
Sambil membersihkan lantai dua Karunia memutar otaknya, mencari jejak Johan yang bisa diambil untuk sampel.
Kalau rambut, kuku, darah, pasti susah. Sikat gigi, sisir atau alat cukur di mana bisa mendapatkan nya kecuali di kamar mereka. Kamar Dewi adalah satu satunya tempat yang tidak bisa aku masuki di rumah ini. Hm, pusing juga.
Dalam hati Karunia.
Dertt derrt deerrrt.
Ponsel di saku celana tiga perempat Karunia berbunyi. Lestari memanggil.
"Tari, ada apa?" Karunia menjawab panggilan.
"Ada apa? Kamu kenapa gak kabar sih, Niah!" Tari suara cempreng mengomeli Niah di ujung panggilan.
"Sorry, aku gak ingat haha." jawab Karunia santai tertawa.
"Kayaknya kamu betah deh, masih bisa tertawa." Tari nada sinis.
"Ada Bibi, ya betah. Lagian Lela mau lahiran, kecuali dipecat aku akan di sini dulu gantiin bibi."
"Malam ini fligt 20.00wib aku berangkat ke malaysia." jelas Tari to the point.
"Ngapain? Jadi warung kamu tutup, dong." tanya Karunia
"Ya tutup, gimana lagi. Anak majikan aku sakit, mereka memanggil ku merawat nya." jelas Tari.
"Wuih gila, bakalan jumpa dong sama anak kamu."
"Ya gitu deh."
"Di bayar berapa kali ini?" tanya Niah.
"Aku yang minta harga sepuluh kali lipat, balas dendam kemaren kemurahan itu. Masa kamu dapat lebih banyak dari aku, padahal aku udah hamil udah ngelahirin."
"Terus, deal?"
"Deal, udah depe tiga puluh persen."
"Cie, oke deh. Aku lagi repot, kamu berangkat dari Soeta? "
"Iya, ketemuan kuy."
"Hm, entar aku bilang majikan bisa gak nya, kamu dadakan sih!"
"Oke, ya dah sono mbabu lagi." Tari terkekeh.
"Kurang ajar, aku tutup bye."
"Bye, Niah."
"Cis." Karunia menatap ponselnya lalu kembali menyelipkan di sakunya.
Semoga aku diijinkan keluar.
~
Di lantai dua.
Biasa Dewi di dapur bantuin mbok Senah kali ini ia tidak ada gairah, mau kustum rasa malas menghampiri nya. Ponsel Dewi berbunyi, panggilan masuk nomor tak dikenal.
"Hallo." jawab nya.
"Dewi." suara di ujung panggilan.
Damien, Dewi melihat ponselnya, nomor berbeda.
"Aku khawatir, apa kamu baik baik saja?" tanya dari dalam telepon.
"Iya, aku baik. Kamu di mana Damien, nomor kamu berbeda.
"Di rumah. Masa sih, ini nomor yang sama."
__ADS_1
"Ha! Kenapa gak keluar nama?" tanya Dewi.
"Kamu menghapus nya." jelas Damien.
"Enggak ada ya."
Apakah Johan, kenapa gak blokir sekalian.
Batin Dewi siapa lagi kalau bukan suaminya itu punya kerjaan.
"El, merindukan mu." ujar Damien.
"Mana suaranya, tidak ada?" tanya Dewi.
"Apa suami kamu melarang kita bertemu?" Damien bertanya.
"Ah, tidak juga. Aku hanya sibuk program hamil." jawab Dewi.
Hm. "Begitu, semoga sukses dengan programnya."
"Amin, makasih Damien."
"Baiklah Dewi, jumpa lagi."
"Bye Damien." Dewi mendengar bunyi klik tanda sambungan diputus.
Nama Damien dihapus baiklah aku safe dengan nama Elfarrel.
*
Selesai dari lantai dua, Karunia ke dapur mau istirahat. Masih ada satu jam sebelum ngantar si Nyonya ke dokter.
"Jadi Shopie yang gantiin kamu niah?" tanya mbok Senah.
"Benar Bibi." jawab Niah malas.
"Memangnya kamu sakit apa Niah, makanya gak lulus sama Nyonya." tanya mbok Senah teringat 3 janda yang diseleksi.
"Kenapa tidak lulus sama Nyonya, bisa tidak kamu anggap Bibi sebagai ibu kamu. Jadi kamu jangan segan mau cerita apa saja ke Bibi."
Ujar Senah menyadari sikap Niah selama ini memang kurang terbuka mengenai pribadinya.
"Kalau ada masalah cerita, siapa tau bibi bisa bantu." lanjut mbok Senah.
Hm, bibi bisa bantu aku mengambil darah Johan buat sampel.
Jawab Karunia hanya berani dalam hati.
"Iya, nanti kalau ada." jawab Karunia, meneguk jus jambu batu sisa semalam.
"Aarrghhh, segarnya."
"Jadi kamu sudah dicerai sama Tuan?" tanya mbok Senah lagi
"Belum Bi." jawab Niah.
"Apakah si Shopie juga akan menikah dengan Tuan?" tanya mbok lagi, mulai kesal sama Niah, di tanya satu jawab setengah.
"Tentu saja Bibi." jawab Niah meneguk lagi jusnya, arrrhh.
"Bibi malas kalau si Shopie jadi Nyonya, pengen cepat cepat cuti."
"Jangan gitu dong, Bi. Masih ada waktu sampai bulan depan Bibi cuti, program hamil gak secepat itu. Banyak tahapan menurut yang Niah baca di website." jelas Karunia.
~
Jam 11.00 teng.
Karunia menunggu Dewi turun dari kamar nya. Tubuh kecil nya memakai Celana bahan hitam atasan oversize swithshirt dari merk ternama.
Dewi yang melihat nya, hanya bisa berdecak antara kagum dan kesal, Karunia lebih modis lebih muda dan lebih segar darinya.
__ADS_1
"Nyonya, apa saya boleh permisi antara jam 19.00wib sampai 21.00wi ke bandara ngantar teman." ujar Karunia.
"Hm, pergilah."
Dewi mengangguk gak banyak tanya, udah paham pembantu barunya ini high class.
"Terima kasih Nya." ucap Karunia.
Karunia membawa mobil ke kantor Johan, Dewi gak menyangka ternyata Karunia nyetir lebih halus dari supir kantor Johan.
Mereka akan menjemput Shopie. Shopie sudah menunggu di lobby, karena Dewi sudah menghubungi nya.
Dewi malas naik jumpa Johan, apalagi bawa Niah yang kian hari kecantikan nya kian bersinar.
"Asisten kamu serba bisa, Dewi." ujar Shopie sesaat menghenyakkan bokongnya di samping Dewi, sedikit kaget dia melihat karunia yang nyetir.
"Hm." Dewi hanya menarik ujung bibirnya.
"Kamu banyak gaya, kenapa jadi pembantu sih?" tanya Shopie gak tahan melihat Karunia.
"Hei kamu budek apa, orang nanya dijawab!"
Bentak Shopie menepuk bangku kemudi karena Niah diam saja. Karunia melirik dari spion.
"Memang kenapa, kalau pembantu dilarang gaya?" tanya Karunia ketus.
"Jangan jangan kamu ada niat jelek datang ke rumah Dewi, menyamar pura pura jadi pembantu."
"Tuan Devan sudah menyelidiki saya, kemana pun saya pergi pasti bisa ditemukan. Sudah, saya lagi nyetir jangan diajak bicara yang gak penting. Kamu mau neh mobil tabrakan?" sergah Karunia, sebel.
Cis, dengus Shopie memandang Dewi heran, kok diam aja pembantunya bersikap kurang ajar padanya.
Sementara Dewi memicit micit keningnya, berpikir keras. Bagaimana cara menyingirkan Karunia dari rumahnya.
Apakah artinya Johan juga mengawasi Karunia.
*
Di ruangan kantor Johan,
"Apa! Kamu akan menikahi Shopie!" seru Devan, saat bertanya kemana Shopie permisi setengah hari.
"Itu maunya Dewi, kalau lolos medikal hari ini." jawab Johan.
"Apa kamu sudah menceraikan Karunia?"
"Kenapa?" Johan balik nanya.
"Sudah belum?" tanya Devan.
Johan mendelik. "Aku tidak akan menceraikan nya Devan, ngerti." tegas Johan.
"Kenapa, bukankah Dewi gak mau dipoligami?"
Johan menggeleng, "Aku sedang mencari cara, agar Dewi ikhlas menerima Niah sebagai madunya."
"Kamu pikir Dewi akan luluh."
"Kalau dia gak bisa ikhlas sendiri, maka aku yang akan memaksa nya ikhlas."
"Cis, antara Dewi dan Niah siapa yang kamu pilih. Kalau Dewi, tetap gak luluh."
"Aku belum tau, masih ada waktu satu tahun untuk aku berpikir."
"Niah nyetir mobil sangat cantik seperti artis Korea." desah Devan.
"Apa katamu, Niah yang nyetir? Kenapa kamu gak bilang dari tadi, ayo kita susul mereka!" titah Johan, melempar dokumen di tangannya.
*****♥️
Likenya ya guys, 👍
__ADS_1