
Mbok Senah membawa Karunia ke hadapan Dewi yang duduk bersandar di headboard kasur sambil menikmati makanannya.
"Kamu sudah makan Niah?" tanya Dewi berlagak akrab karena ia tahu bisa saja Johan mendengar pembicaraan mereka sekarang.
"Sudah Nyonya, tadi pagi sarapan." jawab niah.
Hehe, "Aku yang kesiangan." Dewi tersenyum dipaksa ikhlas.
"Hm." Niah balas tersenyum.
"Aku dengar Johan meminta kamu memanggilnya Papi, gimana kalau kamu juga manggil aku Mami. Bukankah kamu anak perempuan suamiku." ujar Dewi.
Hah, benarkah Nyonya percaya aku darah daging Johan.
Batin Karunia merasa sesak tiba tiba, merasa tersindir. Apalagi Dewi bukan orang bodoh yang akan percaya begitu saja dan kepekaan perasaan seorang istri. Tidak mungkin Dewi semalam sampai pingsan hanya karena Johan ingin mereka makan bersama.
"Saya sudah punya ayah dan ibu walaupun mereka sudah meninggal. Saya akan tetap memanggil anda berdua Tuan dan Nyonya sampai waktunya saya pergi dari rumah ini." jawab Niah benar benar sungkan kerena memang sudah gak ada yang bisa dikerjakan nya.
Ngapain juga lama lama di sini, aku juga bukan darah daging Johan hanya tidak sengaja tiba tiba jadi pelakor.
"Hei, kita berdua jelas tau Johan tidak akan membiarkan kamu pergi. Sebaiknya mulai biasakan memanggil Johan Papi dan panggil aku Mami. Bukankah status kamu tidak lagi seorang pembantu melainkan Nona muda di rumah ini." ujar Dewi sambil tersenyum, yang Niah tau jelas itu senyuman mengejek.
Karunia semakin gugup. "Tidak Nyonya, bagaimanapun caranya saya akan pergi dari rumah ini."
"Kemana mau pergi, orang yang menyebabkan kamu lahir ke dunia suamiku dan dia sangat menyayangi kamu bahkan melebihi aku istri yang selama ini setia menemani....yang sebentar lagi juga akan tersingkir." lanjut Dewi dalam hati.
Karunia terdiam, apa mau si nyonya sebenarnya.
Melihat niah terdiam. "Aku mau mandi, maukah kamu menolong ku menyiapkan air?" tanya Dewi.
"Iya, tentu saja. Nyonya mau mandi sekarang?" tanya Niah dengan polosnya.
"Tidak Niah, tahun depan." jawab Dewi.
Hahahaha.
Mbok Senah yang dari tadi diam mendengar pembicaraan tiba tiba tertawa. "Ya sekarang Niah." jawab nya.
"Baik Nyonya." jawab Niah lalu berdiri berjalan ke kamar mandi.
__ADS_1
Karena sudah biasa menyiapkan mandi nenek di malaysia, Niah sudah tidak canggung walaupun dirinya sendiri tidak pernah mandi di bathtub. Bagi Niah buang waktu, mandi shower lebih cepat karena Niah paling malas berlama lama di kamar mandi.
"Airnya sudah, Nyonya."
Niah keluar memberitahu Dewi, Dewi mengangguk. "Apakah kamu keberatan, kalau aku minta tolong menggosok punggung ku?"
Tanya Dewi lagi sengaja mengajak Niah ke kamar mandi karena disana tidak ada CCTV, jadi bisa bebas mau bicara apa saja.
"Baiklah Nyonya, untuk anda apa yang enggak." jawab Niah.
Perlahan Dewi turun dari kasur, mbok Senah membantu nya. Karunia mengikuti mereka.
**
Johan di ruang kerja gelisah menatap layar monitor, karena di kamar mandi tidak ada CCTV jadi tidak bisa mendengar apa yang menjadi maksud dan tujuan Dewi memanggil Niah. Karena menurut Johan pembicaraan meraka di kamar tadi hanya basa basi Dewi saja.
"Dewi apa yang kamu rencanakan?" gumam Johan lalu mencoba menelpon Niah melalui telepon rumah. Panggilan tidak diangkat karena Niah memang tidak membawa ponselnya, ketinggalan di kamarnya.
Telepon berdering saat Johan meletakkan gagang, Johan mengangkat lagi. "Hallo." jawab Johan.
"Bos, ada berita bagus bahwa asisten WJ hari ini tiba dari Amrik. Saya telah membuat jadwal dengan Arjit beliau setuju sore setelah Ashar boleh meeting dengannya."
Johan fokus kerja membuat proposal yang menarik agar perusahaannya diikut sertakan dalam proyek tahap 3 pulau reklamasi.
*
Di kamar mandi, Dewi polos tanpa sehelai benang. Karunia memandang Dewi, tubuhnya indah tinggi semampai jauh banget dengan dirinya yang kecil mungil. Kulitnya juga halus mulus sebening mutiara warna pink.
Lalu apa yang dilihat Johan dariku, hanya nafsu karena aku masih muda perawan. Bisa jadi setelah aku dah gak virgin Johan akan mencampakkan aku lalu kembali pada Dewi Istri sahnya...
Aku harus menjaga diriku jangan sampai Johan ngambil kesempatan, kalau boleh sebelum haid berhenti aku sudah harus kabur.
Batin Niah dengan lembut menggosok punggung Dewi. "Niah, aku membawa kamu kemari bukan semata mata ingin merendahkan kamu menggosok punggung, aku ingin bicara sesuatu karena kalau kita bicara di kasur Johan bisa mengetahui nya." jelas Dewi.
Hm, begitu. "Tidak apa Nya, bicara saja." jawab Niah juga penasaran apa maunya Dewi.
"Aku dengar, semalam kamu mencoba kabur?" tanya Dewi to the point.
"Maaf, Nyonya." ucap Niah.
__ADS_1
"Niah, minggu ini jadwal Shopie ke rumah sakit. Kamu bisa ngantar aku kan?" tanya Dewi, sengaja membuat permintaan agar Niah tidak kepikiran kabur mendahului dirinya.
Astaga, gimana mau menyelinap dari pintu belakang, ah.
Batin Niah. "Tentu bisa, Nyonya." jawab nya.
"Saat membawa Shopie ke rumah sakit, kamu bisa ambil kesempatan kabur tapi jangan minggu ini Niah." jelas Dewi menjeda ucapannya mau melihat reaksi Niah.
Kenapa Nya? tanya Niah dalam hati.
Melihat Niah diam saja, Dewi lanjut bicara, "Karena Johan masih akan memperketat pengawasan, ada 3 kali sesi Shopie ke rumah sakit. Kamu pilih saja minggu kedua atau yang ketiga. Aku akan pura pura tidak tau, tapi bagaimana caranya itu kamu yang cari tahu." lanjut Dewi.
Aih lama amat, aku butuh cepat. Keburu haid berhenti habislah aku dimakan Johan.
***
Sore Devan datang menjemput Johan, di mobil Johan memelototi Devan. "Ada apa Johan, kenapa melihat ku begitu?" tanya Devan merasa gak tenang.
Cis, "Aku ingin membunuh kamu, Devan!" ketus Johan.
Hah! "Kenapa?" tanya Devan, tau si bosnya gak serius.
"Apa kamu lupa CCTV yang dipasang di setiap sudut rumah ku ada perekam suaranya?" tanya Johan.
gleg, mati aku! Apakah Johan me-rewind jadi kelihatan aku sering mengumpatnya di belakang.
Hehe, "Tentu saja, ingat." jawab Devan cengengesan.
"Lalu kenapa kamu berani menawarkan diri membantu Niah kabur. Berani kamu Devan, aku benar benar akan membunuh kamu."
Johan nada serius, Devan menciut. "Iya, baiklah. Aku tidak berani lagi, kalau kau ancam dengan hukuman mati." jawab Devan.
Dasar kucing goreng!
Devan hanya berani mengumpat dalam hati.
*****♥️
Jumpa lagi.👍
__ADS_1