
Johan menurunkan Karunia dari pangkuannya, segera Karunia membenahi pakaiannya.
Johan beranjak ke meja kerjanya mengambil puding dan ponselnya.
"Tunggu di situ." Johan suara tegas saat Karunia hendak berdiri.
Ck, apalagi sih! Dasar lelaki mesum, tidak bisa dipercaya. Aku lapor Bu Dewi, baru tau rasa.
Johan kembali duduk di sofa yang sama dengan Karunia, meletakkan puding di depan perempuan belia itu. "Buka!"
Titah Johan menunjuk puding, walaupun merengut Karunia menurut meraih bekal puding lalu membuka nya.
Johan menekan satu tombol dari ponselnya, pintu terbuka. Wajah Devan tersembul melongo terkunci pada gadis di samping Johan.
Jadi ini Karunia, si asisten rumah tangga. Cantiknya serasa Nyonya, selera si Johan banget ini mah.
Dalam hati Devan menatap Johan, yang ditatap pura pura cuek sibuk dengan ponselnya.
"Masuk Devan, ngapain ganjel di pintu!" seru Johan tanpa melihat Devan fokus pada layar ponselnya, ada satu panggilan tak terjawab dari Dewi.
Devan melangkah masuk, menghampiri dua orang ikut gabung duduk di sofa sebelah yang kosong. Kedekatan duduk dua orang di depannya juga mengundang decak dari mulut Devan, ck ck ck ck ck.
"Johan, bukankah..."
Masih ada orangnya nanti sajalah.
Dalam hati Devan menyimpan rasa penasarannya melirik Karunia dengan ekor matanya.
"Johan, Dewi menelpon ku menanyakan kamu dan asistennya. Kenapa di antara kalian tidak ada yang mengangkat panggilan nya?" tanya Devan.
Hm, Johan hanya bergumam. Sudah tau, itulah maksudnya.
Karunia ikutan memeriksa ponselnya, tidak ada panggilan masuk.
Lagian kapan Nyonya minta nomor padaku, mungkinkah dari bibi.
Batin Niah. "Tuan saya pulang, Nyonya udah nyariin. Ini pudingnya, silahkan dimakan."
Karunia mendorong wadah puding ke depan Johan lalu berdiri, lagi lagi Johan menahan nya.
"Duduk dulu!" titah nya meraih tangan Karunia sehingga janda kembang itu terduduk lagi di sofa tepat di samping Johan.
Tanpa melepaskan tangan Karunia, Johan menelpon Dewi dengan tangan satunya.
Apa ini yang membuat wajah Shopie merengut seperti mau nangis.
Dalam hati Devan menatap aneh pada Johan, pede sekali bersikap romantis di depannya pada seorang pembantu. Sedangkan pada Dewi maupun Shopie tidak gini gini amat.
"Hm." terdengar Johan menjawab panggilan.
"Mas, apa Karunia sudah sampai? Aku hubungi ponselnya tidak diangkat, kamu juga!" Dewi di ujung sambungan nada resah lebih kepada marah.
"Aku tidak dengar sayang, ponsel nada silent. Niah ada bersamaku dan Devan, aku sedang menginterogasi asisten mu ini. Mungkin karena ketakutan makanya dia juga tidak dengar ponselnya berbunyi." bohong Johan dengan lancar.
"Mas interogasi apa, sampai Niah ketakutan?" tanya Dewi lagi.
__ADS_1
"Tentu saja tentang mantan suaminya, sayang. Aku sudah selidiki, dia ini banyak sekali rahasia dan juga banyak uang. Aku hanya penasaran kenapa dia masih mau jadi pembantu."
Hah! Dasar pembohong, kasihan Nyonya.
Desah Karunia yang mendengar menyentak tangannya dari genggaman Johan.
Devan memperhatikan ekspresi di wajah Karunia, mengerti bahwa Johan telah mengkambing hitamkan perempuan ini sebagai alasan.
Apa yang disembunyikan Johan bahkan padaku tidak mau cerita.
"Sudah dulu sayang, nanti di rumah kita bicarakan lagi." ujar Johan menutup panggilan.
"Benarkah cuma itu."
Gumam Dewi di ujung panggilan mulai gelisah, tak mampu menahan rasa cemas dan cemburu. Ada rasa sesal dengan keputusan nya yang terburu buru meminta Johan menikahi Karunia.
Bagaimanapun mereka halal melakukan apapun, curiga atau marah pun tidak berguna. Kenapa aku menangis.
Dewi mengusap wajahnya yang tiba tiba basah.
~
"Apa yang kau pikirkan, Devan?" tanya Johan menegur Devan yang terdiam memandang Karunia lebih tepatnya terpesona.
"Aku tidak akan bertanya tapi kalau kamu ingin cerita dengan senang hati aku akan mendengarkan." jawab Devan, ponsel Johan kembali berbunyi pesan masuk dari Dewi.
Dewi : "Mas, siang aku dan Karunia mau ke dokter, kirim segera Niah pulang." tulis Dewi di pesannya.
"Baiklah sayang, aku sendiri yang akan mengantar nya. Kita jumpa di tempat praktek dr. Bagus, minta Sopir mengantar kamu." balas Johan.
"Baiklah, Johan. Bicara tentang pulau reklamasi aku sudah cek, jet pribadi Wijaya Group Air akan mendarat di Soeta dua minggu dari sekarang." jelas Devan.
"Artinya saat itu, kemungkinan Yudi akan berada di Jkt." lanjut nya.
"Baiklah Devan, atur pertemuan dengan nya." titah Johan.
"Oke, apa aku tidak diperkenalkan pada nya?" Devan nada menyindir mengerling Karunia.
"Niah, ini asistenku. Kamu jangan dekat dekat dengannya nanti kamu ketularan penyakit rabies." ujar Johan memperkenalkan Devan pada Karunia.
Ck, "Sadis." gerutu Devan mengulurkan tangannya pada Karunia. "Hi, aku Devan." sapa nya.
Johan menepis tangan Karunia yang terulur, gantinya Johan menyalam Devan. "Aku Johan." ucap nya terkekeh.
"Niah istriku Devan, aku beritahu kamu!" ketus Johan, melotot pada Devan sebagai ancaman agar jangan mengganggu Karunia.
Hah! Devan mendelik, "Kapan kalian nikah Johan, kenapa aku tidak diberitahu?"
"Semalam, Dewi yang maksa. Maaf aku tidak sempat memberitahu kamu."
"Sialan kamu Johan, jadi semalam kamu makan malam lezat." Devan sarkas.
"Tidak Devan! Dewi ingin punya bayi, Niah akan menggantikan nya mengandung anak kami maksudku anak aku dan Dewi." jelas Johan.
"Batalkan meeting tengah hari, aku mau ngantar Istri istriku konsultasi." titah Johan.
__ADS_1
Cis, "Apakah aku ikut mengantar ataukah kamu nyetir sendiri?" tanya Devan.
Hm, "Kita ke rumah sakit dokter Bagus, kamu ikut antar Devan! Mulai sekarang aku akan memakai jasanya jangan beritahu Mama. Ini rahasia, juga Shopie kamu awasi dia."
Jadi benar Tuan ada hubungan dengan sekretaris nya, kasihan sekali Nyonya Dewi.
Desah dalam hati Karunia.
"Oke Johan." jawab Devan.
Apa itu artinya setelah Karunia melahirkan Johan akan menceraikan gadis cantik nan polos ini, mungkinkah?
"Kamu, suapin aku makan puding!" titah Johan pada Karunia.
Uwek!
Mendengar nya Devan mau muntah segera bangun berdiri keluar dari ruangan Johan.
"Devan pesan makan siang, aku dan Karunia makan dulu sebelum ke dokter." titah Johan saat Devan masih di pintu.
"Siap, Bos." Jawab Devan menutup pintu ruangan Devan.
Di depan pintu Johan yang tertutup Shopie mencegat nya. "Devan, apa itu perempuan yang dikontrak Dewi untuk melahirkan anak Johan?" tanya nya.
"Hm." Johan mengangguk, seketika air mata jatuh sudut mata Shopie.
"Akhirnya dia mencampakkan aku seperti bungkus keripik kentang." gumam Shopie, masih bisa di dengar Devan.
Prufh!!
Devan tak kuasa menahan geli mendengar ucapan perumpamaan Shopie.
What! Bungkus keripik kentang masih terlalu bagus, bungkus belacan lebih cucok.
"Kamu jangan mengharap lebih dari Johan, Shopie. Kamu yang menjatuhkan harga dirimu di depannya, dia dulu menolak mu tapi kamu yang maksa minta dijadikan jalang olehnya." Devan nada sinis tak perduli dengan kesedihan hati Shopie.
Shopie mendelik mendengar Devan yang sekarang jadi berani menyebut nya jalang.
Itu artinya aku benar benar sudah dibuang.
"Jangan ganggu gadis yang bersama Johan, Dewi yang menikahkan mereka." lanjut Devan lagi melihat raut penuh dendam Shopie
"Gadis!?" tanya Shopie menatap heran.
"Bukan urusan kamu, gadis atau janda. Aku ingatkan ini juga peringatan dari Johan, agar mengawasi kamu jangan sampai mengganggu Karunia!" tegas Devan berlalu dari hadapan Shopie.
"Jadi namanya Karunia." gumam Shopie kembali duduk di kursi kerjanya mengambil alat manicure nya.
Tidak ada yang dilakukan nya selama jadi sekretaris kecuali jadi pajangan dan berdandan agar Johan tidak bosan memakai nya.
Nyatanya aku terbuang juga, cepat atau lambat aku akan dipecat. Beruntung apartemen atas namaku, jadi aku tidak harus tidur di jalanan.
Hah! Shopie manarik nafas kasar.
***♥️
__ADS_1
Jumpa lagi, jangan lupa like ya guys. 👍