
Mobil Dewi yang dikendarai Barus sampai Mall ini, segera ia turun membuka pintu untuk Dewi.
Untuk menyenangkan hati wanita kadang dari hal yang kecil yang sering dianggap sepele oleh kaum pria, semangat Barus.
Dalam hati Barus meletak tangannya di atas kepala Dewi posesif agar tidak terantuk besi pintu mobil.
"Terima kasih, Om Barus," jawab Dewi, setelah El juga ikut turun dengannya.
"Sama sama Nyonya Barus, ups maaf sengaja," ucap Barus buru buru tersipu malu.
Dewi mendelik hah, menghela nafas pelan. "Barus, jangan suka bercanda pada perempuan kecewa yang lagi butuh sandaran, sementara kamu masih di mulut dia sudah sampai ke hati, gimana?" Dewi serius merenung Barus.
Hm, "Saya juga ingin serius tapi gak pede, hehe." senyum Barus imut sangat lucu pada pandangan Dewi mengingat tubuhnya yang keras dan kekar ternyata ada sisi lembut dan romantisnya juga.
Melihat interaksi Dewi dan Barus. "Eit, jangan merayu auntie. El bilangin Papa, entar Om di karate!" sergah El tiba tiba meninju perut Barus.
Arghh! Barus pura pura meringis, dia sudah sangat malu ditatap Dewi.
Hm, "Ayo El, Omnya sudah KO ditinju El."
Dewi menarik El diikuti Nanny, mereka berjalan menuju pintu masuk ke dalam Mall ini.
Hah!
Desah Barus memegang dadanya yang berdebar. Dari mobil di gerbang masuk Barus terlihat mobil Damien sedang mencari parkiran kosong disusul penampakan mobil Tuan Johan, oh.
Bukankah itu mantan suami Dewi...
mantan atau masih suami sih! Kalau masih suami kenapa tinggal terpisah..
Batin Barus teringat baru baru ini, tak sengaja ia ingin lewat tangga melihat Johan mencium Dewi paksa setelahnya Dewi menangis sesenggukan.
Au ah gelap.
Batin Barus menyusul Dewi setelah terdengar bunyi mobil dikunci otomatis.
*
"Apa El senang?" tanya Dewi menggandeng tangan El, ada Nanny dibelakang mereka.
Hm, angguk El menggenggam erat tangan Dewi.
Hm, senyum Dewi membayangkan program untuk dirinya sudah gak sabar pengen punya bayi sendiri.
Sabarlah Dewi, jadi singel mother itu gak gampang di masyarakat kita yang hidup di nusantara. Mulut botol bisa ditutup tapi mulut orang yang bergunjing sangatlah gak mungkin bisa disumbat. Apalagi WJ perusahaan besar, ini aja sudah banyak yang bergunjing tentang dirimu yang dapat hak istimewa dari asisten Yudi, ah.
*
Johan langsung turun dari mobil bahkan Devan belum mendapatkan parkiran khusus mereka, berlari menyusul Dewi terlihat mobil Damien juga sedang mencari parkiran.
"Hah, jadi dia mengumpan anak laki lakinya untuk merayu Dewi." kesal Johan ternampak Dewi yang menggandeng El dikawal Barus.
__ADS_1
Astaga, baru berapa hari aku melepas Dewi sudah banyak dikelilingi laki-laki.
Batin Johan menyelip diantara Dewi dan Barus di pintu masuk foodcourt.
Ah.
Dewi kaget ada yang menggenggam sebelah tangannya yang kosong.
"Barus," geram Dewi.
Dia kira Barus lancang menggenggam tangannya pakai remas remas lagi lalu menoleh terlihat wajah Johan tersenyum manis padanya.
"Mas Johan, ngapain kamu!" sentak Dewi, menarik tangannya.
"Iya, sayang. Kamu jalan jalan gak ngajak mas, sih." Johan tersenyum lembut pada Dewi seolah mereka masih suami istri.
El teringat Johan saat datang ke rumahnya marah marah menjadi ketakutan melepas tangan Dewi, mendekat ke Nanny meraih Tangannya. Nanny menggendong anak asuhnya, wajah El tersembunyi di bahu Nanny.
Melihat itu Dewi naik marah. "Mas, kamu menakuti nya?"
Dewi suara ditahan berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Johan namun Johan masih enggan melepaskan tangan Dewi.
Bahkan Johan menarik tubuh Dewi ke pelukannya. "Ingat sayang, sandiwara kita masih berjalan sampai program berhasil," bisik Johan di telinga perempuan yang sudah ditalak nya itu.
Hah! Desah dalam hati Johan, nyesal se nyesal nyesal nya.
"Hi," Johan menyapa El tersenyum melambai pada nya, ingin membuat El nyaman di dekatnya.
Damien telah pun menyusul mereka segera mengambil alih Nanny menggendong anak kesayangan nya.
"Hallo, Tuan Damien." Johan menyapa ramah tersenyum sok akrab.
"Hm," jawab Damien hanya bergumam, memandang kasihan pada putranya yang ketakutan.
Kenapa mas Johan jadi gak tau malu gini, ya.
Batin Dewi memandangi kasihan pada El yang ketakutan pada wajah pria yang pernah dikagumi nya itu.
Begitu juga Barus kasihan pada El, tangannya mengepal pengen nonjok Johan.
"Dewi, lain kali saja kita makan bersama." Damien tepaksa pamit enggak mau El semakin tertekan.
"Tidak mau, sekarang saja. El jangan takut, ada auntie sayang."
Dewi menyentak tangannya, Johan melepas nya. Dewi mengambil El dari gendongan Damien.
"Mas, tolong pergi lah!" Dewi masih menahan suaranya namun penuh tekanan sambil memeluk El di dadanya, melotot pada Johan.
"Sini sama om, aja." Johan mengambil paksa El dari gendongan Dewi.
"Kita main, yuk," Johan membawa El cepat cepat masuk ke arena bermain yang ada di depan foodcourt.
__ADS_1
Sesampai di dalam arena. "Mau main bola atau nembak burung?" tanya Johan pada El yang kelihatan mulai relaks di gendongan nya.
El menunjuk kereta api, satu satunya alat transfortasi yang belum pernah dinaiki El.
"Okey, kita beli tiket dulu ya,"
Johan tersenyum lembut memandang El mengusap wajahnya yang berkeringat dengan tangan lebarnya.
El mengangguk, berkurang sedikit rasa takutnya pada Johan karena rasa penasaran nya ingin naik kereta api.
Dengan cepat Devan mendapatkan tiket diborong semua kursi karena kalau menunggu penuh, kelamaan.
Jadilah Johan menemani El naik kereta api berdua, melambai sumringah pada orang orang di bawah.
Damien dan Dewi terpelongo, wajah El kelihatan sangat gembira.
"Papa Dami, bye bye." ucap nya tertawa riang setiap melewati Damien dan Dewi.
Johan mengedip mata pada Dewi, Dewi jatuh air mata.
*
Lee memacu mobilnya menuju Mall ini, ia sempat bertanya pada Barus tadi dan mendapatkan informasi bahwa Dewi akan makan malam dengan Tuan Damien beserta anaknya.
"Guru, apa guru menyukai Nyonya Dewi?" tanya Sabit penasaran sambil menggenggam pegangan mobil di atas kepalanya agar tidak terpental.
"Hm, entahlah. Aku hanya gak suka dia didekati pria lain." jawab Lee, terus fokus mengebut.
"Itu tandanya suka, ngapa berbelit belit sih. Langsung saja nembak nanti keduluan orang." ujar Sabit setengah menjerit.
"Dewi belum ketuk palu dan sepertinya dia belum mau menggugat. Kemungkinan masih trauma bagi Dewi untuk memulai hubungan baru, boleh dibilang masih ingin menikmati kesendirian nya. Jadi kalau aku nembak sekarang sudah pasti ditolak." jelas Lee sambil bawa mobil nyelip sana nyelip sini.
"Tapi setidaknya, nembak aja dulu. Soal diterima atau ditolak urusan belakangan, kan masih bisa berteman."
"Aku sih mau saja, tapi ayahmu itu seolah mencari alasan agar aku menjauh dari Dewi. Sama saja kan, orang kalau mau jadian itu harus dipepetin terus." jelas Lee kesal teringat Yudi
"Ha, bicara soal ayahmu. Apa kamu tau dia punya indra keenam?"
Hm, Sabit mengerut dahi gak ngerti.
"Aku rasa dia punya, kalau tidak bagaimana dia tau rahasiaku yang paling terdalam bahkan rahasia yang hanya aku dan Tuhan saja yang tau." Lee masih kesal.
"Benarkah? Wah.. hebat dong! Aku ingin seperti ayah kalau gitu."
Ck, Lee berdecak. "Bukan itu maksud ku, cepatlah kamu mahir. Kamu mau kan aku jadian dengan Dewi."
"Siap guru! Bila butuh bantuan sebut saja, dengan senah hati murid akan melaksanakan perintah guru,"
"Baiklah, aku pegang janji mu," ujar Lee memutar mobil masuk gate 1 Mall ini.
*******♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, 👍
Jangan lupa selalu like, Vote dan hadiah juga ya guys.