Manisnya Madu

Manisnya Madu
9


__ADS_3

"Kamu sudah bangun, Niah." sapa Dewi.


"Iya nyonya, maaf saya ketiduran." ucap Karunia segan.


"Tidak apa apa, kamu tentu capek di bus. Ayo, aku kenalkan pada suamiku." ajak Dewi menarik tangan Karunia tidak lagi menggunakan bahasa formal.


Karunia memandang mbok Senah, mbok Senah memandang Karunia menarik ujung bibirnya tersenyum dikit. Dewi sudah memberitahu niatnya pada mbok Senah, Mbok Senah menyerahkan pada Karunia ketika Dewi meminta persetujuan darinya.


Di ruang tengah.


"Mas, kenalin ini Karunia yang aku ceritakan tadi." Dewi menghampiri suaminya.


Johan menoleh, sebenarnya ia tadi sudah melirik Karunia sekilas saat terdengar suara salah satu pintu kamar tamu bawah ada yang membuka yang bisa di lihat jelas dari ruang tengah.


Sedikit terperangah juga Johan melihat Karunia, ia jadi teringat seseorang pada jaman dahulu kala.


Karunia menunduk hormat pada Johan, Johan membalas dengan anggukan. "Kita makan saja dulu, nanti saja membahas nya." usul Johan berdiri dari sofa.


"Ya udah, ayo Niah." Dewi tak lepas menggandeng tangan Karunia menuju ke ruang makan.


Johan menyusul, pandangan nya tak berkedip pada lekuk tubuh Karunia dari belakang. Gaun selutut menampakkan betis mulusnya, rambut diikat ekor kuda menampakkan leher jenjang dan halus.


Nama yang sama wajah yang serupa, aku jadi penasaran dengan isi di dalam bajunya apakah sama dengan Karunia yang dulu dan yang lebih penting apakah mereka ada hubungan.


Batin Johan akan segera melakukan penyelidikan siapa gadis yang di gandeng istrinya ini. Walaupun ia yakin mbok Senah mengenali Ibu Karunia, karena mereka dulu sama sama bekerja di rumah orang tuanya. Namun Johan tidak akan mengorek dari pengasuhnya itu lebih baik ia mencari informasi dari profesional hacker.


"Ayo duduk Niah."


Dewi ingin menarik bangku untuk nya, segera Niah menahan tangan Dewi.


"Biar saya saja, Nyonya." ujarnya gak enak hati.


"Sayang duduklah di sini." panggil Johan menarik bangku untuk Dewi ia sendiri duduk di samping istrinya, tepat di depan Karunia. Tak lupa Dewi melirik suami nya, ingin melihat reaksinya.


Apa aku gak salah lihat seperti nya Mas Johan menyukai gadis belia ini, belum pernah Johan merasa canggung di depan perempuan. Apalagi ini hanya seorang pembantu ia juga tidak keberatan makan bersama.


Dewi membatin, "Makan yang banyak Niah, jangan segan segan ya."


"Hm." Niah mengangguk.


Gimana gak segan, ada Om ganteng di depan mata.


Batin Niah akhirnya selesai juga acara makan, segera ia menarik nafas lega sesaat Johan berdiri dan beranjak dari depannya.


Niah membantu mbok Senah membereskan meja tidak ketinggalan Dewi juga ikutan, ia ingin lebih gencar lagi merayu Karunia.


Aku harus bertindak cepat.


Batin Dewi, sementara Johan ke ruang kerjanya membaca profil Karunia.

__ADS_1


Di ruang santai dapur bertiga Dewi, Mbok Senah dan Karunia duduk istirahat menikmati potongan buah semangka dan pepaya setelah membereskan meja dan alat alat makan.


"Bagaimana Niah, kamu mau kan menolong aku." Dewi to the point nada memohon.


Karunia memandang Bibinya Senah, kelihatan Mbok Senah mengangkat bahu tersenyum kaku.


Hm, Karunia menarik nafas dalam. "Baiklah Nyonya, saya bersedia." jawab nya tanpa pikir panjang lagi setelah melihat suami si Nyonya Dewi ternyata orangnya sangat tampan.


"Alhamdulillah." ucap Dewi tersenyum lebar bergantian memandang Karunia dan mbok Senah.


"Ayo Niah, kita ke ruang kerja memberitahu suamiku, ini berita gembira." ajak Dewi bersemangat.


"Mbok nanti antarkan makanan ringan ya, jika pembahasan agak lama." Dewi berpesan pada si mbok.


"Iya, Nyonya." jawab Mbok Senah.


*


Di ruang kerjanya, alangkah terkejutnya Johan mengetahui bahwa Karunia memang putri dari pembantu di rumahnya dahulu kala.


Dulu Johan pernah bandel saat masih SMA, pada pembantunya yang paling cantik bernama mbak Karunia. Ia suka ngintip mbaknya itu mandi setelah itu ia berfantasi dan melakukan mastura basi. Bahkan mimpi mimpi malamnya selalu bersama mbak Karunia yang cantik dan seksi.


Entah sebab apa tiba tiba si mbak nya menghilang, Johan bertanya pada Mamanya dan mendapat jawaban yang membuat ia bersedih. Ternyata si mbak sudah tidak bekerja karena harus menikah di kampung dengan pria yang sudah dipilihkan orang tuanya.


Johan sangat frustasi mencari sampai ke kampung yang disebutkan Mamanya namun tidak menemukan mbak Karunia ada di sana, akhirnya Johan menyerah mencari apalagi setelah tamat SMA dia dikirim kuliah ke UK.


Kepergian mbak nya dulu menjadi tanda tanya besar di hati Johan hingga kini ada yang mengganjal di hatinya. Soalnya mbak Karunia nya baru saja beberapa bulan masuk kerja dan masih terikat kontrak dengan keluarga nya. Lalu kenapa Mama melepas nya lebih tepatnya mengusir nya.


Kenapa mbak Karunia nya menamai putrinya dengan nama yang sama dengan dirinya.


Namun mau bertanya sudah tidak ada kesempatan lagi, karena ibu Karunia yang tenyata mbak Karunia nya sudah meninggal 4 tahun yang lalu, hah!


Dalam Johan termenung, pintu ruang kerjanya dibuka tanpa mengetuk dulu. Dewi melenggang masuk membawa Karunia bersama nya.


Dewi mengernyit melihat tatapan suaminya yang sayu. "Mas, Karunia sudah setuju meminjamkan rahimnya." Dewi tersenyum lebar, mereka berdua berdiri di hadapan meja kerja Johan.


"Begitu! Sebaiknya Mama jangan diberitahu dulu, nanti saja setelah bayinya lahir." pesan Johan nada tegas, ia khawatir Karunia tiba tiba hilang lagi seperti dulu.


Hm, "Baiklah Mas, Niah ayo duduk." Dewi membawa Niah duduk di Sofa tak lupa membuat panggilan pada Mbok Senah dan suaminya.


Dewi menghampiri Johan. "Mas buatkan surat perjanjian dong."


"Baiklah sayang." jawab Johan, membuka laptop nya.


Gak lama Mbok Senah dengan membawa nampan cemilan bersama suaminya masuk ke ruang kerja Johan, surat perjanjian juga sudah selesai di print.


"Duduk lah, mbok." Dewi mempersilahkan.


"Niah, kamu baca dulu surat perjanjian nya." Dewi menyerahkan selembar copy-an yang berisi surat perjanjian pada Karunia dan satu lembar untuk dirinya.

__ADS_1


Karunia membaca point perjanjian, tidak ada yang merugikan nya. Selain dapat uang 1.5 milyar dia juga akan mendapat gaji bulanan, semua biaya hidup Karunia di tanggung Nyonya Dewi sampai ia melahirkan.


Statusnya tetap sebagai pembantu di rumah Johan. Setelah bayi lahir, hubungan mereka pun berakhir. Karunia tidak boleh lagi muncul di hadapan mereka dan melupakan bayinya toh benihnya juga dari Dewi dan Johan.


Mbok Senah hanya diam tak bersuara.


Kenapa nasib Karunia selalu berakhir dengan pernikahan kontrak, Sudah dua kali setelah ini, semoga Niah mendapatkan jodoh sejatinya.


Do'a dalam hati Senah.


Diputuskan malam ini juga, Johan dan Karunia menikah siri dengan hakim sebagai wali dan suami mbok Senah sebagai saksi.


Tidak ada riasan maupun photo sebagai dokumentasi hanya selembar kertas surat keterangan tanda mereka sah sebagai suami istri.


Karena menikah hanya formalitas, tidak ada istilah malam pertama bagi Johan dan Karunia. Johan tetap tidur di pelukan istrinya dan Karunia tidur sendirian di kamar tamu.


"Niah." panggil mbok Senah.


"Iya." jawab Niah yang berbaring malas di kasur nya memeluk guling.


"Apa kamu masih belum ingat masa sebelum tabrakan itu?" tanya Bibi nya, Senah yang duduk di sisi tempat tidur.


Karunia menggeleng tanpa menoleh, hm mbok Senah menarik nafas berat.


"Niah." panggil nya lagi.


"Iya, Bi." tanya Niah kali ini ia menoleh pada mbok Senah.


"Bibi beritahu, dulu waktu seusia kamu. Ibu kamu pernah bekerja di rumah Mama nya Tuan Johan entah kenapa ia dipecat. Ibumu juga gak mau cerita, alasannya mau nikah sama ayahmu padahal dia dulu paling benci sama ayahmu." jelas mbok Senah.


Karunia yang mendengar mengerut dahi. "Kalau Nyonya besar datang kamu sembunyi saja di kamar Niah, siapa tau dia masih ingat dengan wajah ibumu. Kalian sangat mirip dan Nyonya tidak menyukai ibumu." lanjut Senah, teringat saat Nyonya marah besar pada ibu Karunia saat terakhir sebelum ia diusir.


Kenapa dia memberi nama yang sama dengan namanya pada putrinya, batin mbok Senah.


***


Keesokan hari pagi pagi Karunia bangun, mulai melakukan tugasnya sebagai pembantu.


Mbok Senah memberi nya tugas mencuci pakaian dan menyetrika, menyapu dan mengepel lantai atas. Kamar Tuan dan Nyonya tidak perlu karena Nyonya Dewi sendiri yang akan melakukan nya.


"Niah." panggil Dewi.


Karunia menoleh lalu menunduk pada kedua majikan nya, kelihatan Johan sudah rapi mau berangkat kerja. "Saya Nyonya." jawab Karunia.


"Habis makan siang kita ke dokter, siapkan waktu kamu."


"Baik, Nyonya." jawab Karunia.


***♥️

__ADS_1


Teruntuk readers, jangan lupa like ya guys, 👍


__ADS_2