Manisnya Madu

Manisnya Madu
19


__ADS_3

Di ruang tamu.


"Hai, Dewi." Shopie, tersenyum canggung.


"Hm." gumam Dewi menarik ujung bibirnya.


"Kamu dengar apa yang dikatakan pembantu kamu barusan?" tanya Shopie dengan muka berang.


"Perkataan apa, Shop?" Dewi balik nanya, pura pura gak ngerti duduk di samping Shopie.


"Oh, ya sudah. Aku kesal dibuat pembantu kamu Dewi, jutek amat. Saat di kantor aku nanya dia baik baik, jawaban nya selalu ketus." keluh Shopie.


"Memangnya kamu nanya apa, Shop?" tanya Dewi juga penasaran.


Gleg, Nanya apa?


Batin Shopie tiba tiba teringat ancaman Devan, jangan ganggu Niah. Sama saja aku menantang Johan.


Entar si Dewi ngomong ke Johan lagi lalu anak itu jawab dan ngadu ke Johan, jadi panjang urusannya. Ah, gimana ini? Barusan aku mau masuk ke rumah ini, bisa langsung di tendang lagi sama si Johan.


"Ah, sudahlah tidak penting juga. Aku maklum kok, dia masih bocah, hehe." jawab Shopie, tertawa sumbang.


Hm, Shopie jelas jelas bukan bahaya yang mengancam karena Johan tidak menyukai nya. Walaupun Niah tidak, atau belum menyukai Johan, melihat kenyataan Johan menyukai Karunia dan anak itu masih istri sah Johan bisa saja lama lama anak itu luluh. Maka, Niah lah sebenarnya yang merupakan ancaman bagiku.


Batin Dewi balas tersenyum pada Shopie.


Kalau diibaratkan Shopie dan Niah seperti anjing dengan kucing biarkan mereka saling menggigit satu sama lain. Apa yang harus aku lakukan untuk mempertahankan rumah tanggaku tanpa ada orang ketiga...


~


Sementara Dewi dan Shopie di ruang tamu saling menatap, Karunia nguping di balik dinding sembunyi di dalam gorden. Mbok Senah yang melihat, geleng kepala.

__ADS_1


"Ei, kamu buat teh untuk Tuan, antar ke ruang kerja." bisik mbok senah hampir tak bersuara.


Karunia menepuk jidatnya, astaga! "Hehe." dia tertawa keluar dari dalam gorden menuju meja dapur segera membuat teh.


~


Di ruang tengah, "Ehm ehm." Dewi berdehem.


"Baiklah Shopie, kamu baca dulu. Kalau kamu setuju, nanti aku kirim lewat email biar kamu bisa tanda tangan." Dewi to the point.


Shopie meraih tablet, membaca point perjanjian satu persatu, seketika dahinya berkerut.



Pihak kedua yaitu Nona Shopie akan tinggal dengan pihak pertama sampai bayi lahir namun tidak ada hubungan badan dengan suami, pembuahan hanya melalui transfer embrio.





Semua biaya yang berhubungan dengan ibu dan kembang tumbuh janin akan ditanggung oleh Ibu Dewi selaku pihak pertama.




Setelah bayi lahir, pihak ke dua yaitu Nona Shopie akan mendapat kompensasi sebesar 1M. Saat kelahiran bayi saat itu juga jatuh talak, maka antara suami dan pihak kedua dinyatakan telah sah bercerai. Kontrak berakhir, pihak kedua tidak boleh lagi muncul dalam kehidupan keluarga pihak pertama.


__ADS_1



Karena pihak kedua juga merupakan karyawan di perusahaan keluarga, maka pihak kedua akan diberhentikan dari jabatannya dan akan mendapat uang pesangon dan gaji dibayar dua kali.




Hah, Shopie menahan geram, ini benar benar keterlaluan.


Melihat raut wajah Shopie, "point mana yang kamu keberatan?" tanya Dewi.


Ada point satu.


Jawab Shopie tapi cuma dalam hati.


Hm, tidak ada jalan lain Shopie. Ini adalah gang yang sempit namun kalau kamu bisa menerobos masuk, siapa tau di depanmu ada jalan terbuka lebar.


Hehe, "Tidak ada Dewi, cuma kompensasi melahirkan bisa tidak di tambah seumpama aku melahirkan bayi kembar." ujar Shopie.


"Hm, tentu saja. Harga ini harga satu bayi. Jika seandainya lahir sepuluh bayi kamu kalikan saja." jelas Dewi.


Wow, seberapa kaya sih si Dewi ini. Belum lagi biaya program hamil bisa makan biaya ber-em em.


Batin Shopie semakin semangat untuk mendapatkan bayi dan Johan tentunya.


*****♥️


Hi, bab sebelum nya ada revisi maklum laptop othor lagi sakit, jadi othor nulis nya langsung di Platform. Silahkan dibaca ulang ya, kalau enggak juga gpp masih nyambung kok.


Jangan lupa like nya, jempol kalian sangat berarti bagi othor karena othor ngetik juga pakai jempol doang, 👍

__ADS_1


__ADS_2