, kita bersiap." Arjit senang Yudi mendukung pilihannya untuk Dewi.
"Oke," jawab Iskan tersenyum senang melihat Dewi berdandan sederhana tetap cantik.
Si Johan, bagaimana tidak menyesal telah melepaskan perempuan seperti Dewi.
Hm, "Kalian dua D, tunggulah sebentar ya." smirk Arjit pada kedua perempuan yang namanya sama sama berawalan de itu.
"Baik, Tuan." jawab Dewi, lalu memandang Dwi.
"Tidak apa apa, besok saja saya ke Krisan." senyum Dwi pada Dewi agar jangan merasa gak enak hati.
*
"Hahahaha."
Di saung Lee menertawakan Barus yang melongo seperti mau menangis melihat Dewi masuk ke mobil Arjit bersama Iskan dan Bibi Dwi.
Mana seperti diatur lagi duduknya, Dewi di belakang bersama Iskan, Dwi di depan di samping Arjit.
Ck, Barus menepis tangan Lee di pundaknya, mengurut dada hatinya sedih.
"Ayo Barus," suara Yudi menghampiri Barus dan Lee.
"Siap Bos," jawab Barus suara pelan, walaupun hatinya kecewa tidak bersama Dewi satu mobil namun sedikit terhibur Yudi membawa nya menyusul Dewi.
Setidaknya tidak sia sia aku bergaya, hah!
"Lee, kami pergi dulu. Kamu jagalah rumah besar sambil melatih Sabit, maka akan aku pikirkan mengizinkan Sabit ikut dengan kamu ke rumah Dewi." ujar Yudi pada Lee.
O, Lee membulat.
Mau menjauhkan aku dan Dewi lagi, ya.
"Tuan Yudi, Sabit juga mau ke Mansion jumpa adiknya Sora. Saya akan jadi pengawal pribadinya dan urusan latihan bisa sambil jalan. Jadi urusan jaga rumah serahkan saja pada Satpam, oke." ketus Lee berlalu dari hadapan Yudi dan Barus.
Cis, sorry. Aku harus ikuti kemanapun Dewi pergi, batin Lee.
"Silahkan, Bos," Barus membuka pintu mobil untuk Yudi.
Hah!
Yudi menghela nafas jadi kangen pada Laras dan bayinya.
*
Devan di rumah Johan, wajahnya meringis miris melihat bos sekaligus temannya itu tertawa senang mendengar laporannya.
"Apa! Bos Seroja kabur entah kemana, wakil ketua minta deposit dikembalikan. Jadi kamu jawab apa Devan, hahaha." tanya Johan masih ada sisa tawanya.
"Ya, karena tidak ada dalam perjanjian deposit dikembalikan jadi karena kasihan aku memberi nya lima juta sebagai tanda terima kasih telah memberi kita proyek," jelas Devan.
__ADS_1
"Itu kebanyakan Devan, satu juta sudah cukup. Dia juga bermain harga dengan bosnya yang buron itu."
"Ya paling berapa, mana berani dia mengambil banyak banyak. Lagian kita sudah berteman lama dan dapat proyek em eman darinya. Itung-itung tanda persahabatan, siapa tau ada proyek lagi dia mencari kita."
"Ya sudah, kalau menurut kamu begitu. Bagaimana dengan Niah, ada pesan dari WJ kapan Vidio call?" tanya Johan.
"Belum...tapi menurut laporan intel kalau siang Niah di mansion dokter Daniel. Dokter kecantikan dunia, kamu pernah mendengar namanya?" tanya Devan.
"Aku tidak kenal satu pun dokter kecantikan!" sental Johan.
"Jadi Niah tidak bersama Bernard, ngapain dia di mansion dokter itu?" lanjut tanya Johan.
"Mungkin kerja pembantu seperti biasa."
Gubrak!!
Devan sampai kaget, Johan menggebrak meja.
"Kurang ajar si Bernard, istriku dijadikan pembantu." kesal Johan mengepal tangan geram.
Gleg.
"Johan deposit Seroja pakai saja beli jet, itu uang bebas. Kamu mau gak?" usul Devan, memandang Johan seram.
"Memangnya cukup?" Johan melototin Devan.
"Ehm, ada yang murah. Penumpang 4 orang ditambah supir dua orang dan satu pramugara jadi 7 orang. Ada kamar satu standar biasa dan mini bar." jelas Devan.
"Ya sudah, kamu atur Devan. Kalau cuma jadi pembantu, aku akan menjemput istriku pulang." marah Johan.
"Kalau si Bernard itu tidak menginginkan Niah ngapain nyuruh orang bercerai, dasar brengsek! Putuskan urusan bisnis dengan Jaguk secara perlahan." geram Johan.
Hm, angguk Devan.
"Oh iya Shopie mau melangsir barangnya hari ini, gimana? Kamar Sudah siap itu."
"Tidak bisa, katakan padanya jangan bawa apa apa selain baju satu koper. Dan datang hari senin, ngerti!" tegas Johan, ck.
"Bikin kesal aja." gerutu nya.
Derrt dertt.
Ponselnya berbunyi, Johan membuka pesan dari intelnya yang mengikuti Dewi.
"Devan, siapkan mobil." Johan bergegas keluar dari ruang kerja.
Hais, Devan meraih ponsel Johan yang tadi dihempas nya di meja.
"Oo,"
Devan membulat melihat photo Dewi masuk ke mobil duduk bersama Iskandar di bangku belakang. Ada Arjit dan satu perempuan dewasa.
"Jadi ini yang membuat nya panas seperti kebakaran jenggot, yang bersama Arjit bukan Olivia. Mau kemana mereka?" Devan bergumam pada diri sendiri.
"Hei, kenapa kamu masih di sini?" Johan merampas ponselnya dari tangan Devan. Bosnya itu telah siap dengan sangat tampan.
"Johan, tolong jangan buat kerusuhan lagi nanti Dewi semakin tidak mau pulang. Dia itu ladang duit, ingat perjanjian dengan Lee." mohon Devan, wajah memelas.
"Iya aku tau, kita hanya memantau nya dari jauh. Kalau ada kesempatan pura pura saja gak sengaja ketemu, oke."
"Ayo kataku!" bentak Johan mendelik pada Devan melihat asistennya itu belum mau beranjak.
Ck, "Baiklah, Bos." Devan berdiri dengan malas.
*******♥️
Jumpa lagi, 👍
__ADS_1