Manisnya Madu

Manisnya Madu
61


__ADS_3

Sebelum keluar dari kamarnya, Niah menahan tangan Johan.


"Jangan batalkan program, jangan bawa si mbok ke Apartemen," tegas nya.


Hah!


"Kenapa sayang, bukankah tadi kamu ingin program dibatalkan. Aku pikir kamu benar kalau mau cerai untuk apa lagi program, itu artinya selamanya aku akan terikat dengannya. Kita buat anak sendiri saja ya, ehm."


Johan nada memohon, gak ngerti jalan pikiran Niah yang plinplan. "Terus kalau gak bawa si mbok, siapa nanti yang bantuin dan nemanin kamu selama aku kerja. Aku gak mau kamu kesepian terus alasan bosan atau terlalu capek," lanjut Johan nada marah marah sayang.


"Sudah tanggung, Bibi juga sudah mau cuti. Ingat aku ini pembantu, ngurus rumah aku sudah biasa malah kalau diam saja badan rasanya pegal semua." tegas Niah lagi.


Hais, dasar wanita susah dimengerti.


"Tapi, aku maunya kamu makan tidur. Biar gak alasan capek saat aku ingin kamu...," suara Johan sok dimanja manja.


Aduh, jangan harapkan cinta dari pria yang berotak cabul.


Batin Niah. "Jangan membantah, kalau mau terus saya bersama anda jangan batalkan program, jangan menceraikan Nyonya sampai beliau yang menggugat anda!" tegas Niah.


Ck, Johan menangkup wajah Niah mengecup bibirnya kilas. "Baiklah, sayang. Kalau maksud kamu ingin mencoba memperbaiki hubunganku dan Dewi yang telah retak, aku gak yakin bisa berhasil," ujar Johan mencoba meraba kemana jalan pikiran Niah.


"Pergilah kerja, aku gak mau ke Apart. Nanti aku mau nge-mall aja," ketus Niah mendorong Johan keluar dari kamarnya.


*


Di kamarnya, Dewi bolak balik menghapus air matanya namun susah mau berhenti.


Arghhh!

__ADS_1


Dewi menepuk nepuk dadanya yang sesak, teringat ucapan Niah.


Cinta, masih adakah cinta? Namun untuk apa dipertahankan kalau menyakitkan.


Tok tok tok.


"Nyonya," panggil mbok Senah, tadi dia khawatir banget sama Dewi.


Bagaimana mau ambil cuti lebih awal, gak tega ninggalin si Nyonya. Lalu mbok Senah mencari cara pura pura membawa sarapan untuk melihat keadaan Dewi, apakah baik baik saja.


Dewi menghapus air matanya, berdiri membuka pintu. "A-da a-pa, m-bok?" tanya Dewi sesenggukan suaranya hampir hilang, membiarkan si mbok masuk.


"Nyonya ini sarapan anda saya bawa ke kamar, sebelum berangkat kerja perut anda harus terisi," ujar si mbok, meletakkan nampan di meja sofa.


"Terima ka-sih, mbok." ujar Dewi suara pelan.


Dewi tersentuh atas perhatian si mbok, seketika merindukan ibunya. Air mata Dewi kembali jatuh berderai, si mbok memeluk nya ikut menangis.


"Nyonya, hiks hiks. Yang sabar ya, maafkan saya yang nawarin Niah kerja di sini," ucap si mbok.


Dewi semakin teriak menangis di pelukan si mbok, kedua majikan dan pembantunya itu saling berpelukan, menangis pilu.


Johan di balik pintu menahan tangannya saat hendak menekan handle. Berdiri bersandar di dinding kamar, menunggu. Ingin rasanya masuk dan memeluk Dewi, tapi apa Dewi masih mau dipeluk olehnya. Dirasa sudah hening, johan mengetuk pintu.


Tok tok tok.


Mendengar itu, "bukain mbok," titah Dewi, dia sendiri kabur ke kamar mandi.


Cekklekk.

__ADS_1


Mbok Senah membuka pintu. "Tuan," sapa nya.


"Hm." Johan bergumam melewati si mbok.


Wajah si mbok aja sembab parah bagaimana dengan wajah Dewi?


Batin Johan berjalan ke wardrobe mengambil pakaiannya kemudian keluar ingin mandi di kamar tamu, teringat wajah sembab Niah yang menggemaskan dan ciuman Niah barusan.


Hm, not bad.


Batin Johan menarik ujung bibirnya, menutup pintu kamar meninggalkan si mbok yang melongo kesal dengan tingkah si Tuan yang senyum senyum mesem mesem.


Setan apa yang merasuki mu, Tuan.


*


Devan datang menjemput Johan, ingin mengambil barang yang ketinggalan, heran melihat Johan ada di kamar tempat biasa ia tidur sedang mengenakan pakaiannya.


"What's up bro yang punya istri tiga. Jangan bilang anda tidur di sini sekarang, menjomblo," ledek Devan.


Johan tidak memperdulikan Devan, merasa sudah rapi. "Ayo kita turun sarapan," ajak nya keluar dari kamar.


"Oke Bos," ucap Devan membawa jas Johan mengikuti si bosnya turun, geleng kepala.


******♥️


Hi, trima kasih sudah ngikutin cerita othor. Jangan lupa like, vote dan juga hadiah ya.


Jumpa lagi, 👍

__ADS_1


__ADS_2